Menikmati Kopi dalam Komik

101 Canda Kopi
101 Canda Kopi © Sahad Bayu Setiawan

Sebagaimana sulitnya mencari buku tentang dunia kuliner, mencari buku tentang dunia kopi di Indonesia terbilang susah. Rujukan literasi tentang dunia kopi di Indonesia sangat sulit didapat. Dengan mengingat kopi adalah minuman yang paling dinikmati di negeri ini (selain air putih tentunya), maka rasanya perlu ada banyak buku yang berkisah tentang minuman ini.

Di tengah seretnya arus buku tentang kopi, Beng Rahadian, komikus yang dikenal giat dalam mendukung perkembangan komik lokal sekaligus pecinta kopi, memberikan tawaran lain: membaca kopi lewat medium komik. Lewat pendekatan tutur gambar, Beng bercerita banyak tentang kopi dan gejala sosial yang terkait dengan minuman hitam pekat ini. Buku (lebih tepatnya komik) ini diberi judul “101 Canda Kopi”.

Menggunakan format komik strip yang dikumpulkan menjadi satu, Beng menghadirkan banyak renik hal tentang budaya ngopi di Indonesia. Mulai dari sejarah kopi itu sendiri hingga bagaimana budaya ngopi mengalami pergeseran sosial dari masa ke masa. Berbekal kejelian melakukan observasi, kepekaan yang tinggi, dan kecintaannya yang dalam terhadap kopi, Beng seakan mengaduk kita hingga larut melihat banyak fenomena sosial tentang kopi. Kita akan mengangguk-angguk karena dipantik oleh pemahaman baru, sekaligus tersenyum kecut karena Beng menghadirkan begitu banyak panel-panel yang nuansanya tak hanya cenderung satir, namun juga ironis.

Taruhlah ketika Beng menyindir perbedaan memilih jenis kopi yang dikonsumsi erat kaitannya dengan perbedaan kelas. Atau juga ketika Beng mengajak melihat bahwa betapa menyedihkannya kita yang kerap menikmati kualitas kopi lokal yang buruk sedang kopi yang kualitasnya bagus justru diekspor. Seperti sedikit rasa pahit ketika minum kopi, kenyataan yang ironis tersebut adalah hal pahit yang bagaimanapun harus kita cecap.

Tapi Beng mencoba adil. Dia tidak hanya serta merta sekadar memotret fenomena menarik tentang budaya ngopi, namun juga memberikan panel-panel komik yang memberikan informasi. Misalnya tentang sejarah kopi. Beng memberikan pemahaman yang jelas lewat kekuatan naratif komik dalam mengisahkan bagaimana kopi bisa sampai di tanah Nusantara ini dan kemudian menjadi minuman favorit penduduk. Di bagian penutup komik, Beng bahkan memberikan panel-panel yang bercerita tentang berbagai kiat tentang kopi. Mulai bagaiamana cara memilih kopi yang benar, cara penyimpanan, roasting, hingga menyeduh, dan menyaring. Tak kurang, Beng juga memberikan halaman rekomendasi yang berisi tempat-tempat menarik di Indonesia yang bisa didatangi untuk ngopi atau justru belajar tentang kopi.

Beng dengan sangkil dan mangkus menggunakan sifat komik strip yang pendek, cerkas, dan tersegmen untuk menyampaikan pesan kepada pembaca. Sifat komik strip yang demikian tadi membuat informasi menjadi lebih cepat sampai. Dan yang tak kalah penting (sebagaimana judulnya) cara Beng bertutur adalah penuh canda tanpa menihilkan esensi informasinya. Kalaupun ada cela, adalah menyoal stamina Beng sebagai komikus. Beng tidak konsisten mengolah ide tentang kopi dan segala seluk beluknya. Mungkin karena faktor himpitan tenggat (segmen-segmen komik ini pada mulanya tayang mingguan di salah satu koran nasional) membuat beberapa halaman seakan digarap seadanya dan terburu-buru. Efeknya, kesan canda yang ditangkap pembaca bukannya lucu, melainkan “garing”.

Tapi apapun itu, upaya Beng mengumpulkan renik-renik informasi tentang kopi dan budaya ngopi di negeri ini lewat caranya patut kita apresiasi. Buku ini bisa menjadi salah satu bahan menambah pemahaman tentang kopi, sekaligus menghibur kita lewat panel-panel komik yang merekam tingkah pola mereka yang mendaku diri sebagai penikmat kopi.

Satu hal lagi, lebih afdol jika menikmati buku ini sambil ngopi.

Salam seruput..

Sahad Bayu Setiawan

Paramedis Gawat Darurat. Blogger labil. Komikus gagal.