Menonton PERSIB di Gelora Bandung Lautan Api

Laga pembuka LIGA 1 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Persib Bandung melawan Arema FC
Laga pembuka LIGA 1 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Persib Bandung melawan Arema FC. | © Reza Fajri

Sabtu 15 April 2017
Stadion Gelora Bandung Lautan Api
Persib vs Arema

Tidak begitu sulit menjangkau Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dari tempat saya tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan. Saya hanya perlu pergi ke Stasiun Pasar Senen di Jakarta, dan naik KA Serayu menuju Stasiun Kiaracondong, Bandung. Dari Kiaracondong, kemudian naik kereta lokal Bandung Raya dan turun di Stasiun Cimekar dengan waktu tempuh kurang dari 10 menit. Stadion GBLA sendiri hanya berjarak beberapa ratus meter dari Stasiun Cimekar.

Sepak bola adalah kegilaan yang sulit dijelaskan. Di hari kerja, begitu berat bangun tidur pada pukul 08.00 pagi. Anehnya di hari pertandingan, saya sudah bangun dengan segar bugar pada pukul 05.00 pagi. Padahal KA Serayu yang saya naiki baru akan berangkat dari Stasiun Senen pada pukul 09.00 dan pertandingan baru mulai pada 18.30 WIB. Sebagai penggemar Persib yang tinggal di luar kota Bandung, mempersiapkan diri lebih awal memang jauh lebih disarankan daripada tiba di stadion mepet dengan waktu kick-off.

Persib memang tidak bisa dilihat sebagai klub yang hanya dimiliki masyarakat Bandung saja. Sejarah Persib sebagai klub perserikatan yang menampung banyak klub kecil di tanah Pasundan, membuat Persib juga menjadi representasi masyarakat Jawa Barat. Selain itu eksistensi dan prestasi Persib di kasta pertama kompetisi sepak bola nasional selama bertahun-tahun juga tidak bisa ditandingi oleh klub-klub lain di Jawa Barat. Sehingga rasa memiliki Persib tumbuh otomatis di masing-masing hati banyak orang di Jawa Barat. Termasuk saya yang lahir di Bogor dan tinggal lama di Cirebon. Dua kota di Jawa Barat yang punya basis pendukung Persib yang besar.

Penulis asal Inggris Antony Sutton menemukan kesamaan Pangeran Biru —julukan Persib— dengan klub dari negaranya, Newcastle United. Newcastle disebut sebagai identitas regional para Geordies, masyarakat di Timur Laut Inggris. Menurut Antony, para Geordies adalah orang-orang yang bangga dengan akar budayanya, sama seperti orang-orang Sunda yang menaruh harapannya pada klub sepak bola bernama Persib. Termasuk orang-orang Sunda dan keturunannya yang tinggal di kota lain atau bahkan negara lain.

Coba tengok organisasi Viking Persib Club, kelompok suporter Persib yang punya berbagai cabang distrik hampir semua kota di Indonesia. Saat Persib bermain, perwakilan dari berbagai distrik datang berbondong-bondong ke Bandung, dan kemudian menaruh spanduk absennya di pagar-pagar stadion. Spanduk-spanduk seperti Viking Bogor, Viking Medan, Viking Bali menjadi pemandangan yang biasa terlihat di stadion. Sebuah kultur yang akan sulit sekali hilang dari perjalanan Persib hingga bertahun-tahun yang akan datang.

Kultur inilah yang juga membuat penggemar sepak bola merasa aman menonton langsung Persib, meskipun tidak ber-KTP Bandung atau punya aksen berbeda. Tidak seperti di pertandingan klub lain, yang selalu ada suporter yang curiga dan merazia KTP orang lain, hanya karena orang itu punya aksen berbeda atau tidak memakai atribut klub.

Saat berada di stadion, saya sendiri memang sempat ditegur oleh seorang Bobotoh di sebelah. Dia bertanya, “Kang, nyalira?”

Bahasa Sunda halusnya sempat membuat saya melongo, bingung memilih kata yang pas untuk menjawab. Dia pun mengulang pertanyaannya dengan bahasa Indonesia. “Sendirian kang?”

“Iya kang.”
“Dari mana?”
“Tangerang… selatan,” jawab saya dengan sedikit gugup, karena khawatir dianggap fan rival yang menyusup.

Mungkin menyadari kegugupan saya, dia coba menenangkan. “Santai aja kang, saya aja dari Jakarta, hehe.”

Tidak hanya si Akang itu, bobotoh lain di sekitar saya juga sangat ramah. Bahkan menawarkan makanan dan minuman. Walau di sepanjang pertandingan mereka kerap mengeluarkan kata-kata kasar ke arah lapangan. Tapi, ah, makian kasar itu mungkin keluar spontan karena kesal melihat Persibnya bermain buruk atau karena lawan dan wasit yang goblok. Di luar itu, semua normal-normal saja.

Tribun Utara, tempat khusus para Bobotoh
Tribun Utara, tempat khusus para Bobotoh. | © Reza Fajri

Persib memang bermain buruk pada malam itu. Padahal Bobotoh menaruh harapan luar biasa besar di partai pembuka Liga 1 itu. Apalagi lawannya adalah lawan yang paling asyik untuk dihancurkan, yaitu Arema. Tapi apa lacur, tuan rumah yang punya pemain bintang —eks pemain Liga Primer Inggris— seperti Michael Essien dan Carlton Cole, hanya bisa memberikan satu poin saja alias seri tanpa gol untuk para penggemar.

Untungnya atmosfir di tribun sangat menghibur, khususnya Tribun Utara yang menjadi tribun kelompok Viking. Tribun Utara yang berada di belakang gawang juga menjadi tempat saya berdiri selama lebih dari 90 menit. Ayunan bendera, bernyanyi kencang, berjingkrak dalam satu gerakan yang sama dilakukan tanpa henti terus menerus. Demi menyemangati para pemain Persib dan tentu saja untuk melihatnya menang.

Sementara di luar lapangan, panitia pelaksana pertandingan dan kepolisian wajib berbenah setelah pertandingan ini. Sistem pintu harus diperbaiki agar tidak membuat Bobotoh menumpuk di “leher botol” saat hendak masuk ke stadion. Penumpukan seperti ini berpotensi menimbulkan kejadian yang tidak diharapkan seperti sesak napas atau tindak pencopetan.

Apa yang saya dengar dan lihat, banyak sekali Bobotoh bertiket yang tidak diperbolehkan masuk ke stadion karena GBLA sudah sangat penuh. Kalau dianggap penuh sementara yang memegang tiket masih banyak yang di luar, lalu yang di dalam masuk dengan cara apa? Mengapa aparat kepolisian bisa dengan mudah dibiarkan memasukan sejumlah orang dan membuat stadion jadi sangat sesak? Belum lagi masalah pemerasan oleh anggota organisasi masyarakat setempat dengan dalih bayar parkir. Kemudian ada tindakan kriminal lain seperti pencurian helm dan onderdil kendaraan.

Rasanya sangat sayang jika kultur sepak bola di tanah Jawa Barat ternoda dengan ketidakberesan tersebut. Padahal Bobotoh, seperti yang selalu terlihat, memberikan segenap tenaga dan emosinya demi menghidupkan terus budaya sepak bola ini. Karena pada Persib sendiri, jiwa raga Bobotoh.

Reza Fajri

Bekerja sebagai jurnalis. Penikmat sepakbola.