Menjadi Ksatria di Joglo Kopas

Tepat pukul 23.16 Wib aku terbangun. Kutemukan sepi di malam Minggu itu. Kulihat setiap sudut kamar samping kanan-kiri kosku, juga sepi. Mungkin para penghuni kos kini sedang menjelajah malam bersama kekasih di malam Minggu, sampai pagi.

Aku tak tahan di dalam kamar. Aku berkemas dan bergegas untuk menghilangkan jenuh. Menutup pintu kamar, berjalan menelusuri setiap lorong yang masih dipadati banyak pengendara motor. Aku berjalan ke utara, berhenti, lalu berbelok arah ke timur, memasuki area parkiran yang padat oleh banyak pengunjung: sebuah kedai kopi, Joglo Kopas namanya.

Joglo Kopas adalah warung kopi tradisional. Warung kopi yang ku pilih untuk menemaniku malam itu. Sejak pertama berdiri lebih dari sebulan yang lalu, aku mulai terpikat dengan warung kopi ini. Tidak hanya kualitas kopinya yang bagus, tapi harganya yang juga bersahabat. Sejak itu, aku kerap berkunjung ke warung itu.

Joglo kopas tampak dari depan
Joglo kopas tampak dari depan | © M Faksi Fahlevi
Joglo kopas tanpak dari depan pintu
Joglo kopas tanpak dari depan pintu | © M Faksi Fahlevi

Apa yang menarik dari Joglo Kopas? Selain menghadirkan ragam racikan kopi khas nusantara, dan harga yang murah, Joglo Kopas menyimpan nilai sejarah. Aku belajar pelbagai banyak hal di Joglo Kopas, terutama menikmati dan meresap megahnya ukiran bersejarah yang menyimpan nilai estetika yang luar biasa.

Kemegahannya akan kita dapati di pintu utamanya. Ukiran di pintu Joglo Kopas saya anggap ada campur tangan semesta. Hal yang sama itu juga kita jumpai di dalamnya. Orang-orangnya yang ramah, saling menukar pandang, dan senyuman walaupun kita tak kenal.

Sesekali aku membayangkan ngopi di Joglo Kopas terasa hidup di dunia para pendekar zaman kerajaan nusantara hidup dulu. Dimana para ksatria dilahirkan, dan para pendekar berkumpul atau sekadar mampir untuk menghilangkan penat. Dan seketika, tukang parkir tidak lagi berujar, “Tolong parkir motornya yang rapi mas,” tapi, “silahkan parkir kudanya yang rapi kisanak”.

Sesampai di sana, semula aku duduk di sudut pojok tenggara ruang utama, sebab hanya di situ kursi yang tersisa, di samping saya ada sekelompok anak muda yang setiap harinya menghabiskan waktunya di Joglo kopas, satu di antara delapan anak muda itu adalah Sabda Holil.

Bagi Holil, ngopi adalah sebagian dari hidupnya. Bahkan ia menyebutnya sebagai ibadah sunnah. “Sebab ibadah yang baik adalah ia selalu mencintai warisan dan kekayaan budayanya, seperti budaya ngopi,” ungkapnya, “seperti Nabi Muhammad mengistimewakan kurma”.

Hal serupa dirasakan oleh M Adi, lelaki kelahiran pulau garam, Sumenep. Selain desain bangunannya yang unik, menurut Adi, suasana di warung Kopi Joglo seolah menggambarkan tradisi Jawa yang masih kental, “Serasa ngopi di kraton,” ungkapnya. Menurutnya, warung kopi yang seperti itu sangat jarang didapati di Jogja.

Ruang utama kopas joglo
Ruang utama kopas joglo | © M Faksi Fahlevi
Ruang dua Joglo Kopas
Ruang dua Joglo Kopas | © M Faksi Fahlevi

Waktu semakin larut, dan pengunjung satu persatu mulai bergegas pulang. Aku masih ditemani secangkir kopi hitam, meski suara para takmir masjid memberi tanda masuknya waktu sahur.

Di Joglo Kopas, ruang utama didesain bagi para tamu. Terdapat juga dua tempat eksekutif dengan sofa lembut untuk siapapun yang mau mengeluarkan kocek tambahan Rp10 ribu untuk setiap kursi. Tapi yang jelas, kedua ruangan berlaku buat semua pengunjung, meski secara teknis berbeda.

Malam itu pengunjung sangat ramai. Salah satunya ada yang mengenakan ikat kepala dengan rambutnya dibelah dua. Ada juga segerombolan orang yang mengenakan kaos dan celana bolong di lutut dan pahanya, ada yang mengenakan jilbab serta rok panjang, dan di sudut paling timur, di bawah televisi, sekelompok orang mengenakan kerudung dan mengenakan celana jins.

Desain interior Joglo Kopas
Desain interior Joglo Kopas | © M Faksi Fahlevi

Aku yakin mereka kisanak-kisanak dari padepokan yang berbeda. Tapi, apa arti dari semua pakaian jika kita tidak bisa ketawa dan happy. Warung kopi adalah rumah ibadah, tempat berdemokrasi, dan Joglo Kopas jelas menawarkan warna budaya. Tidak ada ekstasi, hanya ada kegilaan ekspresi pada kopi.

Tak hanya kelompok dan anak muda yang mempunyai ilmu kanuragan tinggi yang datang ngopi ke Joglo Kopas, melainkan para saudagar dan syahbandar yang melakukan transaksi bisnisnya juga ikut mewarnai ngopi di warung ini. Namun, bagi saya Joglo kopas adalah rumah untuk menghilangkan derita sebagai mahasiswa akhir yang tak kunjung lulus-lulus jua.

Tak terasa waktu telah lama larut, dan aku masih bersama secangkir kopi hitam sembari mencumbuinya sedikit demi sedikit sebagai penutup, sebab imsak telah tiba. Meski ia tak lagi hangat beraroma, tapi aku mau baunya tetap tersisa sampai aku kembali mencumbuinya di waktu berbuka puasa.

M Faksi Fahlevi

Penulis lepas


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405