Menikmati Kopi Sore Di Warung Dardja

Anak-anak muda di Warung Dardja dengan kopi andalannya 'Kopi Congress'
Anak-anak muda di Warung Dardja dengan kopi andalannya ‘Kopi Congress’ | © Matdon

Sore belum sempurna, di belakang sebuah rumah di jalan Bojongkacor 4 kawasan Cikutra Bandung, 6 km dari pusat kota, nampak Mukti-Mukti memainkan bebarapa buah lagu dengan gitar yang terbuat dari bambu, Sapei Rusin mengatur beberapa anak buahnya, Dadang Sudardja juga, Sementara Trisno turut mendampingi Mukti ngagitar.

Oh, ada Alex yang sedang roasting kopi dan beberapa orang membungkusnya dalam kemasan 100 gram dan 250 gram. Mereka menyebutnya sebagai Kopi Congress, kopi dengan cita rasa tinggi, karena dibuat dengan cara manual; mulai dari menjemur, menguliti, roasting dan nyeduh.

Saya tertarik dengan aromanya, hingga tertarik untuk menikmatinya sore itu. Luar biasa memang , setelah Ajeng Kesuma menyodorkan secangkir kopi Arabica Ciwidey, hmm….rasanya yummi banget! Secangkir kopi, lagu Mukti-Mukti dan pemandangan sore yang cerah.

Lalu saya googling dan menemukan ini, bahwa sejarah kopi di tanah air adalah sejarah panjang darah dan air mata, meski tidak diketahui secara pasti, kopi datang ke Indonesia oleh Gubernur Belanda di Malabar (India) yang mengirim bibit kopi Yaman atau kopi arabika (Coffea Arabica) kepada Gubernur Belanda di Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1696.

Baru pada tahun 1711 tanaman ini bisa ekspor pertama kali dikirim dari Jawa ke Eropa oleh perusahaan dagang Belanda, dikenal sebagai VOC (Verininging Oogst Indies Company) yang didirikan pada tahun 1602. Selama 10 tahun, ekspor meningkat menjadi 60 ton per tahun. Indonesia adalah tempat pertama kali kopi dibudidayakan secara luas di luar Arab dan Ethiopia. VOC memonopoli perdagangan kopi pada tahun 1725 sampai 1780.

Akhirnya Indonesia terkenal sebagai salah satu negeri penghasil kopi terbaik Dunia. Dan kopi sudah sejak lama jadi minuman semua kalangan tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi. Maka kemudian muncul Istilah ‘A Cup of Java’ yang sangat dikenal di dunia barat. A Cup of Java merupakan istilah secangkir kopi identik dengan pulau Jawa dan Kawasan Priangan merupakan tempat pertama pengembangan perkebunan kopi di Indonesia. Kini minum kopi membudaya dimana-mana dan di semua kalangan, rasanya nikmat dan aromanya harum, tapi perlu diingat kekhasan kopi dipengaruhi oleh jenis dan cara pengolahan.

Adalah Kopi “Congress” merupakan kopi yang diolah secara tradisional oleh sekelompok pemuda di kawasan Bojongkacor Cukang Kawung Bandung. Mereka memproduksi dua jenis kopi yakni arabika dan robusta dari Ciwidey, Malabar, Taraju, lembang dan Palintang.

“Untuk menjaga kualitas aroma dan rasa kami mengolahnya secara tradisional,” ujar Wisnu Adi, seorang pengelola kopi “Congress” Warung Dardja.

Kopi “Congress” memang belum setenar kopi Aroma, Java Co atau Kopi Malabar. Tapi sebagai bentuk kesadaran anak-anak muda, kopi ini boleh dicoba. Dan pembaca bisa memesannya di Warung Dardja, 100 gram seharga 30 ribu dan 250 gram seharga 70 ribu.

Ragam sajian Khas Warung Dardja
Ragam sajian Khas Warung Dardja | © Matdon

Uniknya, mereka yang minum di Warung Dadja, tidak dipungut biaya sepeserpun, Menurut Sapei Rusin, minum di Warung Dardja memang tidak usah bayar, bahkan menginap juga boleh. Tersedia sebuah kamar di lantai dua, kamar yang juga menawarkan keindahan jika malam tiba.

Kenapa gratis?

“Sepanjang kami bernapas, sepanjang itu pula kami akan berusaha memberikan yang terbaik bagi manusia, siapa saja. Kami disini hanya bisa berdoa, berusaha dan bersedekah,” kata ketua pengelola Warung Dardja itu.

Apa karena gratis, kopi menjadi nikmat? tidak juga. Karena memang kopi yang diolah di Warung Dardja merupakan kopi pilihan dari berbagai kota di Jawa Barat. Warung Dardja terletak di Jalan Bojong Kacor 4, jika anda ingin sekedar mampir, datanglah langsung kesana, dari alun-alun Bandung atau Stasiun hanya 30 menitan, dari Makam Taman Pahlawan hanya sekitar 5 menit. Jangan coba untuk menelpon, karena nanti yang mengangkat telpon hanya akan bicara “Hallo, disini KPRI ada yang bisa saya bantu?”

Begini saja, datang sore sampai malam, lalu nikmati kopi Congress di Warung Dardja, maka anda akan menikmati sensasi yang lain. Sesekali bolehlah pakai gula, untuk bisa membedakan yang pahit itu kopi atau hidup kita.

Matdon

Penyair/penulis/wartawan. Tinggal di Bandung. Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405