Menikmat Kesempurnaan Secangkir Kopi Guyon

Kopi Guyon
Kopi Guyon | © Caesar Giovanni

Panas tak putus hadir dalam kehidupan kota terbesar Indonesia ini. Kabut terusir dalam waktu beberapa jam sahaja, jauh berbeda dengan sedasawarsa lalu, kabut dan sejuknya bisa bertahan hingga pukul 8 atau 9, lengkap dengan matahari pagi yang masih baik untuk kulit dan tulang. Kini kota ini sedang dalam pembangunan besar-besaran, ada perubahan ada konsekuensi perubahan.

Tidak hanya udara panas yang datang lebih awal dan terasa lebih awet dan konsisten, debu dan macet pun tidak mau kalah bersaing. Saya semakin sering menjumpai berbagai macam ulah manusia yang sudah kian tidak sabar, hingga menyerobot, menghalangi jalan pengguna jalan lain hingga menabrak dengan santun. Bagaimana cara menabrak dengan santun? Ya, tanya sendiri kepada para penabrak santun yang emosinya sudah meluap sedikit keluar dari ubun-ubun itu. Mungkin juga lupa mana rem dan mana gas.

Panas, debu dan macet, disempurnakan dengan gejala dini pilkada, jalan berlubang, dan gejala akhir tahun, pembangunan gorong-gorong dan pembersihan saluran air seketika. Semangat pagi untuk memulai hari terkuras untuk berangkat, sisa tenaga terkuras minus akibat kerumunan orang yang berjubel dengan satu tujuan, rumah. Kota ini seakan tak ada celah untuk sekadar menikmati hari sejenak ataupun bersantai di malam hari. Saya telah menulis tentang Kedai Kopi The Paps di daerah Kuningan Jakarta yang sangat cocok untuk berteduh sejenak dari derasnya arus aliran kendaraan. Kali ini, saya menemukan satu lagi tempat untuk bersantai ngopi sejenak sambil menjaga motor secara pribadi setelah lelah menunaikan perjalanan pulang.

Terletak di sebuah pelataran parkir toko alat bantu dengar dengan penutup toko warna merah di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan. Daerah ini, menurut saya kini paling memprihatinkan. Dengan arus kendaraan yang sangat tinggi, namun kondisi jalan rusak ditambah jalur yang terpotong akibat pembangunan kereta impian rakyat Jakarta, MRT. Entah keadaan ini baik atau buruk untuk keberadaan kedai kopi manual yang baru mulai beroperasi pada sekitar jam 8 malam ini.

Adalah sebuah gerobak kayu buatan sendiri yang ditarik dengan sebuah motor Vespa varian Excel yang ditunggangi oleh sang barista, Ego Prayogo (begitulah nama di akun Line-nya). Bermodal tekad dan semangat serta pertolongan kabel panjang, kedai tanpa tembok dan atap ini memiliki listrik sendiri untuk menggiling biji kopi secara langsung serta untuk menghidupkan lampu. Di tempat ini, Anda dapat menikmati sensasi ngopi dengan suasana Jakarta di tengah perubahan besarnya. Debu-debu kekinian, manusia-manusia kekirian, anak-anak jalanan, hewan-hewan perkotaan, rongrongan motor-motor anak manja, atau kadang suporter tim bola yang masih meneriakkan yel-yel sepanjang jalan pulang.

Kopi Guyon
Kopi Guyon | © Caesar Giovanni

Tampil sederhana, kopi Guyon hanya menyediakan dua buah bangku panjang yang beralihtugas menjadi meja kopi. Sebagai tempat duduk pelanggan, Kopi Guyon menggunakan beberapa bangku plastik yang berada tepat di depan gerobak kayu. Kadang, pelataran toko tutup yang berada tak jauh dari kedai pun menjadi tempat pilihan para pendatang untuk duduk sambil berbincang hangat. Riuh kata orang-orang sekitar, suara kendaraan, bunyi klakson adalah teman rasa mantap kopi pilihan Anda di kedai Kopi Guyon.

Urusan kopi yang dijual, jangan pernah ragu untuk mencoba segala jenis biji kopi hasil karya petani Indonesia. Di sana, saat saya datang, tersedia tiga pilihan biji kopi. Kalau masih sama, saat itu kopi yang ditawarkan adalah kopi asal Jawa dan Sumatera. Sejujurnya, saya ingin memberikan beberapa misteri, agar Anda datang sendiri ke kedai kopi tanpa batas. Konsultasikanlah pilihan Anda sebelum membeli dengan sang barista agar tidak merasa salah pilih rasa kopi. Menurut pendapat beberapa sumber yang bisa dipercaya bisa juga tidak, kopi andalan dari kedai ini adalah kopi Dolok Sanggul. Cukup untuk petunjuk tentang kopinya, silahkan datang sendiri dan mencoba.

Untuk saya, kedai Kopi Guyon ini banyak mendobrak aturan mapan sebuah kedai kopi. Di sana, tidak ada sofa, tidak ada colokan listrik di masing-masing meja, tidak ada dinding, tidak ada atap, tidak ada pendingin ruangan yang membuat badan terasa sejuk. Di sana tak ada panas, tak ada pula matahari, yang ada hanya hujan yang kadang-kadang datang membuat suasana syahdu dan bulan yang tidak kunjung sampaikan rindumu. Yang ada di sana adalah suasana yang tidak didapatkan di kedai kopi lain di Jakarta, yakni suasana Jakarta itu sendiri.

Guyon, yang digunakan sebagai nama kedai ini berarti kesempurnaan. Bila kita renungkan, apalah arti sedap kopi tanpa guyon? Tanpa candaan? Tanpa tawa? Diam-diam, kopi guyon sudah menolong petani kopi Indonesia dengan mendistribusikan kopi kepada pasar yang lebih luas. Mari ikut membantu petani dengan membeli kopi Indonesia.

Sampai bertemu dan tertawa bersama di Kedai Kopi Guyon, kedai kopi tanpa batas.

Caesar Giovanni Simatupang

Peminum segala kopi yang percaya bahwa rasa tergantung pada kondisi, konteks dan konsekuensi.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Prima W Hidayat

    Semlehoy nih, lapak tetap disitu atau pindah2 ya, pulang kantor bisa melipir sejenak…