Mengunjungi Museum Kata Laskar Pelangi

Museum Kata
Museum Kata | © Said Agung Pangestu

Siapa yang tidak kenal dengan film atau buku Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata. Buku yang konon telah menginspirasi banyak orang. Akan tetapi, tahukah anda bahwa Laskar Pelangi juga meninggalkan jejak manis lain, berupa bangunan fisik di Belitung sana. Jejak keabadian yang penuh nilai idealis. Ya, jejak itu adalah Museum Kata.

Belitung tidak hanya terkenal akan keindahan baharinya saja. Jika kita pergi ke bagian timur pulau ini, kita dapat menjelajahi tempat-tempat non-bahari sekaligus napak tilas film Laskar Pelangi. Di antaranya SD Muhammadiyah dan Museum Kata. Cukup membayar sepuluh ribu saja, untuk wisata ke SD Muhammadiyah dan lima puluh ribu rupiah untuk membeli buku saku Laskar Pelangi sebagai tanda masuk ke Museum Kata. Namun, waktu saya datang ke SD Muhammadiyah terlalu pagi (sekitar pukul 9 pagi) maka saya masuk secara gratis tanpa perlu membeli tiket, karena petugas tiket dan kawasan ini masih sepi.

Museum Kata terletak di Desa Gantung, Belitung Timur. Berada di desa tempat Andrea Hirata kecil tinggal. Museum ini juga tidak jauh berada dari replika SD Muhammadiyah yang juga menjadi salah satu ikon dalam film Laskar Pelangi. Kenapa disebut replika? Konon SD MUHA tersebut hanya rekaan belaka. Sedangkan yang asli telah hilang. Museum ini dapat ditempuh kira-kira satu jam perjalanan dari pusat kota Tanjung Pandan.

Saya dibuat takzim ketika bangunan warna-warni menyambut saya saat tiba di Museum Kata. Slogan “fiction is the new power” terpampang ditembok depan museum. Museum ini memadukan antara bangunan klasik khas Belitung, permainan warna yang kontras bagai pelangi, serta dekorasi unik memanjakan mata. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah kombinasi antara museum klasik, unik, tanpa meninggalkan nilai artistik. Hal ini adalah salah satu yang membuat Museum Kata menjadi tempat yang wajib dikunjungi.

Hemat saya, sastrawan yang baik adalah seorang yang mampu menjaga idealismenya. Saya kira Andrea Hirata secara konsisten mengabdikan dirinya pada dunia literasi. Andrea Hirata dengan cerdik mengubah sebuah bangunan tua menjadi museum literasi cantik yang pertama dan satu-satunya di Indonesia ini. Ia juga berperan sebagai kurator Museum Kata.

Area Mimbar Puisi Kebun
Area Mimbar Puisi Kebun | © Said Agung Pangestu

Museum Kata memiliki cukup banyak ruangan. Ruang demi ruang di desain klasik dan kaya akan dekorasi kreatif. Di tiap ruangan selalu ada tempelan-tempelan kata yang inspiratif baik dari buku Laskar Pelangi maupun dari sumber literasi dunia. Ada ruang Lintang dan Ikal, dalam ruangan ini terdapat gambar-gambar dari cuplikan film Laskar Pelangi. Ada ruang yang mengabadikan terjemahan-terjemahan Laskar Pelangi dalam bahasa asing. Ada ruang travel writing corner. Di ruang paling belakang ada semacam dapur yang disulap menjadi tempat ngopi bagi para pelancong.

Selain itu, disisi gedung utama terdapat ruang belajar anak yang didesain tak kalah menarik. Bunga-bunga di dalam pot digantung menghiasi sepanjang garis ruangan. Berbagai jendela warna-warni ditempel pada dinding dan juga langit-langit ruangan, mimpi yang siap digantung pada jendela-jendela dunia. Pindah ke halaman belakang, kita akan mendapati sebuah kebun dengan pohon kelapa berdiri ditengah-tengahnya. Pada sudut kebun tersebut ada sebuah papan berwarna merah bertuliskan “mimbar puisi kebun”. Kebun ini bisa dimanfaatkan sebagai tempat pembacaan puisi. Betapa asyiknya jika membaca atau cuma mendengarkan lantunan puisi di kebun dengan rumput yang hijau.

Bergeser sedikit ke belakang, sekaligus ujung dari Museum Kata, ada sebuah ruangan yang disulap menjadi sekolah. Sekolah ini diperuntukkan bagi masyarakat desa sekitar yang kurang mampu. Rata-rata anak yang diajari adalah anak penambang timah yang putus sekolah. Andrea Hirata sendiri yang mengajari mereka. Kini sudah puluhan siswa diajari olehnya. Bagi Andrea, pangkal dari kemiskinan disebabkan karena akses pendidikan yang minim di Belitung. Sehingga menurutnya pendidikan adalah kunci bagi pengentasan kemiskinan.

Nama-nama Sastrawan Dunia
Nama-nama Sastrawan Dunia | © Said Agung Pangestu

Bagi anda yang sudah merasa puas menjelajahi Museum Kata, ada baiknya untuk bersantai di Kupi Kuli yang masih berada di dalam museum untuk rehat dan menyicip kopi yang disajikan langsung dari tungku. Bagi yang tidak suka kopi, tenang saja karena anda bisa memesan minuman lainnya.

Museum Literasi Pertama di Indonesia

Sebagai museum literasi pertama di Indonesia, Museum Kata menjadi pionir bagi perkembangan museum serupa di Indonesia. Museum Kata sendiri terinspirasi dari “The Mark Twain Boyhood Home & Museum” di Missouri, AS.

Mengunjungi Museum Kata juga bisa dimaknai seperti merayakan dunia sastra kita. Andrea Hirata nampaknya ingin mengapresiasi sastra melalui museum. Di dalam museum ini terdapat lebih dari 200 literatur baik dari dalam maupun luar negeri. Literatur-literatur ini tersaji dalam berbagai jenis, mulai dari musik, film, seni, anak, hingga arsitektur. Museum ini ibarat pintu gerbang bagi kita yang ingin mengetahui perihal literatur atau sastra. Ada banyak nama-nama tokoh dunia yang terpampang di sana, berikut dengan kutipan-kutipan dari karya-karya mereka. Sehingga tidak salah jika mengunjungi Museum Kata merupakan awal bagi perkenalan dunia sastra bagi yang awam. Hal ini diharapkan banyak masyarakat yang memahami dan mau menggali lebih dalam dunia sastra, baik karya-karya klasik maupun kontemporer.

Tingkat kunjungan masyarakat kita ke museum-museum masih sangat rendah. Kalau kita mau bicara jujur, apa yang menyebabkan keengganan kita untuk bertandang ke museum, katakanlah yang ada di Jakarta adalah karena minimnya sosialisasi tentang museum tersebut.

Belum lagi perawatan museum yang sangat minim, sehinga membuat pengunjung jengah berada di sana. Ekshibisi museum-museum kita cenderung monoton, tidak menarik masyarakat.

Kita sadar bahwa tingkat melek literasi “kita” masih sangat rendah. Berbagai elemen juga terus mengupayakan peningkatan seraya merutuki karena tingkat kemajuannya segitu-segitu saja. Andrea Hirata sadar bahwa museum bukan hanya tempat rekreasi, melainkan sebagai wahana edukasi. Bagi orang yang percaya, museum adalah salah satu tempat dimana ilmu pengetahuan disemai. Sebab kita dapat mempelajari banyak nilai yang terkandung di dalamnya. Museum, bagi saya sama pentingnya seperti lembaga formal semacam sekolah. Pergi ke museum bukan hanya vakansi, tapi juga belajar dan mengeskplorasi nilai budaya yang terkandung dalam museum tersebut.

Konsep museum literasi bagi saya perlu diapresiasi dan dikembangkan, karena seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, museum bisa dijadikan tempat bermain, vakansi, sekaligus belajar.

Satu saja yang bisa saya harapkan dari adanya Museum Kata di Belitung. Semoga pemerintah baik daerah maupun pusat lekas sadar betapa pentingnya museum sebagai wahana edukasi dan rekreasi. Sehingga kita bisa dapat belajar sambil vakansi ke tempat-tempat edukatif, bukan hanya pusat-pusat perbelanjaan saja yang terus yang dibangun.

Said Agung Pangestu

"Verba volant scripta manent" – Caius Titus


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405