Menodong Kopi Lokal sebagai Buah Tangan

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan kawan saya, Fakhri Zakaria. Saat itu jam makan siang. Kami bertemu di pujasera depan kantor Fakhri, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Saya dan Fakhri akrab karena punya beberapa kesamaan. Kami sama-sama suka menulis. Juga sama-sama menyukai musik. Kami pun menulis musik untuk beberapa media yang sama. Dan kesamaan kami yang paling mutakhir adalah: sama-sama menggemari Si Doel Anak Sekolahan.

Bagi mereka yang tidak tumbuh besar pada era 90-an, mungkin Si Doel Anak Sekolahan terdengar sedikit asing. Itu adalah film serial yang ditayangkan di RCTI pada 1994. Film ini pernah disebut sebagai raja film seri di Indonesia. Ratingnya tinggi dan karakter-karakternya sukses mencuri cinta dari para penonton.

Saking suksesnya, serial sepanjang 162 episode ini pernah ditayangkan lagi hingga dua kali, pada 2002 dan yang terbaru 2013.

Kisah sinetron ini sebenarnya sederhana —justru karena itu jadi membumi dan sangat menarik. Yakni tentang keluarga Sabeni (yang diperankan dengan sangat jenial oleh Benyamin Sueb), keluarga Betawi asli, yang bekerja keras agar anaknya, Doel (diperankan dengan baik sekali oleh Rano Karno) bisa menjadi insinyur dan mematahkan anggapan kalau anak Betawi tak ada yang berpendidikan tinggi.

Kisah kemudian berputar di kehidupan sehari-hari keluarga Sabeni. Nantinya ada beberapa karakter pendukung —yang berbeda dengan kebanyakan karakter pembantu yang hanya numpang lewat— yang juga turut menghidupkan kisah di film ini. Mulai kakek Doel yang bernama Kong Ali (diperankan dengan kocak oleh Haji Tile); Mandra, paman si Doel; hingga Mas Karyo (Basuki) perantauan dari Jawa yang ditaksir oleh Atun (Suti Karno), adik si Doel.

Serial yang didasarkan oleh novel Si Doel Anak Betawi karya Aman Datuk Majoindo ini juga membekas di hati saya dan Fakhri. Sewaktu serial ini mengudara pertama kali, kami sepertinya terlalu kecil untuk memahami kisah dan pesan-pesan yang tersembunyi.

Barulah saat serial ini ditayangkan lagi tahun lalu, kami jadi mengerti betapa dahsyatnya film serial ini. Mulai dari segi cerita hingga kualitas akting para pemeran, semuanya menjanjikan kesolidan yang tiada tara.

Karena sama-sama suka Si Doel Anak Sekolahan itu lah, kami berdua iseng mendirikan Center for Si Doel Studies (CSDS). Ini bukan lembaga serius, tentu saja. Namun ini sekaligus merupakan bentuk kecintaan kami pada serial legendaris itu. Kegiatan kami adalah menonton ulang serial Doel di televisi, lalu mencatat beberapa kalimat yang layak dikutip. Lalu menyebarkannya di twitter. Selain itu, beberapa kali kami berdiskusi secara informal mengenai aspek-aspek di film Si Doel.

Kegiatan kami semakin mendapat ‘bantuan moril’ saat saya tak sengaja menemukan buku Si Doel and Beyond: Discourse on Indonesian Television in the 1990s, karya Klarijn Loven (2003), di sebuah lapak buku bekas di Blok M. Buku yang berasal dari disertasi Loven di Universitas Leiden itu lantas juga turut menjadi bahan diskusi kami.

Siang itu, beberapa hari lalu, Fakhri bermaksud mengundang saya makan siang sekaligus mengembalikan buku Si Doel and Beyond yang ia pinjam untuk digandakan. Setelah mengobrol ngalor-ngidul, menjelang berpisah, Fakhri memberikan satu pak kopi. Mereknya membuat kami sama-sama tertawa: Cap Oplet.

Bagi yang suka serial si Doel tentu tahu, Sabeni adalah pemilik oplet butut yang suka mogok. Dari oplet itu lah, Sabeni mengumpulkan receh demi receh agar Si Doel berhasil menjadi insyinyur. Kopi yang bergambar oplet itu tentu menjadi merek yang punya arti tersendiri bagi para penggemar si Doel.

“Itu kopi khas Bogor Ran, lu kudu coba,” kata Fakhri sembari masih terkekeh.

Sabeni suka sekali minum kopi. Baginya, pagi tak lengkap tanpa kopi. Siang saat leyeh-leyeh di amben yang luas di depan rumahnya, Sabeni juga selalu meminta kopi. Salah satu kalimat terkenalnya adalah, pernyataan yang dilontarkan saat kesal kepada istrinya yang terus mengomel: “Lela, daripade lu ngomel mulu, mending bikinin gue kopi dah.

Oke, itu adalah intermezzo saja. Selingan.

Buah Tangan
Kopi Aceh © Nuran Wibisono

Gara-gara hadiah dari Fakhri itu, saya jadi berpikir adalah: seberapa jauh orang menjadikan kopi sebagai buah tangan? Entah itu saat bertemu kawan lama, atau bertemu sanak saudara, atau hanya sekedar mengirimkan kepada handai taulan yang nun jauh di sana.

Saya punya banyak kawan yang tersebar di penjuru Indonesia. Ada yang di Aceh. Jambi. Toraja. Pontianak. Bandung. Lumajang. Jember. Bali. Lombok. Flores. Hingga Papua. Saya jadi kepikiran, bagaimana kalau tiap bertemu mereka, entah kapan, saya minta oleh-oleh kopi khas daerah tersebut. Pasti saya memiliki banyak sekali koleksi kopi nasional.

Kebetulan pula, beberapa hari lalu, saya kembali lagi bertemu dengan kawan saya. Namanya Gita Wiryawan, pegawai pajak yang berdinas di Bangko, Jambi. Saat bertemu, ia dengan baik hati memberi saya kopi arabika aceh organik kemasan 250 gram. Kopi ini berasal dari Aceh Coffee Company, yang sudah berdiri sejak 2005. Mereka membeli biji kopi dari petani-petani kopi lokal Aceh. Sayang, situs mereka, www.acehcoffee.com sudah kadaluarsa.

Kemasan kopi ini cantik sekaligus minimalis. Berwarna krem, dengan aksen oranye tua yang berpadu padan dengan baik. Rasanya tentu tak usah ditanya. Kopi Aceh adalah salah satu kopi terenak di dunia.

Sembari menyeruput kopi Aceh yang wangi semriwing ini, saya jadi berpikir lagi, alangkah baiknya kalau ada konsep ‘kopi sebagai buah tangan’. Konsep seperti ini pasti sudah ada sejak dulu, saya yakin itu. Tapi seberapa intens? Itu pertanyaannya.

Hingga sekarang, saya pun belum terlalu intens menggunakan kopi sebagai buah tangan. Padahal kampung halaman saya, Jember, juga memproduksi kopi yang kualitasnya cukup baik. Mungkin saat saya pulang ke Jember nanti, saya akan membeli kopi lokal untuk dibarter dengan kawan-kawan saya yang lain.

Barter? Iya, tukar menukar kopi. Ini juga sepertinya bisa menjadi kegiatan yang menarik. Bagaimana kopi daerahmu, bisa ditukar dengan kopi dari daerah kawanmu. Kopi yang dibarter tentu akan lebih menarik jika menggunakan kopi lokal yang bijinya dibeli dari petani lokal, diproduksi dan dijual oleh pedagang lokal, kemudian dibeli olehmu untuk kawanmu.

Meski saya belum terlalu intens membawakan kopi sebagai buah tangan, kawan-kawan saya sudah banyak yang melakukannya dengan intens dan konsisten.

Rani Basyir misalnya. Perempuan berparas ayu asal Jambi ini selalu membawa pulang berbungkus-bungkus kopi AAA, kopi khas Jambi yang selalu ia bangga-banggakan. Baginya, ia sedikit kesusahan jika hidup tanpa meminum kopi AAA yang sudah setia ia minum semenjak SMP.

Lalu Puthut EA, yang juga selalu rutin membawa kopi lokal dari setiap daerah yang pernah ia kunjungi. Saya pernah mendapat kopi Pontianak yang harum nan lezat darinya. Ia pernah menunjukkan pada saya koleksi kopi yang jumlahnya puluhan, ya ia simpan di kulkas. Ia juga senantiasa membawa buah tangan kopi jika berkunjung ke kerabat. Di Lombok, Haji Iskandar mengingat, kopi dan Puthut, sebagai dua hal yang tak terpisahkan.

Ada pula Nody Arizona. Kolega saya di minumkopi.com ini juga rutin membawa kopi khas Jember tiap ia pulang dari kampung halamannya itu. Pernah ia membawa sebungkus kopi lanang (bahasa Jawa untuk laki-laki, biasanya untuk menggambarkan sifat kejantanan), kopi yang konon bisa membuat peminumnya menjadi lebih jantan dan disukai oleh para perempuan. Juga kopi asmara yang memadukan ramuan Madura, Jawa dan Arab, yang disingkat Mujarab! Kopi ini berkhasiat sebagai penambah stamina kaum Adam. Itu hanya kelakarnya, tentu saja. Buktinya Nody sampai sekarang masih bujang.

Meski saya tak terlampau akrab dengan Bilven Rivaldo Gultom, saya tahu kalau lelaki pemalu itu dengan senang hati akan membawakan Kopi Aroma khas Bandung setiap ia melancong. Saya pernah turut mencicipi kopi yang ia bawa saat mengikuti sebuah pelatihan bersama salah satu pendiri toko buku Ultimus itu. Menurut Puthut EA, kawan lamanya, Bilven memang kecanduan kopi.

“Dunia terasa terang kalau minum kopi di pagi hari,” katanya suatu ketika.

Belum lagi kawan-kawan saya yang lain. Ada Heribertus dari Flores. Ada Maya Rara Tandirerung dari Toraja. Yuyun Permana dari Aceh. Pitoresmi (yang juga pernah menulis di minumkopi.com) yang sekarang berdomisili di Bali. Semua kawan-kawan saya itu sebenarnya bisa saya ‘todong’ untuk membawakan kopi-kopi lokal dari daerah mereka. Mereka pasti dengan senang hati membawakan buah tangan kopi lokal. Saya pun dengan senang hati akan memberikan kopi lokal dari Jember untuk mereka.

Karena kopi lokal memang sudah seharusnya menjadi buah tangan. Akan lebih baik kalau kopi lokal bisa dipromosikan menjadi oleh-oleh khas suatu daerah yang wajib dibawa. Tentu, kualitasnya juga harus bagus.

* * *

Kebiasaan tukar menukar kopi seperti itu yang akan mulai saya galakkan lagi —mungkin anda tertarik juga? Setidaknya bagi diri saya sendiri. Kebiasaan ini sepertinya akan sangat menarik. Selain karena bisa mencicipi kopi-kopi lokal yang sedap —namun kadang kalah pamor dengan kopi sachet—, saya bisa tahu sejarah-sejarah menarik dari sebungkus kopi.

Dari kopi Oplet yang dibawakan Jaki —panggilan akrab Fakhri— misalnya. Karena penasaran tak pernah mendengar namanya, kontan saya mencarinya di internet. Puji Google, saya mendapatkan banyak cerita tentang kopi merek Oplet ini.

Oplet ternyata merk kopi lokal khas Bogor yang sudah lama terkenal. Merek itu sudah ada sejak 1975. Kopi ini banyak menghadirkan kenangan bagi para peminumnya. Terbukti, dari beberapa cerita di laman maya, banyak orang Bogor yang memborong kopi itu saat pulang kampung. Selain itu, ada akun twitter dan fanpage-nya.

Dari cerita kopi Oplet itu pula, saya jadi tahu kalau ada kopi Liong Bulan, kopi khas Bogor yang sudah ada sejak 1945, dan diproduksi oleh keluarga keturunan Tionghoa yang menetap di Bogor.

Lain kali, bawakan saya kopi itu Jak!

Nuran Wibisono

Penyuka jalan-jalan dan musik bagus.