Menggugat Paradigma Hitam-Putih Narasi Sejarah Indonesia

Narasi penulisan sejarah Indonesia selalu memandang sebuah kelompok atau peristiwa selalu antara hitam dan putih. Benar atau salah. Kawan atau lawan. Belanda atau Eropa totok sebagai penjajah yang hidup kaya raya, pintar dan bengis. Sedangkan masyarakat Indonesia dianggap miskin dan bodoh. Hal itu selalu dinarasikan dan dikonstruksi dalam pelajaran sejarah baik di sekolah maupun universitas.

Lantas, apa benar warga Eropa totok pada masa kolonialisme selalu menindas dan tidak punya simpati kepada warga pribumi? Lalu, apakah warga pribumi selalu bodoh dan miskin? Melalui novelnya yang berjudul Sang Raja, Iksaka Banu menjelaskan bahwa kehidupan—terutama Sejarah, tidak selalu hitam-putih. Sebab, pola pemikiran tersebut menghasilkan bias yang cukup besar.

Novel yang sejatinya merupakan biografi hidup Nitisemito, seorang pengusaha rokok tersukses pada awal Abad Ke-20 dengan merk dagang Bal Tiga di Kota Kudus ini justru hanya sedikit membahas secara khusus peranan Nitisemito. Dengan mengambil sudut pandang orang ketiga, Iksaka tak seperti Novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer, yang mengisahkan sosok sentral Minke oleh Pangemanann. Justru, Iksaka lebih memusatkan cerita pada pengelolaan rokok Bal Tiga.

Sang Raja
Sang Raja | Sumber: Deskgram.org

Cerita kehidupan Pabrik Bal Tiga hadir dari dua orang pegawainya yang menjadi tokoh utama dalam ini yakni Filipus Rechterhand dan Wirsoeseno. Filipus merupakan seorang Eropa totok yang banyak memiliki hak istimewa, justru mengesampingkan hak istimewanya. Ia sejak kecil lebih memilih bermain dengan anak-anak pribumi (hlm.23). Filip juga menikah dengan Walini, seorang wanita pribumi. Hal yang membuat istimewa ialah ia selalu memiliki sudut pandang pribumi dalam melihat segala sesuatu. Di Pabrik Bal Tiga, ia menjabat staff pembukuan.

Sedangkan, Wirosoeseno merupakan seorang priyayi rendahan yang menolak bekerja sebagai petugas irigasi yang merupakan pekerjaan turun-temurun. Wirosoeseno merupakan perpaduan antara priyayi “kolot” yang mewarisi darah ningrat, tetapi memiliki pendidikan barat dan lebih memilih pekerjaan yang saat itu dianggap modern yakni staf pemasaran rokok Bal Tiga.

Kedua tokoh tersebut silih berganti menceritakan kehidupan pabrik. Masa keemasan Bal Tiga terjadi pada periode 1920-an. Bal Tiga merupakan satu-satunya perusahaan rokok yang memberikan pelanggannya hadiah porselen dari Jepang dengan desain Bal Tiga. Tidak cukup hanya memberi porselen, Bal Tiga juga menyewa pesawat Fokker milik tentara Belanda untuk menjual Bal Tiga.

Kehidupan pabrik begitu dinamis, seluruh pegawai baik Eropa Totok maupun pribumi memiliki kedudukan yang setara. Tak ada perlakuan khusus bagi pegawai Eropa. Justru pegawai-pegawai Eropa sangat segan pada Nitisemito. Hal tersebut merupakan sebuah pencapaian bagi Filipus.

Bahkan, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pun segan dengan Nitisemito sebab ia dianggap berjasa membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan di Kudus. Bal tiga memiliki 3000 karyawan, sebuah angka yang sangat besar pada masa itu.

Tapi siapa yang menyangka bahwa Nitisemito sering kali membantu kelompok pergerakan. Hal itu lantaran Nitisemito merupakan anggota Sarekat Islam (SI) dan sering membantu pendanaan aktivis pergerakan seperti Bung Karno dan kawan-kawan Partai Nasional Indonesia (PNI)-nya.

Namun, justru keterlibatannya dengan dunia pergerakan yang membuat pabriknya bermasalah—meski beberapa kali berhasil melawan depresi ekonomi dunia pada 1930. Masalah itu naik ke permukaan tak lain karena konflik keluarga yang terjadi dalam pabrik. Persis seperti jatuhnya beberapa kerajaan nusantara pada beberapa abad sebelumnya.

Akoean Markoem yang merupakan cucu Nitisemito dari istri pertamanya, tak senang dengan Karmain yang merupakan menantunya dari istri kedua Nitisemito. Karmain dilaporkan oleh Akoean melakukan penggelapan pajak. Padahal, dana-dana yang semestinya dibayarkan menjadi pajak dipakai oleh Nitisemito untuk mendanai aktivis-aktivis pergerakan.

Karmain ditangkap. Pabrik menjadi lesu, sebab Karmain merupakan memiliki peran penting dalam pemasaran dan sebagai kepala usaha Bal Tiga. Meski begitu, pabrik tetap berlanjut hingga masa pendudukan Jepang 1942. Filip ditahan oleh Jepang sebagai kampanye anti-barat hingga proklamasi 17 Agustus 1945.

Ini merupakan fase pergolakan psikologis Filip. Di satu sisi, sentimen anti-Belanda pada awal kemerdekaan menguat. Namun, ia tidak mungkin kembali ke Belanda sebab ia Eropa Totok yang lahir di tanah Hindia Belanda dan merasa sudah menjadi bagian dari warga Hindia Belanda yang merdeka. Sedangkan di sisi lain, ada sekelompok warga pribumi mengaku sebagai Tentara Rakyat Indonesia, justru menjarah sesama warga pribumi.

Filip heran dengan potret hitam-putih dan streotip yang terjadi. “Sebagai Belanda totok yang lahir dan besar di sini, sejak kecil aku kerap berhadapan dengan situasi seperti ini. Seringkali membuatku terjebak dalam pola pemikiran klasik ‘siapa aku-siapa mereka?’ tetapi sejak menikah dengan Walini, aku semakin tahu, di mana aku harus berdiri,” (hlm.350).

Iksaka menggambarkan dengan cerdas pabrik sebagai sebuah representasi, bahwa tak selamanya pribumi bodoh dan miskin. Tak selamanya juga warga Eropa Totok memerintah pribumi, Filip salah satunya. Tak selalu juga warga Eropa Totok tidak mendukung kemerdekaan Indonesia. Begitu juga sebaliknya, tak selalu juga warga Indonesia mendukung kemerdekaan Indonesia.

Sayangnya, konflik yang terjadi tak digambarkan secara utuh dan terkesan tanggung. Konflik keluarga Nitisemito digambarkan cukup sederhana, tidak kompleks. Begitu juga pertarungan psikologis dalam diri Filip. Terbilang jauh kalau kita bandingkan pertarungan psiokologis Teto dalam novel Burung-Burung Manyar karya Romo Mangun Wijaya. Tetapi, Iksaka berhasil membuat tokoh Eropa totok, dengan sudut pandang pribuminya. Layaknya novel Semua untuk Hindia, yang ia tulis pada 2014 lalu.

Novel ini sangat layak dibaca oleh semua kalangan—terutama yang menekuni sejarah. Sebab, sejarah tidak sehitam-putih yang selama ini dinarasikan: Indonesia melawan Belanda. Belanda pintar, cerdik, dan suka menindas. Sedangkan, Indonesia memiliki karakter sebaliknya.

Tak hanya bagi yang menekuni sejarah, bagi kehidupan secara universal pun, novel ini sangat penting. Sebab, dalam dunia ini kita tak boleh berpikir dan menilai sesuatu secara hitam-putih. Benar atau salah. Kita atau mereka. Jika sudut pandang itu diteruskan, maka bukan tak mungkin menimbulkan perpecahan di masyarakat. Seperti yang terjadi di Indonesia pada 1965 dan 1998.