Menuntaskan Rindu di Naskuter

Tembok penuh dengan stiker penanda Warung Naskuter - Bukan Sekadar Nasi Kuning
Tembok penuh dengan stiker penanda Warung Naskuter – Bukan Sekadar Nasi Kuning | © Abdu Rizal Syam

Ada banyak cara menuntaskan rindu pada kampung halaman, tanpa perlu kembali ke tanah kelahiran. Salah satunya dengan menuruti lidah yang sudah kadung asing pada rasa makanan khas kampung halaman.

Untuk orang Padang mungkin sedikit berbeda, karena banyaknya restoran Padang tersebar dimana-mana, tetapi bagi anak Ternate yang merantau tentu saja berbeda. Saya mempunyai masalah pada rasa yang dirindukan lidah, sebab tak gampang menemukan rumah makan khas Ternate atau Maluku Utara di tanah Jawa.

Saat jalan-jalan ke Jogja kemarin saya diajak oleh kawan mengunjungi sebuah rumah makan di daerah Terbansari, dekat dengan kampus UGM. Ada satu rumah makan yang menyediakan menu-menu khas Ternate, yakni Naskuter.

Namanya, yang merupakan singkatan dari Nasi Kuning Ternate, rumah makan dengan tampilan sederhana ini menyajikan nasi kuning khas Ternate sebagai menu andalannya. Ketika membuka menu kita dihadapkan pada sebuah tulisan berbunyi “Oho Koa?”, ini adalah bahasa adat Ternate yang berarti: “makan apa”?

Keragaman kuliner nusantara tampaknya tidak perlu diragukan lagi. Satu menu nasi kuning saja bisa berbeda-beda dalam setiap daerah. Di ibu kota nasi kuning sering disandingkan dengan lauk ayam dan bumbu yang minim rempah, maka nasi kuning ala Ternate memiliki cita rasa yang kental akan aroma rempah. Hal ini karena penggunaan rempah berupa pala dan cengkeh yang diolah dalam Ikan Masak Kering Kayu; lauk wajib pendamping nasi kuning khas Ternate. Penggunaan ikan ini pun tak lepas dari letak geografis Ternate sebagai kota pesisir.

Sedikit cerita; Ikan Masak Kering Kayu ini adalah menu yang penggunaan rempahnya begitu kuat, dalam satu menu ini kita bisa menemukan aroma cengkeh dan pala serta beragam rempah lainnya. Seperti rendang, proses memasak ikan masak kering kayu ini cukup menyita waktu, sebab menu tersebut dulunya memang diperuntukkan untuk dibawa ketika pergi haji. Artinya menu ini dibuat untuk tidak mudah basi.

Bisa dibayangkan bagaimana jadinya rempah bercampur sedemikian rupa dengan aroma laut yang segar dari ikan cakalang, tentu saja tak akan lengkap jika tak dicampur dengan dabu-dabu (sambal) yang pedas, karena masyarakat Ternate sangat menggemari rasa pedas.

Nasi Kuning khas Ternate dengan Ikan Masak Kering Kayu
Nasi Kuning khas Ternate dengan Ikan Masak Kering Kayu | Sumber: hungerranger.com

Tak hanya nasi kuning, Naskuter juga menyajikan menu lain yang masih identik dengan pulau yang dulunya jaya, berkat kekayaan rempahnya itu. Ada menu-menu seperti pecal pisang yakni pisang mengkal yang dilumuri bumbu kacang, juga ikan bakar dengan sambal mentah khas Ternate, sering juga disebut sambal colo-colo.

Tak lupa juga Naskuter menyediakan kue dan jajanan yang akan semakin membuat para pelajar asal Ternate di Jogja semakin rindu masakan emak.

Selain makanan, kue, jajanan, tentu saja ada sajian minuman yang menjadi andalan rumah makan ini. Menu minuman seperti es kacang brenebon (es kacang merah) bisa menjadi solusi untuk kamu yang ingin sesuatu yang segar-segar, ada pula sajian es pisang ijo. Namun yang istimewa dari minuman di rumah makan ini adalah air guraka. Guraka mempunyai arti “jahe”, minuman ini hampir mirip dengan wedang jahe, tetapi yang berbeda adalah air guraka ditaburi potongan kacang kenari. Seorang kawan pernah bilang bahwa kacang kenari lebih enak ketimbang kacang almond, gurihnya kenari yang ditabur di dalam air guraka tentu saja akan menambah kelezatannya.

Pecal Pisang, Sambal colo-colo, dan Air Guraka
Pecal Pisang, Sambal colo-colo, dan Air Guraka | Sumber: hungerranger.com

Pada novel “pulang”, Leila menggambarkan bagaimana cita rasa di lidah menjadi obat yang mujarab bagi mereka yang terkait dengan Tragedi 65; yang saat itu tak bisa kembali ke Indonesia dan harus menetap di Paris. Restoran tanah air dengan menu-menu andalan seperti rendang atau nasi goreng yang diracik oleh Dimas Suryo menjadi oase bagi para perantau yang lidahnya kelu gara-gara makan makanan hambar ala Eropa.

Prancis dan Indonesia, terbentang ribuan mil jauhnya, yang bisa menyatukan keduanya hanyalah makanan. Tentang satu hal: lidah bisa saja berbohong, tapi rasanya tidak jika hal itu adalah tentang masakan. Tentang cita rasa yang sudah kadung menggayut dalam otak.

Sedikit cerita bahwa kisah tentang restoran tersebut memang benar-benar nyata adanya.

Mungkin agak sedikit berlebihan ketika membandingkannya dengan cerita di novel, tapi toh kita semua bisa sepakat, bahwa hal yang paling dirindukan dari kampung halaman adalah makanan, adalah rasa yang sudah lama tidak disantap. Apalagi rasa itu berbentuk makanan yang diolah dengan aroma-aroma kuat seperti cengkeh dan pala. Mengunjungi rumah makan seperti Naskuter adalah cara paling pas menuntaskan rindu dengan rasa.

Abdu Rizal Syam

Penggila Pedas