Menikmati Kopi di Tanah Lada

Urusan produksi kopi, Indonesia memang pantas masuk dalam salah satu jajaran atas dibanding negara-negara lain. Di negara kepulauan yang dianugerahi bentang pegunungan vulkanik ini, kopi seperti menemukan rumahnya untuk tumbuh. Begitu Belanda membawa kopi ke tanah Priangan pada akhir abad ke-18, kopi langsung menjadi populer dan menyebar di banyak tempat di Indonesia.

Hampir di seluruh dataran tinggi di Jawa, semua ditanami kopi. Yandri, teman saya yang baru saja menyelesaikan ekspedisi kopi lintas Jawa, bisa bercerita panjang lebar bagaimana kopi dibudidayakan dan sekaligus menjadi budaya di banyak tempat. Dalam sebuah obrolan singkat di Surabaya beberapa waktu lalu, Yandri, yang tampak letih usai melakoni perjalanan overland, menyinggung bubble bisnis kopi dan maraknya kafe fancy yang kini bermunculan di Jogja.

Saiki daya beli mahasiswa Jogja meningkat jeh,” kata Yandri, sambil mengenang hidupnya sebagai mahasiswa di Jogja yang kere hore.

Meskipun pohon kopi banyak ditanam di berbagai dataran tinggi di Indonesia, tapi budaya minum kopi justru berkembang di wilayah pesisir. Salah satu varian kopi specialty Arabica tumbuh subur di dataran tinggi Gayo, namun kedai dan industri kopi rumahan justru lebih banyak ditemui di Banda Aceh. Di Makassar, warung kopi khas peranakan juga mendapat pasokan dari Toraja dan Kalosi. Pula Gresik yang terkenal dengan budaya warung giras, kopi diimpor dari Blitar atau Bondowoso.

Fenomena sama terjadi juga di Belitung. Pulau kecil yang terletak di pantai timur Sumatera ini memilki budaya ngopi yang cukup melegenda. Tapi hampir semua biji kopi didatangkan dari Lampung. Tanah Belitung yang kaya akan timah dan kaolin membuat kopi tak cocok untuk tumbuh.

Kopi sebagai keseharian masyarakat Belitung sangat terasa di Manggar. Wajar saja, jika kota kecamatan di Belitung Timur ini disebut sebagai kota 1001 Kedai Kopi. Pemerintah daerah bahkan sampai membangun sebuah patung ceret raksasa di tengah kota guna jadi simbol Manggar sebagai destinasi sempurna bagi para penikmat kopi.

Kopi diseduh hampir dua puluh empat jam di Manggar. Di sepanjang jalan utama, kedai kopi banyak ditemui di kanan-kiri jalan. Ada yang buka dari subuh hingga sore, ada juga yang buka dari sore hingga tengah malam. Warung-warung kopi tampil sangat sederhana. Berdinding kayu, beratap seng. Beberapa kedai yang sudah punya nama biasanya tampil lebih megah dengan dinding beton dan pulasan cat yang lebih semarak. Suasana begitu hidup dan hangat sehingga pengunjung pun betah berlama-lama menghabiskan waktu di kursi dan meja kayu panjang yang disediakan para pemilik kedai.

Di Belitung, hampir semua kedai menyajikan kopi dengan cara tradisional, yaitu merebus kopi dengan air panas dan disaring sebanyak dua kali sebelum disajikan ke pengunjung. Cara yang sama juga dapat ditemui di Gresik. Konon, teknik penyeduhan seperti ini membuat rasa kopi menjadi lebih pekat dan kuat. Apalagi untuk jenis kopi Robusta, jenis sajian itu akan membuat mata bakal melek sepanjang malam.

Kopi-O atau seduhan kopi hitam. Kedai Kong Djie juga menawarkan kopi susu dan teh susu.
Kopi-O atau seduhan kopi hitam. Kedai Kong Djie juga menawarkan kopi susu dan teh susu. | © Ayos

Di Tanjung Pandan, sembilan puluh kilometer dari Manggar, saya mampir di Kong Djie, sebuah jaringan warung kopi tersohor di Belitung. Sama seperti kedai-kedai di Manggar, Kong Djie masih melanjutkan citarasa kopi peranakan. Kopi diseduh dalam ketel yang ditaruh di atas arang yang nyalanya terus dijaga. Pesanan saya datang, secangkir kopi-o yang hitam pekat dan telur setengah matang yang ditaburi garam dan bubuk merica. Entah mengapa, orang Belitung suka sekali meminum segelas kopi ditemani dengan kudapan telur setengah matang. Konon, dua hal tersebut sangat disukai oleh para pekerja timah untuk memulihkan energi mereka setelah bekerja seharian di lahan tambang.

Malam itu, warung Kong Djie ramai sekali. Pengunjungnya rata-rata anak muda dan datang berkelompok. Mereka duduk melingkari sebuah meja kayu, mengudap otak-otak dan menyeruput segelas kopi, sembari terus ngobrol atau bermain kartu. Sebagian lagi datang dengan membawa laptop dan tenggelam dalam WiFi gratisan. Sisanya ngopi dengan membawa pacar. Ini adalah sebuah pemandangan yang tidak pernah saya temui di Manggar tapi terjadi di Tanjung Pandan; pacaran di kedai kopi!

Saya melihat sepasang kekasih memesan dua teh susu dingin sambil berbincang santai. Si wanita sesekali mengecek notifikasi pada ponselnya. Sementara sang lelaki mencuri pandang ke televisi untuk mengecek skor terakhir pertandingan bola. Melihat mereka, saya jadi ingat Sapardi Djoko Damono. Cinta bisa sangat sederhana. Tak butuh latte atau crème brûlée.

Suasana di salah satu cabang Warung Kopi Kong Djie Belitung
Suasana di salah satu cabang Warung Kopi Kong Djie Belitung | © Ayos
Pasangan yang menghabiskan waktu di Warung Kong Djie
Pasangan yang menghabiskan waktu di Warung Kong Djie | © Ayos

* * *

Belitung adalah tanah lada. Banyak petani dan pemilik tanah yang menanam lada, dan memiliki sebutan khusus, yaitu sahang. Citarasanya sangat khas, pedasnya menggigit, mirip dengan lada Muntok yang lebih dulu terkenal. Karena itu, sahang pun menjadi komponen sehari-hari dalam kuliner masyarakat Belitung, beberapa di antaranya adalah gangan dan mie kuah. Gangan adalah sup ikan yang cocok dinikmati sebagai teman makan siang, sedangkan mie Belitung dapat disantap pada malam hari karena porsinya yang tidak terlalu mengenyangkan.

Saya mampir ke warung mie Awan yang berada di dekat Simpang Lima. Warung ini sudah berdiri sejak tahun 1978 dan saat ini dikelola oleh pemilik generasi kedua; Yencu dan suaminya. Pasangan ini masih menjaga citarasa mie Belitung sebagaimana diturunkan oleh kedua orang tua mereka.

Mie Belitung terdiri dari segenggam mie telur, sejumput kecambah, ditambah potongan tahu, kentang dan mentimun. Racikan dasar itu kemudian disiram kuah udang yang ngudubilah enaknya. Udangnya terasa ringan dan tidak membosankan. Tekstur kuahnya pekat dan sedikit terasa manis. Ada bau laut dan citarasa peranakan yang ekletik dalam sepiring mie Belitung.

Racikan Mie Belitung ala kedai Awan
Racikan Mie Belitung ala kedai Awan | © Ayos
Mie Belitung
Mie Belitung | © Ayos

Setelah menyantap sajiannya, saya sempat berbincang ringan dengan wanita berumur setengah abad ini. Yencu bercerita bahwa semua anaknya, sama seperti anak-anak lain dari keluarga mampu di Belitung, memutuskan untuk bersekolah di Jakarta. Bagi mereka, ibukota tidak terasa jauh, karena bisa ditempuh dengan menggunakan pesawat selama empat puluh menit saja. Itu mengapa, di sisi lain, Belitung menjadi salah satu destinasi wisata pilihan bagi para pekerja kerah putih di Jakarta. Dari pada pergi panas-panas digoyang ombak selama dua jam ke Pulau Seribu yang penuh sesak, bukankah lebih praktis pergi ke Belitung?

Di akhir obrolan, Yencu sempat membocorkan resep keluarga dari bumbu kuah buatannya, yaitu lada, lengkuas, bawang putih, bawang merah, kencur, jahe, gula merah, gula pasir, terigu dan sagu udang kering. Setelah menerima bocoran tersebut, saya tidak berminat untuk mencobanya di rumah. Karena saya tahu, beda tangan beda pula rasanya.

Salah satu keunikannya, mie Belitung akan dibungkus dengan daun simpor jika dipesan untuk dibawa pulang. Sekilas, dari bentuk, ukuran dan fungsinya, daun ini mirip dengan daun jati. “Daun ini tumbuh di tanah yang miskin humus seperti Belitung, tapi pohonnya besar dan rimbun,” kata Yencu.

Melihat daun simpor, saya jadi ingat pohon jati, jadi ingat Jawa, dus jadi ingat pulang…

Aklam Panyun

Penulis lepas

  • Masjiara

    Selamat datang di belitung bang…? kl ada waktu mampir lagi bang, kl bs mampir ke warkop Kong djie yg “ORI” di depan gereja Regina Pacis – Siburik , boleh dijajal teh susunya bang. Makase ud datang ke belitung bang.
    *P.S bukan promosi warkop ybs* ✌