Menutup Doa di Imah Kopi

Imah Kopi
Imah Kopi, kedai kopi yang terdapat di Lembang, Bandung. © Anggara Gita Arwandata

Ketika lelah dan atau mendapat masalah, jangan pernah lupa berdoa,” ibuku hening beberapa saat, lalu melanjutkan petuahnya, “secangkir kopi setelahnya akan menyempurnakan.

Februari yang basah. Hujan hadir serupa wajah mantan, ada terus siang dan malam. Sebagai buruh yang mencari nafkah di ibukota, Jakarta, saya cukup merasakan efek dari musim penghujan. Banjir dan macet yang bersetia kepada hujan, membuat lelah tubuh meningkat dibandingkan hari-hari biasanya.

Goa Maria Lembah Karmel di Lembang, Bandung, menjadi pelarian akhir pekan, setelah penat dan basah kuyup selama hari kerja. Tol Cipularang lumayan padat hari itu. Tiga jam perjalanan Jakarta-Bandung cukup menguras tenaga saya.

Kurang lebih 1.5 jam berkeluh kesah dalam doa, kedua mata saya sibuk menatap mesin pencarian di telepon genggam untuk menentukan persinggahan selanjutnya. Waktu sudah menunjukan pukul 2 siang, saatnya mengisi perut yang kian keroncongan. Ketimbang mencari rumah makan yang menyediakan kopi, saya lebih suka memilih warung kopi yang menyediakan kuliner mengenyangkan seperti nasi atau roti.

Imah Kopi, akhirnya menjadi pilihan. Untuk ukuran wisatawan yang buta daerah setempat seperti saya, lokasi Imah Kopi terhitung mudah ditemukan. Dengan bantuan mesin navigasi, Waze, saya tiba di tempat parkirnya yang cukup luas, tanpa tersasar. Letaknya kurang lebih 10-15 menit dari Goa Maria Lembah Karmel.

Imah Kopi
Suasana seakan rumah sendiri. Imah Kopi menjadi jujugan pas untuk mengusir penat dan lelah. © Anggara Gita Arwandata

Selain kopi, Imah Kopi juga menyediakan makanan berat seperti croissant, tom yum, sampai nasi kebuli. Untuk kopinya sendiri, Imah Kopi menawarkan berbagai kopi olahan seperti kedai kopi kekinian lainnya. Namun jika kita berada di Lembang, yang banyak terlihat justru kedai kopi yang menyajikan kopi tubruk sebagai teman menikmati jagung bakar. Imah Kopi hadir berbeda dari kebanyakan kedai kopi di Lembang.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada kedai bintang lima semacam Starbucks, entah kenapa saya langsung jatuh cinta pada seruputan pertama, kepada secangkir kopi macchiato yang saya pesan saat itu. Saya tidak paham betul apakah kandungannya, atau cara meraciknya, atau malah latte art yang menghiasai permukaan cangkir yang membuat saya yakin akan mengunjungi Imah Kopi lagi di kemudian hari. Tapi yang jelas, mak nyus!

Bagi saya yang menikmati kopi tidak sebagai sosok tunggal kenikmatan, tentu ada hal-hal lain yang mempengaruhi saya dalam memberikan penilaian terhadap suatu kopi. Yang menjadi nilai tambah dari Imah Kopi adalah nuansa homy yang begitu terasa.

Cuaca lembang yang dingin mereka manfaatkan dengan setting tempat yang “mempersilakan” angin untuk hilir mudik menyapa pengunjung. Selain itu, mereka juga menyediakan buku bacaan seperti komik sebagai teman ngopi. Untuk menambah nuansa rumahan dan santai menjadi lengkap, tidak jauh dari deretan tempat duduk, terdapat kolam ikan dan juga ayunan. Perfect!

Imah Kopi
Macchiato dan komik Doraemon. Perpaduan yang pas. Supaya keceriaan masa kanak-kanak tak direngut kerasnya hidup di ibukota. © Anggara Gita Arwandata

Pada saat hendak memesan, saya membaca profil peracik kopi di Imah Kopi yang terdapat pada buku menu. Saya tidak pernah mendengar nama orang itu sebelumnya dan juga alasan yang terlalu naif untuk meyakini bahwa kopi yang disajikan berkualitas wahid, hanya dari sekali membaca profilnya. Tapi tentu ada alasan positif yang membuat Imah Kopi dengan bangga mencantumkan profil peracik kopinya. Dan sejujurnya dengan membaca profil tersebut, setidaknya saya merasa sedang menikmati kopi dengan kualitas yang tidak sembarangan, dengan penyajian yang cantik, dan tempat yang luar biasa nyaman.

Oleh karena itulah saya merasa berkewajiban membagikan cerita ini kepada teman-teman minum kopi lainnya. Tentu saja di sini saya tidak berbicara tentang kualitas kopi yang saya nikmati, karena sebagai penikmat kopi yang lugu, saya tidak pernah ambil pusing terhadap hal tersebut

Jika suatu saat ada waktu yang pas, mungkin ada baiknya kita saling bertukar cerita tentang kopi di Imah Kopi. Saya ikut.

Anggara Gita Arwandata

Perakit balon di @nf.nellafantasia dan perajut kata di @kedaikataid.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405