Mensesap Kopi Dingin di Gunung Ijen

Bercengkrama bersama kawan baru dari Lampung. © Irvan
Bercengkrama bersama kawan baru dari Lampung. © Irvan

Minggu sore, di awal bulan Februari lalu, saya bersama teman-teman di Kafe Macapat ingin pergi ke sebuah warung kopi, tapi warung kopi yang ingin kami datangi terletak di Gunung Ijen.

Perjalanan dimulai pukul 15.00 WIB. Cuaca mendung. Di tengah jalan, mendadak turun hujan. Tidak ada perlengkapan layaknya pendaki gunung. Kami berempat, saya, Cetar, Irvan dan Fatih hanya mengenakan celana panjang, kaos dalam, mengenakan jaket, beralas sandal, tanpa tas, dan tentunya tanpa tenda. Selama perjalanan kami memang diguyur hujan. Mantel kelelawar menjadi satu-satunya alasan mengapa perjalanan terus dilanjutkan. Sesampai di Sempol, perut benar-benar terasa lapar, mata perih, dan tentunya badan sudah menggigil kedinginan.

Selama perjalanan, hujan tentunya bukan menjadi satu-satunya soal buat kami. Ada hawa dingin dan kabar tentang adanya longsor serta banjir bandang membuat kami berpikir ulang di meja makan. Kabar adanya banjir tersebut datang dari seorang teman bernama VJ Lie. Kami kebetulan bertemu di warung makan yang sama.

VJ Lie bercerita, sepedanya baru hanyut tersapu banjir bandang. Kejadiannya Sabtu sore (31/01), saat VJ Lie bersama seorang temannya sedang lewat di kawasan Curah Macan menggunakan sepeda motor, tiba-tiba banjir bandang datang dan membuat sepedanya hanyut. Kondisi motornya rusak parah, setelah dicari dan diketemukan oleh warga sekitar.

Cetar yang kedinginan berharap tubuhnya akan hangat dengan minum kopi. © Irvan
Cetar yang kedinginan berharap tubuhnya akan hangat dengan minum kopi. © Irvan

Setelah bertukar cerita, kami disarankan untuk mengunjungi rumah Pak Titus yang tinggal di Curah Macan, bila ingin menikmati kopi tubruk Arabica. Pak Titus merupakan orang yang menjemput VJ Lie di lokasi kejadian untuk diajak ke rumahnya. “Tapi kalau sudah pukul 22.00 WIB, listrik di sana sudah mati,” ungkap VJ Lie, yang membuat kami jadi ragu berkunjung ke rumah Pak Titus. Selain arah jalan yang belum kami ketahui.

Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul setengah delapan malam. Mau pulang tidak mungkin karena jauh dan sudah kepalang kedinginan. Mau ke rumah Pak Titus tidak enak karena malam telah larut. Keputusan tetap teguh, menuju Paltuding untuk mencari warung kopi dan tempat bermalam. Jarak tempuh kurang lebih masih satu jam lagi.

Selama perjalanan menuju Paltuding, gerimis masih mengguyur. Kabut tebal agak mengganggu jarak pandang kami. Belum lagi aspal yang basah dilumuri bekas erosi membuat permukaan licin. Beberapa titik lokasi terlihat masih tertutup lumpur tebal. Selain itu, ada juga longsoran tanah yang hampir menutupi jalan. Perjalanan harus dilakukan dengan hati-hati karena di sebelah kiri tebing dan sebelah kanan jurang.

Sesampai di Paltuding, tidak terlihat ada penerangan lampu sama sekali. Hanya sorotan lampu penjaga gerbang mencoba memberi petunjuk letak jalan masuk. Tidak seperti yang kami bayangkan. Setelah memarkir motor yang sudah tanpa penjaga, kami melihat warung kopi sudah tutup. Beberapa orang yang mau mendaki Gunung Ijen terlihat berkumpul di tendanya masing-masing. Suasananya benar-benar sepi, gelap dan dinginnya membuat gigi bergetar.

Tidak lama kemudian ada dua orang yang datang ke warung dengan sorot senter, terlihat mencoba membangunkan pedagang warung. Entah apa yang dibelinya, kami memanfaatkan momentum tersebut untuk datang dan memesan kopi panas. Setidaknya bisa terpenuhi bisa ngopi di lereng Gunung Ijen. Meski pikiran masih bingung, di mana harus tidur di tengah kondisi dingin dan baju setengah basah.

* * *

Di pos penjagaan. © Irvan
Di pos penjagaan. © Irvan

Sekitar satu jam duduk di warung kopi Paltuding, terlihat seorang petugas sedang menghidupkan generator. Lampu menyala, dan terlihat muka pucat teman-teman. Bila berbicara, seperti asap putih sedang keluar bersama nafasnya. Si Fatih, sesekali memainkan asap yang sebenarnya adalah nafasnya sendiri dari mulutnya, “Kayak asap rokok ya,” ungkapnya sambil tertawa kecil. Kesialan kami lupakan sekejap.

Ada satu pesan dari pedagang warung yang belum sempat kami tanya namanya, “Kalau duduk, ngopi di sini gak papa, pokoknya jangan rame-rame.”

Mengingat ungkapan tersebut, kami tidak berani tertawa kencang bila bergurau. Takut diusir, mau ke mana lagi bisa duduk dan tidur kalau tidak di warung.

Dari kejauhan, terlihat dua orang baru saja memarkir motor kemudian berjalan menuju warung tempat kami duduk. Mereka berbadan tegap, memakai jaket hitam tebal, celana panjang, sarung tangan dan syal di bagian leher. Keduanya terlihat ramah setelah memesan kopi dan duduk di samping kami.

Dari perkenalan, basa-basi, obrolan ringan, tertawa lepas sampai dimarahi pedagang, dan berujung keakraban, merupakan serangkaian perjalanan yang membuat kami bisa tidur di tenda mereka. Ini bukan strategi merayu atau meminta tumpangan tidur, tapi kami ditawari. Entah apa alasannya, mungkin kasihan.

Masing-masing dari kami belum sempat berkenalan. Kami hanya tahu asal dua pria yang berencana akan mendaki Gunung Ijen tersebut. Keduanya berasal dari Lampung, namun fasih berbahasa Jawa. Katanya sudah terlalu banyak orang-orang Jawa yang bermigrasi ke Lampung, termasuk keluarga mereka.

Di tenda pinjaman. © Irvan
Di tenda pinjaman. © Irvan
Saya, Cetar, Irvan dan Fatih. © Irvan
Saya, Cetar, Irvan dan Fatih. © Irvan

Cangkrukan dilanjutkan di tempat lain, sambil mendirikan tenda, agar tidak mengganggu pedagang warung yang sedang istirahat. Setelah tenda didirikan, makan mie rebus bersama sambil menikmati kopi tubruk manis, sepertinya sudah ada rasa saling percaya. Sekitar pukul 02.00 dini hari, kami dipercaya dan dipersilakan tidur di tendanya sambil menunggu mereka turun dari Gunung Ijen. Belum lagi masih ditawari buat kopi dan mie sendiri bila ingin. Sudah dapat tumpangan tidur di tenda, lengkap dengan sleeping bed, sama makanannya lagi. Tuhan maha pengasih.

Minum kopi di lereng Gunung Ijen terasa nikmat, namun hanya sebentar. Temperatur panas kopi di gelas sangat cepat berubah dingin. Hanya beberapa menit sudah jadi kopi dingin. Lidah tidak terasa panas, meski menyeruput kopi yang baru disajikan. Ditambah cemilan pisang goreng. “Banana Preeet,” ungkap pedagang warung mencoba menirukan bahasa wisatawan asing. Itulah yang kami lakukan di pagi hari.

Setelah pukul 10.00 siang, dua orang dari Lampung baik hati tersebut datang. Mukanya terlihat lelah setelah naik turun Gunung Ijen. Duduk-duduk sebentar, kami kemudian mengucapkan terimakasih, berpamitan dan berharap bisa bertemu lagi.

Selanjutnya, kami memenuhi rasa penasaran dengan rasa kopi arabica di rumah Pak Titus. Kami benar-benar tak menyangka jika rumah Pak Titus sungguh menyenangkan. Sejuk dan berlatar pemandangan gunung yang indah. Benar-benar seperti lukisan. Kami duduk dan disuguhi Kopi Arabica Ijen. Aromanya harum. Inilah yang oleh masyarakat di Eropa sana dikenal sebagai java coffee.

Mohamad Ulil Albab

Sejarawan Partikelir


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405