Mengetahui Niat Seseorang dari Rasa Kopi

Minum Kopi
Minum Kopi © Holy Adib

Di suatu Jumat yang lembab, saya bersama Awank sedang berada di kamar. Kami beraktifitas di laptop masing-masing. Saya membaca artikel di situs Minumkopi.com, sementara Awank membaca artikel di situs Mojok.co. Ketika itu kami sama-sama merokok, Awank kemudian berkata, “Siang-siang begini enaknya ngopi.” Ia lalu pergi ke dapur. Sementara di luar kamar, gerimis turun perlahan. Sungguh waktu yang tepat untuk membaca, menulis, merokok dan ngopi. Ide teman saya itu untuk membuat kopi, tepat sekali.

Sebelum Awank kembali dari dapur, saya berpikir soal perkataannya untuk membuat kopi tersebut. “Siang-siang begini enaknya ngopi.” Apakah kopi yang ingin dibuatnya untuk dirinya sendiri atau juga untuk saya?

Saya berpikir, bagaimana cara mengetahui niat Awak soal untuk siapa kopi yang tengah dibuatnya. Setelah berpikir beberapa lama, saya mengetahui caranya: mencicipi kopi yang dia buat dari rasa manis atau pahit.

Ide itu saya dapatkan setelah mengingat soal rasa kopi kesukaan Awank dan rasa kopi kesukaan saya. Saya tahu, Awank suka kopi pahit. Baginya, kopi itu harus pahit. Entah karena alasan apa, saya tidak tahu. Sementara Awank juga tahu, saya suka kopi manis. Awank juga tidak tahu apa alasan saya suka kopi manis.

Kalau mau tahu rasa kopi idaman saya yang sesungguhnya, saya suka kopi yang ada rasa manis dan pahitnya. Jadi, saat minum kopi, saya bisa merasakan dua rasa yang lazim terjadi dalam kehidupan ini: manis dan pahit. Sebab hidup kadang manis, kadang pahit dan kadang hambar. Ngomong-ngomong soal rasa hambar, bagaimana pula caranya membuat kopi hambar?

Karena Awank tahu bahwa saya tidak suka kopi pahit, saya tinggal menunggunya kembali dari dapur membawa kopi dan mencicipi kopinya. Tidak sampai lima menit, Awank membawa kopi dalam gelas besar (mug).

Saya menebak, Awank membuat kopi sebanyak itu agar tidak cepat habis. Sepanjang yang saya amati, sepuluh tahun lebih saya berteman dengannya, dia malas beranjak dari aktifitas mengasyikkan yang sedang dikerjakannya. Tebakan saya yang lain, dia membuat kopi sebanyak itu, juga untuk saya. Sebab, kalau dia bikin segelas kecil, pastilah cepat habis untuk dua orang.

Setelah duduk dan membakar sebatang rokok, Awank menyeduh kopi itu. Dari raut wajahnya, terbersit rasa puas. Seakan-akan, saat meneguk seteguk kopi itu, dia meneguk kenikmatan hidup.

Setelah diteguknya, dia meletakkan gelas kopi di sudut dinding, persis di samping laptopnya. Posisi gelas kopi itu menyulitkan saya untuk meraih kopi tersebut, sebab saya berjarak satu setengah meter kurang darinya. Kecurigaan saya semakin bertambah, bahwa kopi itu dibikinnya untuk dirinya sendiri. Tapi, saya tidak boleh cepat mengambil kesimpulan. Sebagai seorang wartawan, saya terbiasa menyimpulkan sesuatu dari fakta (dalam hal ini fakta yang saya yakini), bukan dari kecurigaan yang berlandaskan ketidaksukaan.

Saya kemudian mengambil kopi itu dan menyeduhnya. Srrrrppptttt.. Kamfret, pahit sekali! Ini kopi antisemut. Dari sini, saya kemudian tahu, bahwa Awank membuat kopi untuk dirinya sendiri. Kesimpulan ini sudah final. Tidak dapat diganggu-gugat lagi. Saya tidak perlu klarifikasi dari Awank soal kopi yang dibuatnya untuk siapa. Kalau saya konfirmasi, pasti nanti dia akan mengeluarkan kalimat-kalimat retoris atau jawaban pembelaan, seperti politisi di televisi.

Di luar kamar, gerimis yang tadi turun perlahan, kini turun tergesa-gesa. Cuaca seharusnya sejuk. Tapi entah kenapa, saya merasa gerah.

Meski kopi itu pahit, meski Awank membuat kopi untuk dirinya sendiri, saya tetap meminum kopi tersebut sambil menyelesaikan tulisan ini. Di zaman serba susah begini, apakah masih penting soal manis atau pahit, enak atau tidak? Yang penting itu, apakah ada sesuatu untuk diminum. Adakah sesuatu untuk memenuhi kebutuhan (pokok)?

Holy Adib

Wartawan Harian Haluan, salah satu surat kabar di Sumatera Barat.