Menjadi Temanggungan Lewat Kopi Temanggung

Indonesia memang kaya akan jenis kopi, tapi tak berarti orang Indonesia telah mencecap semua jenis kopinya. Alasannya juga beragam, bisa jadi karena lambung seseorang tidak cocok dengan asupan kopi, tidak tersedianya warung kopi yang mumpuni atau tidak adanya kesempatan untuk bepergian ke daerah-daerah penghasil kopi.

Saya bahkan (pernah) rela menukarkan kartu diskon ngopi di Starbucks hasil menang lucky draw saat expo di sebuah perpustakaan dengan sebuah flashdisk berbentuk seperti kartu kredit.

Bagi saya yang masuk kategori peminum kopi amatiran, belajar egois itu bisa lewat kopi. Sepanjang kedai Miko (Minum Kopi) buka di bilangan Jalan Damai, Kaliurang, saya tak pernah sedikitpun berpaling dari kopi Arabika Temanggung.

Sebelumnya saya berkali-kali menikmati Kopi Toraja di Legend Coffee dekat Stadion Kridosono dan di Kedai Kopi tepat di sisi kiri Tugu Jogja samping Bank BRI. Sesekali juga menikmati kopi sachetan merk Kapal Api di kantin kampus saat jeda kuliah. Minum kopi di kantin kampus bagi saya bermata dua, bisa membuat Anda malas masuk kelas karena keasyikan ngobrol dan ngopinya, bisa juga sebagai penjaga energi Anda biar rajin masuk kelas. Saya berusaha untuk berada di kategori terakhir.

Kopi Temanggung Arabika Penyajian Tubruk
Kopi Temanggung Arabika Penyajian Tubruk | © Ade Saktiawan

Kembali ke Kopi Temanggung. Sejak Kedai Miko buka, setidaknya saya sudah 3-4 kali menikmati Kopi Temanggung penyajian tubruk. Pertama, saat Kedai Miko resmi beroperasi, kedua dan ketiga sehabis pulang bermain futsal dan sedang kedatangan kawan yang sedang liburan ke Yogyakarta. Keempat saat momen malam mingguan bersama anak lelaki dan istri tercinta.

Pengalaman ketiga dan keempat saya anggap sebagai awaydays ke homenya PSS Sleman. Posisi kontrakan saya, letaknya di Maguwo, Banguntapan merupakan basis suporter dari PSIM Yogyakarta. Tembok-temboknya dan bendera yang dikibarkan serta sering dipakai tiang di atap rumah-rumah adalah bukti fanatisme masyarakat Banguntapan kepada PSIM Yogyakarta.

Menuju ke Kedai Miko di malam minggu dari arah Flyover Janti, belok lewat Gorongan, Wahid Hasyim tempat Dongeng Kopi dan terus lewat jalan Kaliurang butuh kesabaran ekstra, selain karena jaraknya yang agak jauh, juga karena macetnya. Bus pariwisata, taksi, motor dan mobil tumpah ruah. Kedai Miko berada satu atap dengan Angkringan Mojok ini terletak di Jalan Damai 128 Yogyakarta.

* * *

Bagi Anda yang menganggap minum kopi itu ibarat ritual peribadatan arabika yang harus dijaga kemurniannya, Kedai Miko menyediakan jenis kopi yang seluruhnya Arabika. Mulai dari kopi Aceh, Mandhailing, Lintong, Bondowoso (kampungnya Armand Dhani), Java Ijen, Java Temanggung, Papua, Bali, Flores Manggarai, dan Flores Bajawa. Anda bebas memilih jenis penyajiannya. Tapi sebagai peminum kopi yang egois, saya menyarankan anda memilih Arabika Java Temanggung dengan penyajian tubruk.

Harganya terjangkau, sebesar tiga belas ribu, Java Temanggung begitu pas di lidah (dan di dompet), tapi dengan syarat gulanya jangan dituangkan semua ke dalam cangkir. Hangat, pahit dan keasamannya pas.

Barista berparas tampan meracik kopi Temanggung tubruk pesanan saya
Barista berparas tampan meracik kopi Temanggung tubruk pesanan saya | © Ade Saktiawan

Temanggung, yang sangat terkenal dengan hasil tembakaunya, dari beberapa sumber berita yang saya baca lewat mesin pencari, bahwa tanaman kopi Temanggung tumbuh bersama tembakau, sehingga Arabika Java Temanggung ini punya cita rasa berbeda dengan kopi lainnya. Sekali lagi, kelas saya adalah pengopi amatiran, biarlah penjelajah kopi yang mengabarkan keajaiban tiap jenis kopi Arabika di sepanjang nusantara.

Karena alasan lapar, menikmati kopi Temangggung, bisa didahului dengan menikmati salah satu jenis sego yang ada di Angkringan Mojok. Ada sego bandeng, sego teri, sego kikil, dan bisa memilih trio gorengan tempe, perkedel dan tape goreng. Aneka sosis, nugget, dan bakso juga ada. Adab beribadat di kedua tempat ini ya tidak jauh-jauh dari ‘Berhentilah makan sebelum kenyang, karena Kopi Temanggung menanti Anda’.

Kopi bagi peminum amatiran bisa membuat jadi egois terhadap pilihan-pilihan jenis kopi yang lain, tapi kedai kopi adalah pelajaran toleransi yang hakiki. Kedai Kopi seperti Miko sangat toleran bagi Anda yang (lagi) tidak ingin menikmati Kopi. Masih ada Hot Chocolate, Red Velvet, Teh dan aneka Jus yang bisa Anda teguk.

Kalau Agus bisa Magelangan, Hitler seorang Nietzschean, Nusron adalah Barthesian, mari jadi Temanggungan lewat Kopi Temanggung.

Ade Saktiawan

PNS yang lagi leisure di Yogyakarta.