Menikmati Kopi Klotok di Markas Lazio

Egois Cafe
Egois - Nasi Bakar & Kopi Klothok. © Danu Saputra

Egois Cafe terletak di Jalan Cepit Baru Selokan Matraman, Yogyakarta. Egois, bukanlah mengambil makna yang selama ini kebanyakan orang ketahui. “Enak sego isi,” kata Andy Setiawan yang dipanggil Leo menerangkan singkatan dari kata ‘egois’. “Kita bikin penasaran juga,” tambahnya supaya para pengunjung penasaran dan mampir.

Dari menu-menu yang ditawarkan beberapa jenis kopi berbeda, kopi klotok, kopi egois, kopi klotok plus, angel coffee, boyish coffee. Cara penyajian kopi di Egois Café menggunakan teknik pemanasan menggunakan kompor. Tentu ini membuat kopi mendapatkan panas lebih sempurna. Dalam kopi egois, angel dan boyish coffee ini memadukan beberapa varian kopi dari daerah Indonesia.

Saya tertarik merasakan kopi klotok. Kopi ini masih tetap memadukan kopi dari beberapa daerah namun menggunakan fermentasi arak sebagai tambahan air. Perpaduan kopi dan arak dibuat seimbang, rasa kopi sama sekali tidak hilang. Seseorang yang memesan kopi klotok kebanyakan hanya untuk mencari sensasi beda.

Saya diberi kesempatan untuk menengok pembuatan kopi klotok di Egois. Di dapur telah ada Sarwan, seorang yang telah setahun bekerja di tempat ini, kini ia telah mempunyai keahlian dalam memadu-madankan kopi. Ia mengambil air dari galon air mineral yang berada di sebelahnya. Air itu ia masukkan di wadah air yang telah siaga di atas kompor. Air ia nyalakan dengan api yang sedang. Tak begitu lama air telah mengeluarkan gelembung-gelembung tanda telah panas.

Ia lantas mengambil kopi dari toples yang tersedia dekat kompor. Ia mengambil tiga setengah sendok kecil, dan memasukkannya satu per satu ke wadah air di atas kompor. Lalu ia memasukkan kopi dari wadah yang lainnya. Kopi ini memadukan kopi arabika, robusta, dan alkohol.

“Klotok.. klotok… klotok…” Suara terdengar dari perpaduan air dan kopi yang dipanaskan. Itulah asal nama dari kopi klotok.

Leo, memberikan keterangan bahwa di kedai kopinya yang ditawarkan adalah kopi klotok. Pengunjung tidak diperkenankan untuk memesan arak dalam bentuk asli. Selain itu takaran alkohol yang menjadi campuran telah disesuaikan. Kopi tetap menjadi sajian utamanya.

* * *

Di Egois juga menghadirkan sajian makanan istimewa yang resepnya diracik oleh M. Zaelani. Dia adalah seorang yang suka masak. Sejak awal berdirinya Egois Café dua tahun lalu pemuda yang kerap disapa Lani ini telah di sini. Dia merancang aneka menu yang disajikan. Beberapa menu andalan di kedai ini tidak mungkin ditemui di tempat lain.

Lani, dia masih muda. Sekarang ini dia sedang mengambil kursus memasak di Yogyakarta. Orang tuanya di Tegal tidak tahu akan kerjanya serta kursus yang tengah ditempuhnya. Kedua orang tuanya tidak setuju dengan pilihannya menjadi koki. Namun memasak adalah kesenangannya. Saat masuk sekolah menengah, ia terpaksa membohongi kedua orang tuanya karena memilih jurusan tataboga. “Bilangnya mengambil jurusan mesin,” katanya.
Egois Cafe
Egois Cafe © Danu Saputra

Di jurusan itu hanya beberapa orang lelaki yang masuk. Alasan ini yang menurutnya membuat orang tuanya menentang pilihannya. Jurusan tataboga masih dianggap milik kaum wanita. Meski belakangan ini koki lelaki tampil menawan menghiasi layar kaca, membuat pandangan umum sedikit berubah. Bahwa memasak bukan milik kaum hawa saja.

Nasi bakar adalah menu istimewa bikinan Lani. Namun karena bahan yang ada cuma untuk sepuluh porsi saja setiap malam jadi saya tidak bisa menikmati. Saya mencicipi masakan yang racikannya juga dibikin Lani. BBQ chicken kunlum yakni ayam bakar yang dilapisi saos istimewa. Makanan ini sebenarnya kudapan. Namun karena perut yang rewel, saya masih memesan nasi sebagai tambahan.

* * *

Sayup-sayup terdengar lantunan Vola Lazio, lagu untuk kesebelasan dari ibukota Italia. SS Lazio. Melalui panduan video dari Youtube mereka pun bernyanyi bersama. Setiap usai pertandingan baik menang maupun kalah Vola Lazio tidak pernah terlewat didendangkan.

Sejak musim ini digelar, Egois mendapatkan kontrak sebagai markas kesebelasan Lazio. Para pendukung Lazio ini senantiasa datang ke Egois dan menyaksikan pertandingan. Sayang malam itu tim kesayangan mereka sedang kalah dari Catania. Sekitar 40 orang yang memenuhi lantai dua Egois itu saling menguatkan. Salah satu caranya dengan bernyanyi bersama untuk tim kesayangan mereka.

Satrio Prasojo, mahasiswa UGM (Universitas Gajah Mada) yang turut menyaksikan tim yang didukungnya bertanding di Egois menyatakan, bahwa menonton pertandingan di tempat ini adalah rutinitas yang digelar setiap pertandingan Lazio. Di Egois ini dia memberi kesempatan bagi siapa pun untuk menyaksikan laga Lazio bareng.

Hari telah larut. Pukul 01.00 WIB saatnya jadwal layanan Egois berakhir. Saya pun undur diri setelah menikmati BBQ chicken kunlum yang pedas dan kopi klotok yang menghangatkan.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405