Menikmati Chow Kit, Miniatur Indonesia Di Kuala Lumpur

Restoran Sido Mampir tampak depan
Lihat Galeri
9 Foto
Kiri; Sunway Putra Mall, kanan; PWTC
Menikmati Chow Kit, Miniatur Indonesia Di Kuala Lumpur
Kiri; Sunway Putra Mall, kanan; PWTC

© Kurnia Gusti Sawiji

Jalan raya menuju Chow Kit
Menikmati Chow Kit, Miniatur Indonesia Di Kuala Lumpur
Jalan raya menuju Chow Kit

© Kurnia Gusti Sawiji

Stasiun LRT PWTC yang berada di arah barat Chow Kit
Menikmati Chow Kit, Miniatur Indonesia Di Kuala Lumpur
Stasiun LRT PWTC yang berada di arah barat Chow Kit

© Kurnia Gusti Sawiji

Stasiun Monorail Chow Kit
Menikmati Chow Kit, Miniatur Indonesia Di Kuala Lumpur
Stasiun Monorail Chow Kit

© Kurnia Gusti Sawiji

Di dalam pasar tradisional Chow Kit
Menikmati Chow Kit, Miniatur Indonesia Di Kuala Lumpur
Di dalam pasar tradisional Chow Kit

© Kurnia Gusti Sawiji

Sebuah warung masakan khas Jawa
Menikmati Chow Kit, Miniatur Indonesia Di Kuala Lumpur
Sebuah warung masakan khas Jawa

© Kurnia Gusti Sawiji

Restoran Sido Mampir tampak depan
Menikmati Chow Kit, Miniatur Indonesia Di Kuala Lumpur
Restoran Sido Mampir tampak depan

© Kurnia Gusti Sawiji

Restoran Sido Mampir tampak dalam
Menikmati Chow Kit, Miniatur Indonesia Di Kuala Lumpur
Restoran Sido Mampir tampak dalam

© Kurnia Gusti Sawiji

Menu di Restoran Sido Mampir
Menikmati Chow Kit, Miniatur Indonesia Di Kuala Lumpur
Menu di Restoran Sido Mampir

© Kurnia Gusti Sawiji

Sebagai sebuah negara yang didaku dan mendaku sebagai Truly Asia, hanya berjarak satu selat dari Pulau Sumatera, dan kerap dijadikan maskapai penerbangan sebagai tujuan bertiket murah dari Indonesia, Malaysia tepat untuk dijadikan sebagai negara yang dapat dikunjungi untuk wisata jika memiliki uang berlebih. Dan jika sudah ke Malaysia, tentu wisata tidak afdol jika tidak mengunjungi Kuala Lumpur yang merupakan ibukota dari negara kembang sepatu ini.

Banyak tempat menarik di Kuala Lumpur yang wajib Anda datangi. Tentu saja, dua dari tempat tersebut adalah KLCC dan KL Tower yang ikonik; menara kembar dan “Monas” ala Malaysia, yang mana jika seseorang sudah berfoto di depannya, maka sahihlah kedatangannya di Malaysia. Selain dua tempat tersebut, masih ada KL Bird Park, Masjid Negara, Istana Negara, dan lain-lainnya. Hanya di Kuala Lumpur saja, saya menjamin Anda sudah bisa menikmati Malaysia tanpa harus ke negeri-negeri bagiannya yang lain seperti Penang atau Melaka.

Ditambah lagi, ada satu tawaran unik dari Kuala Lumpur khusus untuk Anda para turis dari Indonesia yang mungkin tidak ditawarkan di negeri bagian lain. Tawaran tersebut adalah menikmati Indonesia walaupun Anda berada di Malaysia melalui sebuah sudut kecil dari Kuala Lumpur yang bernama Chow Kit. Nama tersebut memang jarang terdengar dalam iklan-iklan pariwisata, tetapi yakinlah, berada di Chow Kit sebagai orang Indonesia adalah sebuah pengalaman yang sangat baik.

Chow Kit adalah sebuah daerah sudut kota yang sebenarnya sangat dekat jaraknya dengan salah satu gedung terpenting di Kuala Lumpur, yaitu PWTC (Putra World Trade Centre) yang menjadi sebuah pusat perdagangan sekaligus markas UMNO, sebuah fraksi khusus ras Melayu dari partai terbesar di Malaysia yang bernama Barisan Nasional (BN). Tepat di depan PWTC adalah Sunway Putra Mall, sebuah mall besar yang dimiliki oleh Sunway Group yang bisa diibaratkan sebagai Ciputra atau Serpongnya Malaysia. Di arah timur dua bangunan bisnis tersebut, terbentang sebuah jalan raya menuju Chow Kit.

Ada dua cara untuk menuju Chow Kit. Yang pertama adalah turun di stasiun LRT (Light Rapid Transport, kereta listrik di Kuala Lumpur) dan terus berjalan ke arah timur, dan yang kedua adalah turun di stasiun Monorail Chow Kit yang akan langsung berhenti tepat di tengah-tengah daerah sudut kota tersebut. Daerah Chow Kit pada asasnya memang mencakup dua jalan yang berada di sekitar stasiun Monorail tersebut yaitu Jalan Tunku Abdul Rahman dan Jalan Chow Kit. Tetapi, salah satu “miskonsepsi” yang kadang terjadi di antara orang-orang Indonesia di Malaysia adalah menyebut hampir semua yang berada di timur stasiun LRT PWTC adalah Chow Kit, yang mencakup; Jalan Thamboosamy, Lorong Tiong Nam, Perempatan Jalan Raja Laut, dan beberapa jalan lagi. Tentu, miskonsepsi tersebut tidak sepenuhnya salah.

Chow Kit pada dasarnya adalah tempat yang menampung banyak pekerja dan pendatang luar negeri kelas bawah. Namanya juga sudut kota, tempat yang menyediakan permukiman murah, lapangan kerja yang mudah, dan harga kebutuhan hidup yang relatif lebih murah dibanding dengan yang ada di mall-mall. Para pekerja dan pendatang tersebut biasanya berasal dari Bangladesh, Myanmar, dan Indonesia. Saya rasa Anda pasti tahu negara mana yang pendatangnya paling banyak. Tentu, itu adalah negara kita tercinta Indonesia. Lumrah jika para TKI yang tercatat sebagai tenaga kerja asing terbanyak yang ada di Malaysia pada akhirnya memilih untuk bermukim atau bekerja di daerah Chow Kit.

Konsekuensi dari kelumrahan ini mudah ditebak; Chow Kit telah menjadi semacam “miniatur” Indonesia dengan berbagai pernak-perniknya mulai dari kuliner hingga gaya hidup. Jangan takut untuk tidak bisa menemukan makanan yang sesuai untuk lidah Anda di Chow Kit, karena sejauh mata memandang, Anda pasti akan menemukan makanan-makanan Jawa, Minang, atau masakan khas Indonesia lainnya. Selain itu, jika Anda menyempatkan diri untuk masuk ke pasar tradisional Chow Kit yang membentang dari Jalan Chow Kit hingga Jalan Raja Bot, Anda akan dimanjakan dengan suara-suara berbahasa Jawa dan masakan-masakan Jawa. Penampilan pasar tersebut pun tidak jauh berbeda dengan pasar tradisional di Indonesia.

Selain dari pasar tradisional Chow Kit, ada satu lagi tarikan kultural-kuliner yang bisa Anda nikmati di sana. Tarikan tersebut bernama Restoran Sido Mampir yang berada sangat dekat dengan stasiun Monorail Chow Kit di Jalan Tunku Abdul Rahman. Restoran ini adalah sebuah tempat makan ala warteg yang lebih besar dari warteg pada umumnya, dan banyak menyediakan masakan-masakan Jawa.

Restoran Sido Mampir adalah tempat berkumpulnya para pekerja Indonesia (dan pekerja dari negara lain) di waktu-waktu istirahat mereka. Tidak jarang pula orang-orang Malaysia turut menikmati sajian di restoran Jawa ini. Pekerja-pekerja yang bekerja di restoran inipun bervariasi, mulai dari (tentu saja) orang-orang Indonesia hingga orang-orang Bangladesh.

Jika membicarakan Chow Kit, waktu dan kata-kata terasa tidak cukup. Saya belum lagi membahas tentang warung-warung gorengan di pinggir jalan yang mana penjualnya adalah seorang ibu-ibu dari Surabaya, restoran-restoran Minang yang ada di Jalan Raja Alang, hingga toko-toko obat yang menjual mulai dari minyak kayu putih hingga minyak tawon. Itu untuk Anda temukan sendiri, jika pada suatu saat Anda memiliki rezeki berlebih mendatangi negara tetangga ini dan mengunjungi Miniatur Indonesia.

Jika Anda sudah sampai disini, maka jangan lupa bahagia, ya.

Kurnia Gusti Sawiji

Nyasar di Malaysia selama 8 tahun.