Menikmati Kopi Kintamani di Kintamani

Meski weekend, namun saya adik Navan, adik saya, harus bangun sepagi mungkin. Seperti rencana malam sebelumnya, kami akan melewati hari ini dengan perjalanan panjang mengeksplorasi Bali.

Navan pun harus packing segala macam barangnya karena ia harus pulang ke Jember pada sore hari. Setelah mandi dan segala sesuatunya beres kami pun siap menjelajah Bali dengan kegantengan kami.

Awalnya motor saya gas lurus menuju utara. Melewati pedesaan Bali lengkap dengan pasar paginya. Menuju Bali Utara adalah sebuah kerja keras bagi motor saya yang reyot, karena merupakan daerah pegunungan maka motor selalu saya gas optimal, apalagi berat tubuh Navan yang overweight menyebabkan motor saya meratap mengapa ia diciptakan ke dunia. Namun karena motor saya adalah belalang tempur —dan saya Kotaro Minami— maka alhamdulillah perjalanan ini pun lancar jaya.

Kopi Kintamani
Baliho tentang kopi Kintamani di ajang Indonesia Coffee Festival, di Kuta, Bali 2012 silam.

Bali Utara adalah sebuah tempat yang sejuk dan berfungsi sebagai sentra pertanian. Selama perjalanan, kami banyak disuguhi pemandangan hijau berupa kebun jeruk, kebun kopi, dan sayuran.

Udara yang dingin dan daerah yang subur dengan batas yang tinggi dari permukaan laut merupakan sebuah formula yang mantap bagi pertanian. Jalannya juga relatif sepi, jauh berbeda dengan Denpasar. Hingga pada ketinggian tertentu kami pun disuguhi dengan pemandangan indah ngarai dan bukit yang menghiasi Bali.

Kintamani sendiri adalah dataran tertinggi di Bali, letaknya sekitar 1600 meter diatas permukaan laut. Hawanya dingin dan selalu berkabut. Tak salah pada tahun tujuhpuluhan ada film yang berjudul Kabut di Kintamani, yang dibintangi oleh aktor gaek antagonis WD Mochtar.

“Dulu filmnya ya dibuat di sini, di jalan ini,” ujar pak Wayan menggebu menceritakan bagaimana film itu dibuat.

Pak Wayan juga yang memberitahu kami banyak hal tentang Kintamani, sejak jaman dahulu yang masih hutan hingga saat ini. Dia berkata kalo Kintamani itu asalnya dari kata ‘cinta money’ (baca: cintamani), entah benar atau tidak tapi saya enjoy saja mendengarkan ceritanya.

Kopi Kintamani
Salah seorang pengunjung menikmati Kopi Kintamani di ajang Indonesia Coffee Festival.

Saya dan Navan bertemu pak Wayan di sebuah warung di daerah pasar Kintamani. Kami memesan segelas kopi Kintamani yang terkenal itu. Kopi Kintamani sendiri adalah jenis specialty coffee, jenis kopi spesial dengan rasa enak yang endemik di sebuah daerah.

Di Indonesia sendiri selain kopi Kintamani ada juga kopi Toraja dan kopi Flores. Saya tahu banyak karena bapak saya sedang memperjuangkan patennya sebagai kopi endemik di tingkat internasional.

Namun saya sendiri nggak tahu dimana kita bisa menemukannya di Surabaya, mungkin di Tator Cafe atau Grazia Cafe ada, kalo di Coffee Corner saya nggak yakin. Tapi mungkin kamu akan menemukannya dengan harga yang berlipat mahalnya. Sedangkan segelas kopi Kintamani yang kami temui di warung itu hanya seharga seribu rupiah! Hahaha.

Menyeruput kopi Kintamani di Kintamani merupakan sebuah pengalaman yang menarik. Udara Kintamani yang berkabut dan orang-orang yang bersahabat membuat segelas kopi Kintamani ini semakin nikmat diseruput.

Kopi Kintamani yang saya minum teksturnya agak keras, pahitnya tahan agak lama, sedikit-sedikit muncul earthen taste. Sangat khas. Hah ini nih yang saya cari, pengalaman lidah dan batin yang bersatu. Nggak cuman ngopi tapi juga ngeblur sama suasana. Ini yang nggak bisa dibuat sama Starbucks sekalipun.

Selama ngopi di warung saya dan Navan diceritain banyak hal tentang Kintamani. Salah satunya adalah anjing Kintamani yang berekor cantik. Sudah lama saya mengagumi anjing lokal ini karena gesturnya yang tegap, bulunya halus, dan ekornya cakep, nggak kalah sama anjing-anjing impor.

Orang Kintamani sendiri percaya kalo anjing Kintamani itu lebih pintar dan lebih resisten terhadap penyakit. Saya sih iya iya aja. Suatu saat nanti saya mau kembali ke Kintamani, saya ingin melihat pasar anjing yang digelar tiga hari sekali. Semoga saya bisa memotretnya dalam sebuah esai foto.

Aklam Panyun

Penulis lepas