Menikmati Bimasakti di Kedai Angin Senja

Kopi Kothok sajian khas penikmat kopi di Cepu
Kopi Kothok sajian khas penikmat kopi di Cepu | © Kukuh Purwanto

Tutupnya kedai kopi Mak Pi, yang kemudian disusul keputusan Mbah Seger untuk gantung panci, membuat penikmat kopi kothok di kota Cepu seperti kehilangan orientasi. Kedua maestro itu telah berkecimpung amat lama di bidang ini, menjadikan mereka ikon tak tergantikan selama puluhan tahun, sehingga kehilangan mereka adalah hal terakhir yang berani dibayangkan siapapun.

Kedai-kedai kopi baru memang bermunculan seperti wabah, tetap belum ada yang mampu menyamai cita rasa kopi racikan Mak Pi dan Mbah Seger. Kedai-kedai baru ini juga hampir tak terbedakan; mereka serentak memasang wifi dan bersaing secara sungguh-sungguh dalam hal besaran suara musik, menghias interior senorak mungkin, dan menjual kopi dengan harga tinggi.

Tentu saja pada akhirnya tujuan utama pengunjung adalah menikmati wifi dan bukannya kopi. Maka, semakin kencang kecepatan internetnya, semakin ramai kedai itu. Dan selalu ada yang dikorbankan; pengunjung yang menyemut tak menyadari bahwa kopi mereka amatlah payah rasanya. Sebagian mungkin menyadari, tetapi terlalu larut dalam aksi jagal di Clash of Clans atau aktivitas mengunduh video.

Itulah yang membuat saya nelangsa sehingga berhenti nongkrong di kedai manapun. Hingga seorang teman datang pada suatu sore dan mengajak saya nongkrong di kedai langganannya. Ia, seperti saya, adalah alumni kedai Mak Pi; saya percaya pada selera lidahnya.

Kedai kopi yang kami tuju berada di puncak bukit, dua kilometer dari pusat kota Cepu. Dibangun dengan perpaduan rumbia dan seng sebagai atap, mengingatkan saya pada konsep warung makan lesehan di tengah sawah—bisnis yang dulu menjadi primadona. Tak ada plang nama di jalan masuk yang berupa setapak, hanya lampu hias yang membelit pagar dan pohon di muka gerbang yang menjadi penanda bahwa bangunan ini bukan rumah tinggal.

Kedai ini menempati area seluas tiga lapangan voli, dikitari oleh pagar bambu rendah. Beberapa gazebo mengelilingi bangunan induk, dan terdapat deret bangku artistik dari batang jati utuh di tengah halaman. Bila ada hal yang ganjil, itu adalah hadirnya pohon cabe dan pepaya dan jati yang ditanam tanpa memahami konsep estetika ruang.

Seorang pria menyambut kami. Pria itu berambut cepak dengan uban yang menjajah rambut dan cambang dan kumisnya. Suaranya berat tetapi ramah ketika mengantar kami ke salah satu gazebo di sudut area. “Dari sini Mas bisa lihat pemandangan dengan lebih baik,” katanya.

Hanya butuh beberapa detik untuk membuktikan pria ini berkata benar. Dari gazebo kami, tampak perbukitan mengular dengan rumah-rumah seperti taburan kacang di lerengnya. Matahari pukul empat sore membuat pepohonan jati yang tumbuh di bukit seberang bersinar keemasan, begitu pun dengan ilalang dan burung bangau-sawah yang terbang bergerombol di kejauhan.

“Kopi atau yang lain?” tanya pria itu. Kami memesan kopi. Kami sepakat bahwa hanya kopi yang boleh dinikmati di suasana semegah ini.

Ia kembali membawa pesanan kami dan memperkenalkan diri. Nama pria itu Joko, dan dialah pemilik merangkap pelayan di kedai ini.

“Sudah buka setahunan, Mas,” jawabnya meski kami tak bertanya. Dan begitulah, Pak Joko senang bercerita apa pun walau tak diminta. Hanya perlu satu jam kurang untuk tahu separuh kisah hidupnya.

Joko, Pemilik Kedai Angin Senja
Joko, Pemilik Kedai Angin Senja | © Kukuh Purwanto

Pak Joko adalah petualang jempolan. Sebelum membuka kedai ini ia bekerja di Arab Saudi sebagai koki di hotel berbintang. Sebelum itu ia berpelesir ke berbagai negara di atas kapal pesiar dan pinisi, bertugas sebagai koki pula. Ia bercerita tentang banyak hal dengan selingan tawanya yang menggelegar: pengalaman terkatung-katung di lautan akibat mesin kapal yang mogok, dihajar badai di Laut Banda yang kejam, menghadapi tamu rewel yang minta jetski saat berada di Raja Ampat, dan menyaksikan keriuhan pelabuhan Singapura yang membuat Tanjung Priok serasa kuburan.

Dengan pengalaman panjang memasaknya yang teruji, mengapa ia malah mendirikan kedai kopi dan bukannya restoran?

“Dulu pernah saya bikin restoran sama teman. Di Surabaya,” ujarnya, lalu menyalakan kretek dan mengalihkan pandang sebelum melanjutkan, “teman saya ternyata nggak bisa diajak bisnis. Runtuhlah semuanya.”

Tak tahu harus menanggapinya, saya cuma manggut-manggut. Lalu ia bertutur bahwa bisnis restoran membutuhkan modal yang amat besar dan pasar yang spesifik. Menjual makanan Arabian dan Western, dua menu spesialisasinya, di Cepu jelas lebih susah ketimbang menjual nasi pecel atau bakso granat.

“Di belakang kedai pemandangannya sangat bagus, Mas. Banyak pemburu sunset yang ke situ.”

Kami bergegas ke belakang kedai dan mendapati pemandangan yang luar biasa indah: matahari senja yang jingga dan besar hampir menyentuh cakrawala, meninggalkan berkas sinar ke awan yang bergumpalan di atasnya. Jingga dan kuning dan merah yang membentuk harmoni; bila mati dan ditempatkan di surga, barangkali beginilah semestinya warna gerbangnya.

Pak Joko yang turut memburu sunset terkekeh di belakang. Oleh sebab itulah kedai ini dinamai Angin Senja—ia berkata. Tak ada suasana semagis senja, kata Pak Joko, dan menyaksikan semua ini sendiri membuat kami tak mampu mendebatnya.

Kedai Angin Senja terletak di atas bukit dengan area yang sangat luas dan pemandangan yang indah
Kedai Angin Senja terletak di atas bukit dengan area yang sangat luas dan pemandangan yang indah | © Kukuh Purwanto

Puas mengabadikan momen ketika matahari telah sepenuhnya sembunyi, kami balik ke gazebo dan menikmati kopi yang belum tersentuh. Kopi bikinan Pak Joko enak, meski belum istimewa. Kopi itu ia olah dari biji; ia sudah kapok membeli kopi bubuk siap saji, yang rasanya terlalu horor untuk diminum.

Tak seperti Mak Pi yang hanya menjual kopi, Pak Joko menyediakan minuman lain yang amat beragam. Bahkan, ada lemari pendingin di dekat pintu bangunan utama yang terisi penuh dengan minuman ringan. Camilan juga beragam, mulai dari kacang hingga gorengan. Bila tak cukup kenyang, masih ada mie instan.

Sekarang sudah pukul delapan. Pemandangan berganti. Langit meriah oleh bintang, dan puncak bukit yang gelap membantu kami menikmati kemegahan malam yang jarang kami dapati di kota. Teman saya, yang lama terobsesi dengan tata surya, mengaktifkan aplikasi peta langit untuk mencari Bimasakti di ponselnya. Galaksi itu ada di ufuk selatan.

Bimasakti memang sulit dilihat dengan mata telanjang. Namun, dengan kamera digital kami berhasil mengabadikannya. Kami hanya perlu memasang tripod dan menyetel pengaturan kamera, kemudian berjalan ke luar halaman kedai yang gelap pekat. Cahaya redup kedai tak menjadi gangguan.

Pukul sembilan kami menyudahi pemotretan dan berniat pulang. Setelah membayar, baru saya sadari kalau sedari tadi saya tak bermain game atau berselancar di medsos seperti yang selalu saya lakukan di kedai manapun. Dan saya juga baru tahu kalau ada router wifi di dekat kasir, berkelip tersembunyi oleh minuman soda dan aneka gorengan.

“Bulan depan saya copot aja, Mas,” ujar Pak Joko yang kali ini bertugas menjadi kasir, menunjuk router itu dengan dagunya. “Percuma dipasang, nggak ada yang pakai.”

Kukuh Purwanto

Tukang kaca