Mengenal Flores Meruwat Kopi Nusantara

Saya tahu kopi sejak kenal dunia,
Saya minum kopi sejak kenal minum air

Demikian ujar Bupati Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Marianus Sae, di sela-sela diskusi Festival Kopi Flores, di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) Jumat (16/09) sore minggu lalu. Ungkapan Marianus itu tak sepenuhnya benar, namun cukup pas untuk menggambarkan bagaimana masyarakat Flores mengenal kopi. Bagi mereka, kopi mungkin layaknya masyarakat pesisir mengenal ikan atau masyarakat perkotaan yang lazim dengan sesuatu yang serba berbau teknologi modern.

Festival Kopi Flores digelar sebagai kelanjutan dari acara Jelajah Sepeda Flores-Timur yang diadakan oleh Harian Kompas pada Agustus lalu. Dimulai dari Labuan Bajo hingga Atambua. Dan pada 15-17 September lalu, bertempat di BBJ, Palmerah, Jakarta Pusat, Kompas bekerja sama dengan beberapa pemerintah di Kabupaten  Flores, NTT, mengadakan Festival Kopi Flores sebagai bagian dari upaya memperkenalkan Kopi Flores.

Selama tiga hari pelaksanaan, selain beberapa rangkaian acara seperti talkshow budidaya kopi dan cupping, coffee painting, coffee workshop, juga ada Parade 1000 Cangkir Kopi yakni, membagikan 1000 cangkir kopi Flores gratis kepada pengunjung festival. Acara juga akan diramaikan oleh penampilan dari grup band Gugun and the Blues Shelters di hari kedua.

Proses cupping Kopi Flores
Proses cupping Kopi Flores | © Thohirin
Para pengunjung yang tengah bersantai sambil menikmati sajian kopi
Para pengunjung yang tengah bersantai sambil menikmati sajian kopi | © Thohirin

Naik-turunnya Kopi Flores

Dibanding pangsa pasar lokal, Kopi Flores sebetulnya sudah lebih dikenal untuk pasar internasional. Dari total 7.269 ton produksi kopi Flores pada 2015 misalnya, tercatat sebanyak 70 persen hasil kopi dari Flores diekspor. Pada kurun waktu 2015-2016, kabupaten Ngada bahkan mampu mengekspor total sebesar 1.210 ton kopi arabika dan robusta untuk pasar Amerika dan Eropa. Kabupaten itu lebih dulu merebut pangsa pasar internasional ketimbang dua wilayah lainnya yakni, Manggarai Barat dan Manggarai Timur meski dengan produksi yang lebih banyak.

Sementara pada awal 2016 lalu, Asosiasi Petani Kopi Manggarai (Asnikom)—sebuah perkumpulan petani kopi yang melibatkan 1.200 petani di tiga kabupaten yakni, Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat—mencatat daftar tunggu pesanan kopi Flores mencapai 24 ton. Pesanan itu baru akan dipenuhi hampir setengahnya. Agar tak kehabisan, para importir harus memesan dua bulan sebelumnya.

Lebih dikenal di luar itulah, dalam beberapa kali kopi itu bahkan sempat kehilangan brand atau diklaim sebagai bukan berasal dari Flores, negeri asal kopi itu. Padahal secara kualitas, kopi itu termasuk pada level di atas rata-rata karena tumbuh di kondisi yang secara geografis mumpuni untuk sebuah pohon kopi untuk tumbuh. Tak kalah dengan Gayo atau Toraja yang telah lebih dulu dikenal di pasar dalam negeri.

Namun belakangan, menurut Surip Mawardi, mantan peneliti di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, dalam paparannya di tengah diskusi menjelaskan, Kopi Flores tengah menggeliat di pasar kopi lokal sejak lima tahun terakhir. Kondisi itu seiring dengan juga menggeliatnya kedai kopi yang mulai tumbuh signifikan di beberapa kota besar seperti Jakarta, Yogya, Surabaya, dan Bali.

Karenanya, lanjut Surip, ada dua strategi yang harus dilakukan, baik oleh petani, pemerintah kabupaten di Flores maupun pemerintah pusat, untuk lebih meningkatkan pangsa pasar kopi Flores, yakni mutu dan marketing (pemasaran). Pasalnya, sejauh ini kopi Flores memang memiliki permasalahan serius soal brand dan pemasaran.

Pengunjung memenuhi sesi diskusi tentang Kopi Flores
Pengunjung memenuhi sesi diskusi tentang Kopi Flores | © Thohirin
Para pengunjung memenuhi ruang pameran
Para pengunjung memenuhi ruang pameran | © Thohirin

Karakter Kopi

Flores, dalam bahasa Portugis yang berarti “bunga,” adalah sebuah pulau yang terletak di Provinsi NTT. Di sepanjang 250 kilometer pulau itu, banyak berdiri gugusan gunung, baik yang masih aktif dan non aktif. Dari total delapan Kabupaten di provinsi NTT, Manggarai termasuk sebagai penghasil kopi terbanyak. Varietas kopi Manggarai adalah typica dan tumbuh di ketinggian antara 1300-1500 mdpl. Dengan kondisi itu, hampir semua kopi Flores masuk dalam kualitas kopi bercitarasa tinggi di mata penikmat kopi.

Arabika Flores Bajawa, yang berasal dari Kabuaten Ngada, bahkan telah mengantongi sertifikat perlindungan Indikasi Geografis (IG) pada 2010. IG menunjukkan daerah asal produk seperti karena faktor lingkungan geografis termasuk alam, manusia, atau kombinasi keduanya, sehingga menjadi identitas dan ciri khas tertentu produk itu.

Laiknya citarasa kopi yang ditentukan oleh letak geografis dan bentuk olahannya, karena rata-rata berada di ketinggian di atas 1300 mdpl, kopi Flores juga memiliki keunikannya tersendiri. Kopi Flores selama ini dikenal tingkat sweetness-nya (manis) yang tinggi. “Dominasi karakter flores itu sweetness-nya bagus. Jadi, ada rasa manis itu bagian dari komponen utama, jadi pada saat diseruput sweetness-nya terasa sekali,” kata Surip.

Dari bentuk fisik, biji kopi Flores dikenal lebih bulat dari biji kopi lainnya. Untuk warnanya, biji Kopi Flores terlihat hijau keabu-abuan (green grey), ini termasuk varian kopi arabika. Sementara untuk menghasilkan kopi Flores yang baik, ada 11 langkah yang setidaknya harus diikuti, antara lain tak boleh terlalu lama disimpan, untuk waktu pengeringan antara 24-36 jam atau tak boleh sampai berjamur karena dapat mengubah citara kopi.

Dalam acara festival kopi Flores kali ini, pemerintah kabupaten di Flores mengenalkan banyak varian kopi asal pulau di Indonesia Timur itu, antara lain Kopi Flores Manggarai dan Arabika Flores Bajawa. Melalui Indonesia Latte Art Artist, para steakholder kopi juga turut hadir di acara ini.

Thohirin

Tertarik jurnalistik. Penyuka masakan pedas. Pernah bercita-cita menjadi pemain Timnas.