Menjadi Wisatawan yang Etis

Entah siapa yang pertama kali membuat ide untuk memodifikasi kawasan perbukitan yang didominasi oleh pohon-pohon jati itu. Kini, tempat-tempat itu tak hanya menjadi tempat penanaman pohon oleh Perhutani, tapi juga menjadi tempat wisata: objek wisata Dadablangan Malahayu Brebes, Jawa Tengah, misalnya. Belakangan (setahu saya) memang banyak lokasi-lokasi bagus dipromosikan sebagai destinasti wisata baru.

Sayang, penemu lokasi wisata baru tidak selalu dibarengi dengan pemeliharaan kawasan tersebut. Apalagi, perilaku tidak bertanggung jawab para wisatawan memang selalu ada, seperti membuang sampah dari bungkus makanan yang mereka bawa, walau pun tempat sampah tersedia. Perilaku bebal demikian masih sering terjadi karena merasa bahwa mereka sudah menjadi tuan atas tempat wisata yang mereka kunjungi, cukup dengan membayar tiket masuk mereka sudah bisa melakukan apapun di tempat tersebut.

Hal demikian yang memberikan citra bahwa tempat wisata baru selalu mencederai kondisi ekologi wilayah tersebut, merenggut keperawanan keasriannya, dengan mengesampingkan potensi lain dari wilayah itu.

Entah bagaimana cara mengedukasi wisatawan yang memiliki polah berkunjung demikian setiap kali mereka pergi tamasya. Menikmati suguhan alam bukan berarti harus merusak, padahal kalau mereka hendak menikmati alam, seharusnya menjaga, bukan malah sebaliknya, menjadi monster pada alam.

Saung dari kayu jati yang berderet sepanjang Bukit Dadablangan
Saung dari kayu jati yang berderet sepanjang Bukit Dadablangan | © Bagus Sentanu
Pemandangan dari atas saung baris pertama
Pemandangan dari atas saung baris pertama | © Sartika

Pembuatan destinasti wisata baru juga dapat memberikan penghidupan bagi masyarakat lokal, seperti di objek wisata Dadablangan yang baru saya kunjungi ini. Pembukaan dinasti wisata ini mendorong kegiatan ekonomi masyarakat lokal. Saya menyaksikan banyak masyarakat lokal yang terlibat di sana. Dalam istilah lain, masyarakat di sana tidak menjadi budak di tanahnya sendiri.

Warung-warung yang berjejer di sana adalah milik masyarakat, dan mereka tidak hanya membuka warung. Uniknya, semua rumah pohon dan saung yang berdiri di sana adalah milik mereka, kita akan mengetahui siapa pemiliknya setelah naik ke rumah pohon/saung itu. Kita akan dihampiri seorang bapak, atau ibu pemiliknya dan menawarkan menu makanan yang mereka sediakan.

Dari rumah pohon/saung itu, kita bisa menyaksikan Waduk Malahayu dari ketinggian dan bukit-bukit yang mengelilinginya. Sebuah kawasan kebun jati yang menurut saya—kalau tidak mendapat sentuhan kreativitas kelompok masyarakat, anak muda dan pemerintahan desa—tidak akan menjadi semenarik sekarang. Kebun jati yang biasanya—kita tahu itu—kawasan gersang, menjadi tidak kalah nyaman dengan kebun pinus. Berdirinya rumah pohon/saung bisa menjadi tempat berteduh sekaligus menyaksikan pemandangan dari dataran yang lebih tinggi. Rumah pohon dan saung-saung yang berderet sepanjang kawasan perbukitan menjadi pemandangan unik lainnnya. Saung-saung yang menggunakan kayu jati dan atap-atapnya yang terbuat dari jerami menjadi identitas kawasan tersebut, yakni masyarakat Sunda.

Pemandangan waduk Malahayu dari bukit Dadablangan
Pemandangan waduk Malahayu dari bukit Dadablangan | © Mutia Herawarti
Flying Fox di Bukit Dadablangan
Flying Fox di Bukit Dadablangan | © Wita Dwi M

Dadablangan dalam bahasa Sunda berarti “merentang” atau “berjajar”. Meski daerah itu masuk Jawa Tengah, masyarakat di sana masih menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari, tak memakai bahasa Jawa seperti daerah lain yang termasuk ke provinsi Jawa Tengah pada umumnya.

Pemanfaatan kawasan untuk wisata dan potensi ekonomi lokal memang harus didukung dengan menerapkan regulasi yang tegas agar tidak mengesampingkan keberlangsungan hidup ekosistem. Saya sadar, penulisan perjalanan macam ini akan mempengaruhi orang lain untuk datang, ketakutan terbesar adalah mereka yang tertarik dan datang tanpa disertai pemahaman etika yang baik mengenai keberlangsungan sebuah daerah wisata, membuat banyak wisatawan berperilaku seenaknya.

Amit-amit, semoga ini tidak terjadi hal demikian supaya tempat wisata atau tujuan perjalanan tetap terjaga dan bisa dinikmati generasi selanjutnya.

Bagus Sentanu

Pembaca jenis buku apa saja dan menulis sebisanya.