Menjalani Ritual Pagi di Cold n Brew

Interior Cold n Brew
Interior Cold n Brew | © Kevin Lutfianto Adi

Alarm pagi membangunkanku di hari yang sebetulnya keramat untukku bangun pagi. Udara pagi itu dingin menusuk kulit. Mencoba bergelut dengannya. Alarm itu sebetulnya tak sengaja kupasang Sabtu-Minggu kemarin. Hanya saja aku yang lupa menghapusnya dari handphone.

Meski memiliki dua musim, di bulan Januari seperti ini—dimana belakangan hampir setiap siang turun hujan—cuaca di negeri ini rasanya tak ubahnya seperti di kota-kota dingin di Eropa. Tapi rasanya tak salah aku bangun pagi di hari Sabtu itu. Selain bagus untuk kesahatan fisik dan mental, karena terkesan rajin, aku jadi punya banyak waktu di hari libur untuk melakukan banyak hal.

Banyak hal yang sebenarnya ingin aku lakukan di hari ini. Banyak ide terlintas di pikiran. Mulai dari ide sederhana seperti bersantai santai sambil menonton koleksi film dalam laptop hingga ide gila seperti mencari coffee shop baru di kota sebelah yang baru aku tahu lewat Instagram. Hingga akhirnya aku sedikit tertarik dengan ide yang terakhir.

Beberapa waktu belakangan aku suka sekali minum kopi. Mulai hanya sekadar kopi sobek hingga menjajal berbagai kopi di coffee shop yang mulai marak menjamur di kota Solo. Pada bulan lalu misalnya, aku jauh-jauh ke kota sebelah hanya untuk menjajal sebuah coffee shop hanya gara-gara melihat postingan yang memikat di akun Instagram.

Mungkin banyak yang akan mengira bahwa aku sedikit kurang waras pergi jauh hanya untuk minum kopi. Aku tak bisa menyalahkan mereka karena itu hanya soal sudut pandang. Mereka bisa saja mengatakan, “memangnya enggak bisa ngopi di rumah?” Mereka tak sepenuhnya salah karena minum kopi di rumah pun bisa. Tak harus ke coffee shop “mahal”.

Namun, aku tetap memiliki sudut pandang sendiri. Bagiku, minum kopi di coffee shop merupakan sebuah experience. Mengapa demikian?

Buatku, menginjakkan kaki di sebuah coffee shop dan memesan sebuah kopi dari sang barista, di situlah pengalaman spiritual terjadi. Tak hanya mencicipi segelas kopi berkualitas dari tangan sang barista, namun juga membeli suasana coffee shop tersebut. Merasakan bagaimana atmosfir dari desain interiornya yang kemudian kita rasakan saat duduk dan mencicipi kopi dalam gelas. Bagaimana telinga kita pun juga akan dimanja dengan alunan lagu-lagu santai yang dilantunkan baik itu live atau dari playlist. Yang pasti, semua indera yang ada dalam manusia akan dirangsang ketika memasuki coffee shop.

Kali ini, aku tak menemukannya dari sebuah akun Instagram, melainkan atas rekomendasi seorang barista yang tak lain adalah teman masa sekolah dulu. Untuk urusan yang satu ini, aku akui ia tak pernah salah. Berbekal itulah aku yang telah rapi dan wangi Sabtu pagi itu akhirnya melangkahkan kaki ke kedai kopi Cold n Brew yang berada di salah satu sudut kota.

Tempatnya tak asing. Sudah jauh hari aku mengetahuinya, dan hanya karena kesempatan saja aku belum sempat berkunjung. Cuaca kala itu mendung berat. Jika bukan karena kopi, mungkin aku akan enggan pergi dari rumah. Sesampai sana, aku bersyukur karena kedai sudah buka. Aku menjadi pelanggan pertama dari kedai ini.

Melangkah masuk, jujur aku sedikit kagum pada interior dari kedai kopi Cold n Brew. Nuansa kayu mendominasi ruangan kedai dengan balutan cat warna hitam di dinding dan beberapa gambar mural. Khas sebuah kedai kopi masa kini. Meski tak terlalu luas, aku harus akui bahwa ruangan tak kurang nyaman. Sebuah expresso machine warna merah berada di sudut meja barista menambah syarat kelengkapan kedai kopi ini. Dalam benakku, apabila sebuah kedai kopi memiliki expresso machine maka besar kemungkinan serius bisnis kedai kopi ini dijalankan. Begitulah bagaimana indera penglihatanku dirangsang oleh kedai kopi.

Kedai Cold n Brew memiliki varian menu kopi yang lumayan lengkap, seperi caramel latte, affogato, machiato, hingga piccolo. Dari sisi penyajian pun juga tak kalah lengkap, mulai vietnam dripp, french press, v60, bahkan syphon. Aku memilih kopi toraja dengan penyajian vietnam dripp ditambah susu dan sepotong roti panggang. Kebetulan, hari itu memang hanya sedang tersedia dua varian yaitu bali kintamani dan toraja.

Vietnam Drip dan Roti Panggang
Vietnam Drip dan Roti Panggang | © Kevin Lutfianto Adi

Aku memilih sebuah tempat di sudut ruangan sambil menunggu vietnam drippku. Hanya aku pengunjung di kedai pagi itu. Betapa mewahnya pagiku hari ini, seperti minum kopi di sebuah kedai kopi pribadi. Tak lama hujan turun dengan derasnya. Barangkali karena terbawa suasana nyaman, aku tak menghiraukan deras hujan di luar.

Merupakan pengalaman baru berteduh di sebuah kedai kopi buatku, seorang diri, dan hanya ditemani alunan lagu yang pas. Alunan musik dan kedai kopi erat kaitanya. Aku baru menyadari hal itu ketika beberapa hari lalu aku mengunjungi kedai kopi yang tak memutar alunan musik saat kedai sepi. Rasanya seperti sayur tanpa garam, hambar. Karena selain obrolan dengan teman dekat atau pasangan, tak ada suara lain yang ingin didengar penyesap kopi selain alunan musik yang santai. Mungkin hanya dengan dua suara itu kopi hanya bersahabat. Alunan lagu santai, suara hujan yang lirih terdengar dan suara ketika sang barista meracik kopi adalah sebuah “pengalaman spiritual” lain yang kau beli ketika datang ke kedai kopi.

Beberapa saat kemudian pesanan pun tiba. Kopi dengan susu kental manis di lapisan bawah, kopi hitam toraja di atasnya serta kaleng vietnam drip yang masih meneteskan kopi. Salah satu kopi berkualitas dari tanah nusantara tersaji dari tangan anak bangsa. Mengingat betapa minggu ini karena kesibukan, aku belum sempat mengecap kopi berkualitas seperti ini dan hanya mengecap kopi sobek. Dan begitulah akhirnya indera pengecapanku terpuaskan oleh kopi susu ini.

Tak ada rumus pasti untuk menikmati sebuah kopi. Beberapa orang mungkin akan memiliki sudut pandang yang berbeda. Ada yang lebih suka beramai-ramai menikmati kopi. Ada pula yang suka menyendiri seperti aku di sebuah kedai kopi. Yang pasti pagi ini aku terpuaskan. Sebuah ritual yang telah lama absen. Sebuah ritual yang mestinya lebih sering kulakukan. Betapa kedai kopi Cold n Brew ini telah menjadi tempat nyaman di akhir pekan.

Kevin Lutfianto Adi

Penikmat kopi pemula, pecinta buku.