Menyaksikan Asia Tri di Omah Petroek

Rina Takahashi, Jepang
Lihat Galeri
5 Foto
Rina Takahashi, Jepang
Menyaksikan Asia Tri di Omah Petroek
Rina Takahashi, Jepang

© Eko Susanto

Pager Bumi
Menyaksikan Asia Tri di Omah Petroek
Pager Bumi

© Eko Susanto

Nishimonai Bon Odori, Jepang
Menyaksikan Asia Tri di Omah Petroek
Nishimonai Bon Odori, Jepang

© Eko Susanto

Mother Earth, Mila Art Dance
Menyaksikan Asia Tri di Omah Petroek
Mother Earth, Mila Art Dance

© Eko Susanto

Mother Earth, Mila Rosinta, Jogjakarta
Menyaksikan Asia Tri di Omah Petroek
Mother Earth, Mila Rosinta, Jogjakarta

© Eko Susanto

Seandainya pada malam pertama tidak turun hujan mungkin saya sudah duduk di depan panggung di Omah Petroek, di Desa Karang Klethak, menyaksikan pertunjukan Asia Tri 13. Saya urung berangkat pada malam pertama karena hujan turun begitu deras. Sebenarnya, saya sudah dikabari oleh teman yang sudah di depan panggung bahwa pada pukul 20.30 wib hujan sudah mulai berhenti namun, energi saya untuk pergi ke Omah Petroek sudah luruh karena jauh harus mengendarai sepeda motor menuju ke kaki merapi, lokasi Asia Tri tahun ini.

Asia Tri digagas oleh seniman tiga negara yakni: Yang Hye Jin dari Korea Selatan, Soga Masaru dari Jepang, serta Bambang Paningron, dan Bimo Wiwohatmo dari Indonesia. Namun Asia Tri tidak menutup pintu bagi seniman mancanegara untuk tampil di panggung yang dihelat hingga ke-13 kalinya ini. Pada gelaran yang ke-13 ini menampilkan seniman dari berbagai negara seperti dari Singapore, Srilanka, Taipei, Jepang, dan Indonesia sebagai tuan rumah. Napas panjang perhelatan seni pertunjukan ini sangat kuat sehingga mampu secara konstan berjalan hingga 13 kali, artinya 13 tahun mereka rutin mengadakan pertunjukan.

Saya datang pada malam kedua dan yang akan tampil adalah seniman Nani Topeng Losari asal Cirebon, Rina Takahashi dan Nishimonai Bon Odori dari Jepang, Rupbiny dari Singapore, dan Indonesia diwakili oleh Windarti Dance dari Solo, serta Garin Nugroho yang menyutradarai Pager Bumi: Jalan Sunyi Manusia Jawa.

Saya beruntung memaksakan diri untuk datang pada malam kedua walau gerimis masih turun karena hasrat ingin menonton lebih kuat dari gerimis yang menghambat. Saya datang menjelang pertunjukan dimulai. Panggung terbuka di Omah Petroek di bawah naungan pepohonan rindang. Lantai panggung tentu saja basah akibat hujan. Di depan panggung tertata beberapa kursi ditata di bawah naungan tenda. Saya memilih berdiri di sisi kiri panggung karena terlambat datang bagian depan sudah diduduki oleh para fotografer.

Pager Bumi, Indonesia
Pager Bumi, Indonesia | © Eko Susanto

Panggung gelap saat penampil pertama hendak memulai pertunjukan. Saya sempat terpukau oleh tata suara yang merdu di telinga. Tata cahaya juga tertata dengan baik dan memanjakan para pemotret. Apalagi saat Nani dari Cirebon membawakan Tari Topeng Losari yang membuat saya ndomblong karena kagum. Gerakannya rancak. Trengginas. Berpadu dengan musik yang menghentak membuat hati saya bergetar. Nuansa gerimis dan ritmis gerak Nani dan kawan kawan di atas panggung membuat “orgasme” para Fotografer. Bagi saya, menonton pertunjukan seni, baik musik maupun tari merupakan santapan rohani selain wejangan ulama dan membaca buku. Menonton tarian yang disajikan secara sempurna memberikan kepuasan yang susah untuk dijabarkan dengan kata kata. Nyaman. Tentrem.

Berbeda dengan Nani yang rancak dan trengginas. Penampilan kedua Rina Takahashi dari Jepang sangat lembut. Menghanyutkan. Gerakannya pelan sambil memainkan kipas kemudian dilanjutkan dengan menari memainkan payung. Pas sekali karena gerimis sesekali masih turun menambah suasana menjadi tentrem. Saya berkali kali bilang ke Pak Ong Harry Wahyu yang berdiri di sebelah saya: Apik banget iki, Pak Ong. Pak Ong menjawab: Iya e. Jian.

Berkali kali pula seperti tak kenal puas saya memotret Rina Takahashi memainkan payung. Menikmati Rina Takahashi seperti saya menikmati kretek dan kopi pada sore yang gerimis, sambil mendengarkan Heaven and Earth-nya Kitaro. Syahdu.

Rin Takahashi, Jepang
Rin Takahashi, Jepang | © Eko Susanto
Nishimonai Bon Odori, Jepang
Nishimonai Bon Odori, Jepang. | © Eko Susanto

Puncak pertunjukan malam kedua berada di akhir pertunjukan yakni Pager Bumi: Jalan sunyi Manusia Jawa. Sebuah pertunjukan lintas disiplin mulai dari teater, musik, serta tari dengan unsur tradisi yang menyatu dalam sebuah sendratari. Pertunjukan ini berlatar abad 19 yang penuh dengan keriuhan dan gemuruh perubahan jaman yang terjadi pada tanah Jawa pada abad 19 saat Jawa tengah dijajah oleh kapitalisme dari Eropa.

Diawali oleh seorang penabuh kendang yang masuk panggung mengenakan topeng merah menari dengan trengginas. Ia berhenti sejenak di tengah panggung lantas berteriak “Arak-arakan Yo!” lalu dari belakang sisi kanan panggung muncul serombongan orang keluar menyambut pemain kendang. Seorang perempuan di depan membawa persembahan sambil menaburkan kembang, dan di belakangnya seorang kstaria beserta istri dan seekor hewan penjaga diikuti rombongan lainnya. Di latar panggung terdapat enam penari berbusana seperti penari Angguk yang membawa pecut membuat suasana menjadi ramai dan gembira. Pecut-pecut itu disabetkan seperti pada pemain kuda lumping yang menyabetkan pecutnya.

Semua penari menyambut bunyi pecut dengan riang dan gembira. Namun yang paling menonjol dari rombongan itu adalah perempuan yang memerankan istri kstaria yang menari secara perlahan kemudian membuka bajunya. Awalnya ia menari dengan tenang namun seperti kesurupan ia mulai menggerakkan seluruh tubuhnya dengan cepat namun berirama. Ritmis. Sang ksatria di depannya menyambut dengan gagah dan antusias. Mereka berdua menari seperti manunggal. Perlahan keduanya mengenakan topeng dan sang istri mengenakan seikat padi kering yang disunggi di atas kepalanya. Musik tiba tiba mengalun tenang menghanyutkan gerak ksatria dan istrinya dalam tarian yang tenang. Serempak dengan tarian penari latar yang ajeg dan tenang. Namun sang hewan penjaga menari dengan liar mengelilingi panggung, sangat kontras dengan tarian yang lainnya. Tak lama kemudian sang istri mengambil obor dan menyemburkannya ke udara menciptakan bunga api yang menyala membara.

Pager Bumi- Jalan Sunyi Manusia Jawa, Indonesia
Pager Bumi- Jalan Sunyi Manusia Jawa, Indonesia | © Eko Susanto
Pager Bumi, Garin
Pager Bumi, Garin | © Eko Susanto

Garin Nugroho menciptakan Pager Bumi mengajak koreografer Bimo Wiwohatmo dengan penata artistik Ong Hary Wahyu. Sedangkan tiga pemain utama adalah Nungki Nur Cahyani, Anter Asmorotejo, dan Anggono Kusumo. Musik oleh Bagus Mazasupa.

Dahaga saya malam itu menonton tari di Asia Tri sangat terpuaskan. Malam ketiga Asia Tri menampilkan Mila Art Dance, Ayu Laksmi (Bali), Malang Dance, Demzel Art Gesture dari Jogja, Ayu Permata Dance Company dari Lampung, Belle Ballet Surabaya, Kiki Rahmawati Jogja, dan Satrio Ayodya juga dari Jogja. Sayangnya malam ketiga saya hanya sempat menonton Mila Art Dance karena ada tugas lain yang tidak bisa saya tinggalkan.

Semoga tahun depan saya bisa menyaksikan Asia Tri sepanjang malam karena pertunjukan seni menenangkan hati dan memuaskan hasrat saya memotret.

Eko Susanto

Fotografer partikelir, penikmat kopi robusta.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com