Menikmati Hujan di Rebbe Coffee

Rebbe Coffee
Rebbe Coffee | © Alfath Asmunda

Sudah hampir dua pekan di awal September cuaca di kota ini tidak menentu. Pagi matahari bersinar dengan terik, tiba-tiba siang hari awan hitam menggelayut menyelimuti seluruh kota. Hujan disertai angin kencang yang tidak beraturan, nyaris membuat kesibukan kota ini sejenak terhenti.

Hari Sabtu. Hujan lebat sedari siang baru saja reda namun masih menyisahkan tanda-tanda enggan untuk berhenti. Ia masih turun sedikit-sedikit. Kegiatan saya sore itu hanya berleyeh-leyeh di atas kasur. Sambil memainkan gadget dan berselancar di linimasa media sosial, beberapa menit kemudian masuk pesan WhatsApp dari seorang teman, “ngopi yuk? 20 menit lagi pasti bakalan berhenti ni hujan. Aku juga udah ngajak yang lain,” yakinnya.

Saya membalas pesannya dengan menyetujui ide ngopi tersebut. Menyeruput segelas kopi dengan suasana hujan seperti ini juga kegiatan yang menyenangkan, pikir saya. Dari mengandalkan feeling, saya merasa hujan memang akan berhenti beberapa menit lagi.

Teman itu mengajak ngopi di Rebbe Coffee. Ia akan tiba di sana sekitar setengah jam lagi. Dalam balasan pesannya tersirat ketegasan, hujan akan reda atau pun tidak ia tetap akan ke sana! Tampaknya, ia benar-benar rindu ingin menyeruput sanger arabika khas racikan kedai kopi itu. Minuman yang selalu menjadi favoritnya ketika kami ngopi di sana.

Kedai kopi ini cuma menyediakan kopi jenis arabika dari dataran tinggi Gayo. Sebuah wilayah yang dilingkupi oleh kabupaten Aceh Tengah dan kabupaten Bener Meriah. Rebbe Coffee hanya memiliki delapan meja kayu lengkap dengan kursi di beranda depannya. Tidak terlalu besar. Namun keramaian pengunjungnya tidak putus-putus.

Saya meluncur dengan sepeda motor ke arah Lampineung. Di kawasan ini, mulai dari depan kantor Gubernur Aceh hingga batasnya Jembatan Pango, lebih kurang 5 kilometer, berjajar pemandangan kedai kopi yang hanya berdiri sepelemparan batu jauhnya antara satu kedai dengan yang lainnya akan tampak di sana. Kawasan ini, mungkin, dalam tata ruang pembangunan kota Banda Aceh memang disulap menjadi tempat bisnis kuliner. Untuk soal ini saya belum menemukan jawabannya dengan pasti. Hanya menerka-nerka belaka.

Rebbe Coffee berada di salah satu bangunan toko yang berderet dan berseberangan dengan Hotel Hermes. Hotel yang sampai saat ini masih menjadi salah satu tempat menginap paling prestisius di Aceh. Biasanya Presiden Indonesia dan juga menteri-menterinya, kalau berkunjung ke Aceh pasti akan menginap di sana.

Rebbe Coffee milik Khairi Tuah Miko. Ia akrab disapa Miko. Asalnya dari Takengon, Aceh Tengah. Sebuah daerah di bagian tengah provinsi Aceh yang terkenal dengan danau laut tawar dan tarian didongnya. Dan kian menjadi buah bibir karena Aceh Tengah adalah salah satu daerah penghasil kopi arabika terbaik di Indonesia, bahkan masuk 5 besar terbaik dunia.

Sebelum merambah dunia bisnis kedai kopi, awalnya Miko bekerja sebagai pewarta foto pada suatu media lokal di Aceh. Hingga akhirnya, di awal 2013 memutuskan berhenti dan mulai bergelut di dunia bisnis kopi. Rebbe Coffee sendiri telah berpindah tempat beberapa kali sebelum akhirnya memilih untuk berdiri di bangunan ruko satu pintu di jalan P. Nyak Makam, Lampineung, Banda Aceh.

“Kurang cocok tempat dulu bang,” terang Rieky kepada saya. Ia adalah adik kandung Miko dan sekaligus menjadi partnernya dalam menjalani bisnis minuman paling populer di dunia itu.

Oh ya, nama Miko sang empunya Rebbe Coffee, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan situs web yang sering disingkat ‘miko’ ini ya. Jelas ini hanya kebenaran belaka. (Lho kenapa bagian ini rasanya seperti sinetron ya?)

Di Rebbe Coffee, Rieky bertindak sebagai barista. Ia belajar meracik kopi secara otodidak. Hidup dalam keluarga yang sehari-hari bersentuhan dengan kopi, tidak membuat ia sulit memahami kopi. Ia juga memperkaya pengetahuannya tentang kopi dengan mengandalkan internet. Berselancar di dunia maya sambil “mencuri ilmu” yang berseliweran riuh di sana.

“Ya, YouTube yang ngajarin bang. Kan banyak itu orang-orang nunjukin skillnya di situ. Ya saya pelajari dikit-dikit. Kadang tambahin pake eksperimen sendiri juga,” terangnya sembari tersenyum ketika saya tanyakan pada siapa pertama sekali dia belajar meracik kopi.

Rieky orang yang ramah. Tidak pelit bicara. Kesan itu yang pertama tertangkap ketika awal saya duduk di Rebbe Coffee dan berjumpa dengannya. Ia tak pernah canggung untuk menyapa atau duduk satu meja dengan pelanggan, sekedar ikut nimbrung berbagi cerita. Karena keramahannya itu, saya terkadang memanfaatkan kesempatan untuk bertanya-tanya tentang kopi dan cerita bagaimana awalnya kelahiran Rebbe Coffee ini.

Dari tuturan Rieky, awalnya Rebbe Coffee tidak akan pernah ada kalau saja abangnya, Miko tidak melunakkan ketakutannya untuk mendirikan bisnis kedai kopi. Entah apa alasan Miko saat itu, yang jelas ia masih ragu membuka kedai kopi di Banda Aceh. Padahal bisnis ini berkembang pesat dan bisa diterima masyarakat dengan cepat.

“Didorong sama abang satu lagi. Diyakinin bisa. Namanya bang Iwan. Dia yang buat bang Miko jadi berani untuk buka kedai kopi,” tuturnya.

Iwan yang dimaksud Rieky adalah abang sulung mereka. Tak hanya meyakinkan Miko dengan kata-kata saja, namun kehadiran Rebbe Coffee juga turut andil atas rogohan kocek Iwan.

Saya menyukai kedai kopi yang tidak bising. Kedai kopi yang enak untuk ngobrol. Karena menyukai hal-hal yang demikian maka tidak terlalu susah untuk saya jatuh hati pada Rebbe Coffee.

Pada Rieky saya bertanya arti kata Rebbe yang digunakan untuk nama kedainya. Dengan tersenyum dia berujar, “Rebbe itu bahasa Gayo, bang. Kalau dalam Bahasa Indonesia artinya kebun.”

Biji kopi yang dipasarkan di Rebbe Coffee asalnya dari banyak petani kopi di Gayo. Kata Rieky, antara Rebbe Coffee dan para petani yang biji-biji kopinya mereka beli, terjalin kerjasama yang tidak sebatas jual beli saja lalu habis cerita. Namun para petani itu juga dibimbing, diberikan masukan-masukan, demi untuk menghasilkan biji kopi yang berkualitas baik.

“Kita kasih tahu bagaimana kopi yang bagus dan banyak diburu konsumen. Ini menurut apa yang kita tahu dan baca-baca. Kadang kala, para petani tidak mempedulikan hal itu. Ya asal jadi aja. Asal laku. Padahal kalau kualitasnya dijaga baik, pasti harganya jauh lebih tinggi,” terangnya.

Sanger arabika saya terhidang di meja. Masih hangat. Dua teman lainya juga memilih minuman yang sama dengan saya. Satu teman lagi memesan Gayo Classic yang tampilannya sedikit bertekstur kasar. Di petang Sabtu yang mendung itu awalnya kami duduk ngopi berempat, sebelum akhirnya satu persatu teman lain datang ikut bergabung.

Sanger arabika pesanan saya adalah kopi yang diperkaya dengan sentuhan susu kental manis. Teksturnya lembut. Tidak begitu manis dan tidak pula terlalu didominasi oleh rasa arabika yang kuat. Bentuk dasarnya, menurut saya, hampir mirip dengan kopi flatwhite.

Kalau diibaratkan seperti pria, maka ia adalah pria dewasa yang penuh dengan kehati-hatian, santun, serta rapi. Soal harga, tidak terlalu mencekik dompet cukup Rp. 10.000 saja.

Sementara pesanan satu teman lainnya, Gayo Classic terlihat berpenampilan garang. Ampas-ampas kopi masih menyeruak di bibir cangkir. Biji kopi arabika Gayo di grinder dengan tampilan kasar. Soal rasa, ketika di seruput terasa lembut memeluk dinding kerongkongan, juga meninggalkan rasa coklat di ujung lidah. Harga Gayo Classic dibandrol Rp. 6.000.

Tampilan Sanger Arabika
Tampilan Sanger Arabika | © Alfath Asmunda
Tampilan Gayo Classic
Tampilan Gayo Classic | © Alfath Asmunda

Di Rebbe Coffee, apabila tidak punya waktu luang untuk ngopi di sana, Anda juga bisa memesannya di dalam cup. Jadi lebih praktis untuk dibawa pulang ke rumah atau bebas dibawa ke mana saja. Dan kabar baiknya lagi tidak ada tambahan harga untuk pemesanan di dalam cup.

Kalau bagi Anda yang penasaran dan ingin mencicipi bagaimana dahsyatnya kopi Gayo namun terkendala jarak, tidak usah khawatir. Anda cuma perlu sedikit saja usaha untuk menghubungi pihak Rebbe Coffee lewat jalur sosmed mereka. Tinggal search dengan kata kunci Rebbe Coffee pasti langsung ketemu.

Kemasan kopi Gayo yang dijual oleh Rebbe Coffee juga cocok dijadikan buah tangan untuk teman, kerabat, dan rekan kerja. Kemasan dari aluminium foil yang berukuran200 gram serta 100 gram selalu tersedia. Harganya juga lumayan murah. Semuanya di bawah seratus ribuan.

Beragam produk kopi kemasan Rebbe Coffee
Beragam produk kopi kemasan Rebbe Coffee | © Alfath Asmunda

Sudah hampir tiga jam saya duduk di Rebbe Coffee. Di luar, hujan tampak kembali datang. Disertai hembusan angin. Kali ini benar-benar sudah gelap. Malam mengambil alih kehidupan.

Seketika ingatan saya terpelanting pada ungkapan, “Hujan adalah rahmat. Sebuah titik terang kehidupan bagi orang-orang yang membutuhkan kehadirannya.” Saya sepakat dengan ungkapan bernada petuah tersebut.

“Kami dibesarkan melalui kopi. Dan hari ini pun saya mencari kehidupan dari kopi,” kenang Rieky lirih.

Dan untuk membuktikan bahwa hujan adalah rahmat, sebuah titik terang kehidupan bagi orang-orang yang membutuhkan kehadirannya, saya tidak perlu mencari jauh. Sebab di Rebbe Coffee saya telah menemukannya.

Alfath Asmunda

Mencintai kopi seadanya. Namun mencintai kamu, iya kamu, sepenuhnya.