Menilik Gaya di Salon dan Spa Muslimah

Brosur promosi pembukaan sebuah Salon dan Spa Muslimah itu dilengkapi dengan tambahan penawaran diskon menarik untuk harga seluruh jasa perawatan mulai dari rambut (haircare), wajah (face treatment), dan tubuh (body treatment). Daftar harganya masuk dalam kategori standar, mulai dari 50 ribu hingga hampir 300 ribu rupiah. Harga yang cukup masuk akal mengingat lokasi yang berada di sekitar kampus. Branding “Muslimah”, maksud saya, khususnya untuk bisnis Salon dan Spa bukan pertama kali hadir di sekitar kampus yang dikenal cukup “Islami” ini. Ya, jika anda berjalan-jalan di lingkungan Universitas Sebelas Maret Surakarta, mata anda akan merayapi masjid kampus yang begitu megah, dan tentu saja perempuan-perempuan berkerudung, mulai dari yang model kekinian hingga yang bercadar. Perempuan dengan kain di kepala sebagai identitas keislaman tersebut, jika kita tilik dalam perspektif aktivitas ekonomi, tentu saja boleh kita sebut sebagai pasar atau calon konsumen. Artinya, kita bersepakat bahwa pasar —dalam bahasa Majalah Marketeers disebut kaum menengah muslim ini cukup menjanjikan.

Ruang tunggu sekaligus ruang reservasi yang dijaga oleh seorang customer service berkerudung itu tidak terlalu luas namun cukup nyaman. Begitu memasuki ruangan tersebut, suara Maher Zein, penyanyi R&B asal Swedia mengalun mendendangkan lagu “Thank You Allah”. Tidak ada Majalah Cosmo atau Vogue yang biasa kita jumpai dalam salon-salon biasa. Di sebuah meja kecil, tergeletak beberapa edisi Majalah Hadila. Majalah itu merupakan majalah bertemakan keluarga Islami yang cukup masyhur di Solo. Di salon-salon biasa, keberadaan Cosmo atau Vogue tentu menunjang bisnis salon. Majalah perempuan kelas menengah (ke atas) itu banyak mengulas perihal mode dan gaya hidup. Dalam lembar-lembarnya bertebaran iklan sulam alis, sulam bibir, produk pelangsing, dan semacamnya yang dapat merangsang customer untuk penasaran dan memesan jasa perawatan salon. Sedangkan Hadila, saya pikir tidak terlalu berkaitan untuk motif semacam itu.

Ruang Reservasi
Ruang Reservasi | © Kalis Mardiasih
Majalah Islami di Ruang Reservasi
Majalah Islami di Ruang Reservasi | © Kalis Mardiasih

Sembari melihat-lihat, saya memilih aromatic facial treatment dan fresh natural creambath sebagai perawatan yang bakal saya jalani di salon ini.

“Mbak, ini kok ada merek W. Apakah merek W bekerja sama dengan salon ini?” Saya sempatkan bertanya ketika memilih-milih merek produk.

“Nggak tuh, Mbak.” Si customer service menjawab dengan begitu manisnya.

“Saya pikir ada kerjasama. Kan merek W cukup asosiatif sebagai brand atau kosmetik Muslimah tuh. Halal pula. Hehehe…”

“Nggak sih, Mbak. Produk-produk di sini hanya hasil survey saja dari merk-merk yang paling sering dipakai konsumen.”

Setelah menunggu beberapa saat, seorang therapist keluar ruangan kemudian memandu saya naik ke lantai dua. Saya disodori sebuah kemben tak ubahnya di salon-salon biasa. Setelah merebahkan diri pada sebuah kasur kecil, si therapist berujar, “Saya mulai ya, Mbak… Bismillahirrahmanirrahiim…”

Langkah-langkah berikutnya bersifat umum saja. Alat-alat yang digunakan juga umum.

Hingga ketika perawatan telah selesai, si therapist berkerudung yang mengaku berusia 19 tahun itu kembali berujar,”Alhamdulillah… perawatan sudah selesai ya, Mbak…”

Di sela-sela creambath, saya iseng bertanya perihal jenis perawatan yang dalam islam masih bersifat kontroversial seperti rebonding dan mewarnai rambut sesuai dengan warna aslinya. Jawabnya, salon tetap memberikan layanan yang untuk beberapa golongan dihukumi haram itu.

“Paling-paling kita memberikan pengertian ke customer, Mbak. Misalnya mengatakan jika rebonding itu masih belum jelas hukumnya… Begitu.”

Sang therapist bercerita bahwa ia telah mendapat pelatihan selama tiga bulan di Yogyakarta. Selama tiga bulan itu, ia tinggal di semacam asrama yang selain memberikan pendidikan berkaitan dengan pelayanan kecantikan, juga memberikan serangkaian agenda Islami berupa pengajian rutin seputar akhlak dan tauhid. Ada seorang ustadz yang biasa datang mengampu pengajian di asrama itu.

“Ngaji Fikihnya ada tidak?” saya menggoda.

“Emm, tidak ada sih Mbak. Hanya akhlak yang sering.”

“Padahal Fikih itu penting juga loh. Tentang air, tentang najis.” Saya terkekeh.

Meski Kecil, Ruang Solat Harus Tetap Ada
Meski Kecil, Ruang Solat Harus Tetap Ada | © Kalis Mardiasih
Tidak Beda dengan Salon Biasa
Tidak Beda dengan Salon Biasa | © Kalis Mardiasih

Selang sepekan kemudian, saya datang kembali mengunjungi salon yang sama. Di ruang tamu, masih terputar lagu Maher Zain. Saya pun iseng nyeletuk kepada Mbak Customer Service.

“Mbak, nggak bosen muter lagu ini mulu. Biar Islami ya, Mbak… Hehehe.”

“Saya ganti kalau pas tidak ada customer, Mbak. Ketentuan dari atasan begitu.” Ia ikut tergelak.

Kali ini, saya ingin mencoba layanan body treatment. Seperti layanan yang sudah-sudah, tidak ada yang cukup “berbeda” dari segi treatment dan produk yang digunakan, kecuali ucapan Bismillah dan Alhamdulillah yang terdengar di awal dan di akhir prosesi. Untuk body treatment yang terdiri dari rangkaian massage, scrub dan sauna itu, jujur saja saya memang merasa lebih nyaman. Di salon ini, ada beberapa standar yang dijalankan seperti badan yang tidak dibiarkan terbuka seluruhnya ketika prosesi memijit atau lulur (ditutup kain jarik, handuk atau kimono). Kesopanan therapist memang begitu saya rasakan.

Ruang Perawatan yang Tidak Berbeda dengan Salon Pada Umumnya
Ruang Perawatan yang Tidak Berbeda dengan Salon Pada Umumnya | © Kalis Mardiasih
Peralatan yang Tak Beda
Peralatan yang Tak Beda | © Kalis Mardiasih

Seperti yang telah saya ungkap di awal, bisnis Salon dan Spa dengan branding “Muslimah” di daerah sekitar kampus ini sebetulnya bukan yang pertama kali. Tetapi, salon Muslimah yang selain ini, bagi saya cukup ekslusif. Salon-salon sejenis itu sebelumnya adalah milik Mbak-Mbak berkerudung lebar yang cenderung tanpa konsep. Sedangkan salon ini adalah milik seorang dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Moewardi dengan konsep yang tentu saja murni bisnis. Jika anda memiliki modal 150-200 juta, anda dapat membuka bisnis serupa.

“Yang datang juga belum tentu hanya Muslimah ya, Mbak…wong tidak ada pemeriksaan KTP. Itu Mbaknya juga tidak berkerudung.” Saya tertawa pada Customer Service sambil menunjuk ke salah satu customer.

“Iya… Boleh Mbak.”

“Hayo… kok namanya Salon dan Spa Muslimah?”

“Mmmm kita yang penting cowok nggak masuk ruang reservasi aja sih, Mbak.” Jawabnya, masih dengan manis dan sangat santun.

Teori nilai mengenal dunia kebudayaan dan dunia agama disamping dunia filsafat. Pendeknya, nilai kebudayaan adalah apa-apa yang menyangkut soal dunia, sedangkan nilai agama berhubungan dengan soal akhirat. Kata Islam yang mendapat akhiran “I” praktis masuk dalam ranah kebudayaan. Kita lalu berjumpa dengan polemik bagaimana nilai-nilai agama jika disatukan dengan pemenuhan hasrat-hasrat dunia. Sebuah studi mengenai Islamic worldview (Pandangan dunia Islami) berhasrat menciptakan peradaban dunia yang sesuai prinsip-prinsip Islam. Praktiknya, dalam bisnis kecantikan, seringkali pengaruh nilai dunia (dalam hal ini budaya kapitalisme dengan hadirnya merek dan berbagai layanan perawatan yang sesuai tren pasar global) tentu lebih besar dibanding nilai kecantikan dalam Islam yang sesungguhnya sama sekali menghilangkan bentuk-bentuk superfisial (atau bahkan sama sekali menghilangkan bentuk tersebut).

“Yang penting sistem penggajiannya adil ya, Mbak…”

“Emm. Ya sama-sama aja sih, Mbak. UMR…hanya Alhamdulillah bos kita baik kok.”

Saya pun berpamitan setelah mengucap terima kasih dan Assalamulaikum.

Kalis Mardiasih

Penulis dan Penerjemah Partikelir.