Mengingat Kenangan Masa Kecil Melalui Festival 90an Yogyakarta

Sudut Festival 90an Kangen Dolanan Mbiyen
Sudut Festival 90an Kangen Dolanan Mbiyen © Sirajudin Hasbi

“Kami ingin mengajak pengunjung bernostalgia dengan masa lalunya, bukankah itu hal yang menyenangkan?” tungkas Fasna, salah satu panitia acara Festival 90an: Kangen Dolanan Mbiyen.

Saya menggangguk. Betul juga, bernostalgia itu menyenangkan. Membayangkan hal-hal yang telah lalu tak selamanya buruk. Seringkali bisa membuat kita senyum-senyum sendiri, apalagi sembari menatap rintik-rintik hujan yang belakangan ini kerap menyapa Yogyakarta.

Melalui Kangen Dolanan Mbiyen, kita diajak untuk sejenak melepas penat di tengah kesibukan dengan menengok artefak dekade 1990-an. Tidak semuanya berasal dari dekade itu tentunya, karena ada pula benda yang dipamerkan memiliki usia yang jauh lebih tua.

Acaranya dikemas cukup sederhana tapi tetap mampu mencapai tujuan utamanya: mengajak bernostalgia.

Bertempat di lobi Jogya Walk, yang terletak di bilangan Babarsari, Yogyakarta, ada tiga ruang utama yang bisa kita nikmati. Pertama, ada panggung yang digunakan untuk performance dan talkshow di mana di depannya ada lapak yang menjual barang hasil kreasi anak muda kekinian dengan tema 90-an.

Selain itu, tentunya ada lapak kuliner. Rasanya tidak mungkin ada pameran atau acara apa pun yang melewatkan untuk memberi ruang bagi makanan dan minuman. Ada banyak lapak kuliner yang bisa dicicipi. Tapi, yang paling asyik tentunya ada satu gerobak yang khusus menjual snack masa kecil.

Jika kamu pernah makan snack berwarna kuning dengan bertuliskan gulai ayam, kamu bisa menemukannya di gerobak makanan 90-an yang disiapkan panitia. Ada pula choky-choky, permen bubuk, dan sederet makanan lainnya yang banyak msg-nya tapi begitu kita suka ketika masih anak-anak dulu.

“Kami (panitia) patungan untuk membeli makanan kecil ini. Kami beli di pasar tradisional, asal mau hunting sih, snack seperti ini masih bisa diperoleh kok,” cerita Andi, penjaga gerobak makanan 90-an ini.

Sudut Festival 90an Kangen Dolanan Mbiyen
Sudut Festival 90an Kangen Dolanan Mbiyen © Sirajudin Hasbi
Jajanan Masa Kecil
Jajanan Masa Kecil © Sirajudin Hasbi

Nah, ruang terakhir inilah yang menjadi favorit saya dan mungkin juga favorit semua pengunjung yang sempat bertandang ke acara ini. Ruang ini didesain sebagai ruang pamer untuk segenap barang yang akan membawa memori kita terbang melayang ke masa lampau.

Di ruang yang merupakan hasil kerja sama teman-teman Project Bareng — penggagas acara — dengan The Dolananas ini kita bisa menemukan banyak sekali barang yang dulunya begitu familiar dengan diri kita.

Ada tamagochi, majalah superhero, action figure Satria Baja Hitam, juga film Rhoma Irama dan Warkop DKI. Oh ya, ada pula album soundtrack film Return of the Condor Heroes. Kamu tahu kan? Itu lho filmnya Yoko (Andi Lau) dan Bibi Lung, film silat berseri yang dulu nongol setiap malam itu tentunya jadi hiburan favorit seluruh keluarga Indonesia.

Nostalgia Main Game Contra
Nostalgia Main Game Contra © Sirajudin Hasbi

Asyiknya lagi, ruangannya diberi karpet. Jadi, kita bisa selonjoran atau tiduran sembari baca komik, majalah, bermain tamagochi, atau kalau kita mau kita bisa memainkan nintendo. Konsol game dari Jepang itu kembali hadir dan menggoda untuk dimainkan.

Ada dua game favorit saya yang syukurnya bisa dimainkan: Mario Bros dan Contra. Mario Bros si tukang ledeng yang hobinya melompat dan Contra yang sedang berperang demi membela kebenaran.

Hampir semua yang ditampilkan di sini dimiliki oleh The Dolanans, sebuah proyek pribadi untuk mengoleksi barang kenangan dan juga wadah jual beli merchandise dari masa lalu. The Dolanans didirikan oleh Agni Tirta pada 2 Februari 2012. Tapi, dia mulai mencari barang-barang itu sejak beberapa tahun sebelumnya.

“Saya awalnya suka mengoleksi kaos bertema film. Lama-lama keterusan ke merchandise lain hingga akhirnya kecemplung untuk mengoleksi barang-barang 90-an. Tapi, ya akhirnya dapat barang yang lebih tua lagi,” cerita Agni Tirta.

Karena tak semuanya bisa dia rawat dengan baik dan ada barang yang sama, maka dia kemudian menjual barang-barangnya. Setiap barang dia pilah, mana yang akan dia koleksi atau dia jual. Kalau ada yang lebih dari satu, jelas akan dia jual.

Di pameran ini pula, jika kita tiba-tiba kangen masa kecil dan hendak memainkan tamagochi atau ingin membawa pulang majalah, ya kita bisa membelinya dengan harga relatif murah. Rata-rata barangnya dijual di bawah 100 ribu rupiah. Cukup bersahabat untuk kantong mahasiswa bukan?

Pernak-pernik 90an yang bisa dibeli
Perna-pernik 90an yang bisa dibeli © Sirajudin Hasbi

Kalau kamu tertarik untuk datang, kamu masih punya kesempatan. Acara yang dimulai pada Senin, 11 April 2016, ini masih akan berlangsung hingga Minggu, 17 April 2016. Ruang pamer biasanya mulai dibuka pada pukul 10 pagi dan tutupnya sama dengan tutup mall tempat lokasinya, yakni jam 10 malam.

Selain, bisa mengunjungi ruang pamernya, kamu bisa mengikuti acara cosplay, teater diorama, band cover lagu 90-an, dan pada puncak acaranya nanti ada talkshow dengan Marchella FP, penulis buku Generasi 90-an. Acaranya hari Minggu jam 7 malam.

Sebagai cah 90-an, saya senang bisa bernostalgia dengan masa kecil saya yang penuh kebahagiaan dan tanpa pertanyaan serius semacam, kapan kamu wisuda, kapan kamu menikah, dan sederet pertanyaan yang sebaiknya tidak ditanyakan itu.

Selamat bernostalgia ya! Hati-hati jadi manusia susah move on.

Sirajudin Hasbi

Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.