Menikmati Kopi “Kesendirian”

Kopi susu Warung Kopi Cak Wang
Kopi susu Warung Kopi Cak Wang © Syndi Nur Septian

Pukul 11.00 tepat, saya berangkat menuju Warung Kopi Cak Wang. Warung kopi ini sudah termahsyur di Jember. Di sana saya memesan secangkir kopi susu dengan kopi jenis robusta, sengaja saya tak memesan secangkir kopi hitam pekat dengan segala kepahitannya. Bukan karena saya takut lantaran pahit tapi karena reaksi kimia yang kadang tak bersahabat dengan perut saya. Apalagi saya belum sarapan.

Di Warung Kopi Cak Wang sengaja saya memilih kursi dan meja di pojokan warung karena saya datang seorang sendiri. Sendiri, bukan karena saya tak mampu mendapatkan pasangan ataupun seorang penganut paham autissmarphoneisme yang tak punya teman, tapi kadang secangkir kopi lebih nikmat jika dinikmati hanya seorang diri. Menikmati secangkir kopi seorang diri kadang memang dibutuhkan.

Kemarin saya sempat membaca tulisan di minumkopi.com yang berjudul, Lewat Secangkir Kopi, Sekat Pun Menghilang, tulisan dari kakak Ecka Paramita. Saya mengamini argumentasi yang ada di dalamnya. Dan saya pun tergugah untuk menulis tentang ini, bukan untuk mengkritik ataupun membantah, tapi hanya sebagai pelengkap dan menumbuhkan kembali hobi menulis saya.

Kadang menikmati secangkir kopi dengan ataupun tanpa kawan semeja tak ada beda rasanya. Sama-sama sepi, sama-sama tak hangat, dan sama-sama hanya sibuk dengan dunia masing-masing. Padahal secangkir kopi dan warung kopi adalah alat yang cukup ampuh untuk mengobati hati yang gundah dengan tertawa dan mendengarkan cerita kawan semeja, tanpa sekat dan tanpa jeda.

Tapi bagi yang lain, warung kopi bisa jadi menjadi tempat menyepi yang paling nyaman untuk merenungi diri atau bahkan untuk menghindar dari pertanyaan tentang status jomblo dan kapan lulus kuliah. Yang kedua ini, berlaku layaknya sufi yang majnun dengan kesendirian, dan rela meninggalkan segala hal-hal duniawi.

Menikmati secangkir kopi dengan kesendirian memang terdengar puitis, tapi percayalah saya bukan seorang penyair seperti Om Joko Pinurbo dengan puisi Surat Kopi-nya. Dan menikmati secangkir kopi dengan kesendirian adalah ritual yang mungkin semua orang mampu melakukan. Karena sendiri selalu dibarengi dengan kebosanan tanpa ada sepasang mata untuk diajak sebagai lawan bicara. Kebosanan pada zaman sekarang ini mungkin agak bisa dijinakkan dengan smartphone di tangan dengan segala sumber pengetahuan.

Tapi percayalah, bahwa kebosanan adalah musuh segala umat manusia, dan hanya manusia tercerahkan yang bisa mengatasinya dengan mudah. Saya pun merasakannya, kadang kebosanan datang dengan tiba-tiba di meja kopi karena teman semeja kopi sibuk dengan relasi dan gebetannya di layanan Messengger yang ada di smartphone. Tak ada topik bahasan yang tercipta, selain perut yang mendadak kembung. Lalu, apa bedanya menikmati secangkir kopi seperti itu dengan menikmati secangkir kopi ditemani dengan kesendirian?

Tiba-tiba saya teringat perkataan seorang teman saya, Catur namanya. Dia suka sekali menikmati secangkir kopi seorang diri di warung kopi. Sejak menuntut ilmu di bangku sekolah menengah atas dia sudah punya kebiasaan itu. Menikmati secangkir kopi seorang diri adalah upaya untuk menyejukkan hati, memotivasi diri, dan bahkan menyejukkan hati dari kekesalan atas teman yang selalu jaim saat duduk satu meja di warung kopi. Karena kebiasaannya, ia tidak jarang disebut sebagai orang gila, kuper dan tak punya teman.

Dari ungkapan teman saya, izinkan saya untuk menegaskan bahwa menikmati secangkir kopi seorang diri lebih baik daripada harus semeja dengan sepasang mata yang tak bisa diajak sebagai lawan bicara. Zaman sudah berubah, sudah banyak kemajuan dan kemunduran yang berjalan bersamaan. Kemajuannya, kian mudahnya mengakses informasi dan membaca artikel-artikel yang ada di minumkopi.com. Kemundurunnya, secangkir kopi sudah dihidangkan, tapi malah menunduk menatap recent update dan video dubsmash yang sekarang memenuhi sosial media Instagram.

Akan tetapi jika diizinkan untuk jujur, sejujurnya saya merindukan sepasang mata yang bisa menjadi lawan bicara, membicarakan apa saja dan tak melulu penting. Karena secangkir kopi yang sudah disiapkan di meja, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk sepasang mata di hadapan saya.

Syndi Nur Septian

Penikmat Kopi dan Pengagum Senja


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405