Menikmati Masakan Betawi di Rawabelong

Bermacam menu di rumah makan betawi bang Uwan
Bermacam menu di rumah makan betawi bang Uwan | © Fawaz

Dulu, semasa masih duduk di bangku sekolah dasar, setiap kali perjalanan pulang sekolah, saya selalu menyempatkan diri untuk berhenti di sebuah rumah makan berukuran kecil yang berada tak jauh dari rumah. Entahlah, saya tertarik melihat antrian banyak orang menunggu makanan pesanannya. Mereka yang pesanannya sudah datang, asyik menyantap menu-menu yang dihidangkan di atas meja. Bila menyaksikan semua itu, kelenjar air liur mulai berproduksi dan memenuhi rongga mulut. Perut pun mulai keroncongan.

Jauh setelah rutinitas harian sepulang sekolah itu, saya baru benar-benar bisa merasakan masakan racikan koki di rumah makan yang saban hari saya lewati itu 7 tahun setelahnya. Umi akhirnya mengajak saya makan di rumah makan milik Bang Uwan dan Bang Pa’i itu. Warung makan dengan menu utama nasi uduk dan ketupat sayur yang juga menyajikan masakan rumahan khas betawi.

Setelah saya merantau ke Yogya, tiap kali pulang ke rumah, saya selalu berusaha untuk menyempatkan diri makan di rumah makan ini. Citarasa masakan betawi kental terasa, tak berubah sejak pertama kali saya mencicipnya sekira 14 tahun yang lalu, tetap lezat manjakan lidah.

Reklame rumah makan Bang Uwan
Reklame rumah makan Bang Uwan | © Fawaz

Minggu 2 Oktober 2016, saya akhirnya berkesempatan mengajak istri mencicip masakan betawi buatan Bang Pa’i. Dari rumah orangtua saya, kami memilih berangkat sesaat setelah puncak jam makan siang. Kami sengaja menunda keberangatan dengan harapan rumah makan sudah sedikit lebih sepi.

Mengendarai sepeda motor, kami menyusuri lorong-lorong di perkampungan padat wilayah Rawabelong, Jakarta Barat. Cukup 13 menit perjalanan, kami tiba di bangunan sederhana berukuran 5 meter kali 4 meter itu. Dua buah meja panjang masing-masing terdiri dari 8 kursi yang melingkarinya serta sebuah meja yang menempel ke dinding dengan 6 buah kursi terlihat kosong. Hanya ada seorang bapak yang tengah asyik menyantap makanannya saat kami datang. Tanpa tunggu lama kami segera memesan makanan untuk bisa kami santap.

Di etalase yang berada di bagian belakang warung makan, tersedia berbagai macam masakan. Ayam goreng, semur tahu dan telur, ikan bandeng baik yang digoreng atau dimasak pindang, sambal kentang, sayur asem, telur dadar, asinan betawi, gorengan dan beberapa masakan lainnya. Saya memesan nasi, sayur asem, dan dendeng daging sapi. Istri saya memesan nasi uduk, dendeng daging sapi, dan asinan betawi. Dua gelas es teh manis disajikan untuk menemani makan siang kami.

Beberapa detik setelahnya, pertempuran pun dimulai.

Dendeng daging sapi yang digoreng kering ditaburi bawang goreng, dicocol ke sambal kacang dan sambal terasi, masuk ke mulut didampingi nasi. Lidah dimanjakan rasa pedas dan gurih yang berpadu dengan baik. Menggunakan sendok, mangkuk berisi sayur asem saya aduk, menyendok sedikit kuah, daun melinjo, kacang panjang dan pepaya muda kemudian memindahkannya ke mulut. Rasa asam dan pedas pertama-tama mendominasi, setelah mengunyah sayuran, sedikit rasa manis juga terasa. Potongan nangka muda, kentang, jagung manis dan buah melinjo melengkapi isi yang tenggelam dalam genangan kuah sayur asem.

Kita memang akan mudah menjumpai sayur asem di beberapa warung makan. Di banyak daerah sayur asem mudah ditemukan dan kerap disajikan untuk menu pendamping nasi dan lauk. Namun, seringkali saya temui, alih-alih didominasi rasa asam dan pedas, sayur asem di wilayah lain kerap terasa terlalu manis, ada pula yang hambar. Sayur asem yang paling pas memang paling mudah ditemui di wilayah Jakarta.

Dendeng daging sapi dengan sambal kacang dan terasi serta taburan bawang goreng.
Dendeng daging sapi dengan sambal kacang dan terasi serta taburan bawang goreng. | © Fawaz
Sayur asem dan asinan betawi, dua menu favorit di rumah makan Bang Uwan.
Sayur asem dan asinan betawi, dua menu favorit di rumah makan Bang Uwan. | © Fawaz

Saat nasi, sayur asem dan dendeng daging sapi yang dilengkapi dua jenis sambal sudah saya tandaskan, saya melanjutkan menyantap asinan betawi, jenis asinan yang hanya ada di betawi. Kubis, mentimun, tauge, sawi dan tahu yang kesemuanya mentah diguyur campuran cabai, bawang dan cuka. Kacang tanah yang digoreng kemudian ditaburkan di atasnya. Sesederhana itu, namun rasanya sungguh memanjakan lidah. Pedas, asam dan gurih silih berganti terasa di lidah. Rasa segar dari sayuran mentah jelas terasa.

Selain asinan betawi, ada juga masakan khas betawi lainnya, asinan juhi namanya. Asinan ini terdiri dari bahan-bahan asinan yang saya sebut di atas ditambah mie kuning, sambal kacang dan juhi (sejenis cumi/sotong yang dikeringkan). Tapi di warung makan Bang Uwan dan Bang Pa’i, asinan juhi tidak tersedia.

Makan siang kami usai, tentu saja kami harus membayar sebelum pulang. Di tambah 2 bungkus asinan betawi yang kami bawa untuk oleh-oleh di rumah, untuk 2 piring nasi uduk dan nasi putih, 2 potong dendeng daging sapi, semangkuk sayur asem, sepiring asinan betawi, 2 gelas es teh manis dan sebungkus emping. Kami cukup membayar sebesar Rp105 ribu saja. Sebuah harga yang relatif murah dan pantas untuk rasa masakan rumahan khas betawi yang memanjakan lidah.

Untuk Anda yang tinggal di Jakarta, atau sedang berkunjung ke Jakarta dan ingin merasakan masakan rumahan khas betawi yang lezat, saya rekomendasikan untuk berkunjung ke rumah makan milik Bang Uwan dan Bang Pa’i ini. Letaknya di Jalan Madrasah 1 Nomor 2B, Jakarta Barat. Sekitar 300 meter saja dari kantor Jawa Pos di Jalan Raya Kebayoran Lama, Pos Pengumben.

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba