Mengenal Filosofi Kopi Ijen

Mat Husen, salah seorang petani menjemur kopi menggunakan pera-pera di halaman UPH, Desa Sukorejo, Sumber Wringin, Bondowoso, Jawa Timur.
Mat Husen, salah seorang petani menjemur kopi menggunakan pera-pera di halaman UPH, Desa Sukorejo, Sumber Wringin, Bondowoso, Jawa Timur. | © Friska Kalia

Pagi itu, biji-biji kopi berwarna hijau kebiruan ditumpahkan ke atas pera-pera oleh sejumlah pekerja di Unit Pengolahan Hasil (UPH) Kopi di Desa Sukerejo, Kecamatan Sumber Wringin Bondowoso, Jawa Timur. Mereka terlihat cekatan memilah dan memisahkan biji-biji kopi terbaik untuk dijemur kembali di halaman.

Salah satu dari mereka terlihat sibuk menyiapkan nampan tanda siap melakukan sortasi untuk kopi-kopi yang sudah kering. Sementara sebagian lainnya memeriksa kesiapan mesin roasting (sangrai) dan mesin giling kopi dengan seksama.

Di sisi lain terlihat petani sedang berkumpul. Mereka bercengkrama santai dalam kegiatan diskusi rutin untuk membahas tentang pengawasan mutu dan cita rasa kopi. Pertemuan ini dihadiri juga oleh Satuan Pengawas Internal (SPI) dan Masyarakat Pelindungan Indikasi Geografis (MPIG) Java Ijen Raung.

Pemandangan serupa biasa tersaji setiap hari di UPH yang dikelola 42 kelompok petani kopi rakyat Java Ijen Raung. Aktifitas sortasi, penjemuran hingga roasting (sangrai) kopi akan menjadi kegiatan rutin sembari menunggu masa panen tahun ini yang diprediksi akan tiba sekitar April hingga Mei.

Seorang pekerja mensortir kopi di Unit Pengolahan Hasil (UPH) Desa Sukorejo, Sumber Wringin, Bondowoso, Jawa Timur.
Seorang pekerja mensortir kopi di Unit Pengolahan Hasil (UPH) Desa Sukorejo, Sumber Wringin, Bondowoso, Jawa Timur. | © Friska Kalia

Sejak lama, kopi telah akrab bagi masyarakat di sekitar dataran lereng Gunung Ijen dan Raung. Kopi telah menjadi sandaran hidup bagi mereka.

Jon Sarian Sukardjo salah satunya. Di usia yang hampir menginjak 60 tahun, Jon masih akrab dengan kopi. Sorot matanya masih semangat kala berbicara soal kopi. Sukardjo merupakan satu dari lima petani kopi di Sumber Wringin.

Bagi Sukardjo, kopi tak hanya menjadi sumber penghasilan, tapi merupakan lambang kebanggaan. Sukardjo telah menanam kopi sejak tahun 80an. Berkat kopi itu pula, Sukardjo berhasil mengantarkan buah hatinya mendapatkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi.

“Begitu saya lahir, kebun sudah ada. Pada 1986 saya bersama teman-teman mendirikan kelompok kecil agar petani bisa saling kerjasama. Saya kalau cerita dari awal ingat perjuangan masa lalu saya pasti menangis, terharu karena tidak menyangka kopi dan jerih payah kita bisa seperti sekarang, ini kebanggaan untuk kami,” kata Sukardjo.

Kopi juga punya makna tersendiri bagi Mat Hosen. Bagi mantan mandor kebun ini, kopi telah menjadi bagian dari kesehariannya. Mat Hosen bahkan sampai mengajukan pensiun dini dari pekerjaannya sebagai mandor agar bisa fokus mengelola lahan kopi.

“Ada kesenangan tersendiri saat saya mengasuh kopi-kopi ini. Kalau dibilang lebih cinta mana, kopi dan istri, saya jawab kopi,” kata Mat Hosen terbahak.

Saat ditemui di Unit Pengolahan Hasil (UPH) Desa Sukerejo, Sumber Wringin, Mat Hosen bercerita tentang kecintaannya pada kopi. Sebagai bukti kecintaannya itu, ia kini menularkan ilmu pengetahuannya seputar kopi kepada sanak keluarga dan orang di sekitar tempat tinggalnya. Istrinya, telah ia ajak langsung ke dunia kopi untuk fokus di sektor penjualan dan pemasaran. Sementara Mat Hosen fokus kepada budidaya tanaman dan kualitas kopi. Sanak keluarga dan tetangga sekitar UPH, oleh Mat Husen diajarkan bagaimana proses pengolahan kopi yang sesuai standar. Karena bagi Mat Hosen, kecintaannya kepada kopi kurang sempurna tanpa dirasakan orang lain.

“Saya menganggap kopi ini bukan hanya tanaman, biji ini seperti mutiara untuk saya. Kalau sudah saya cium baunya, rasanya tidak bisa berhenti,” ujar Mat Hosen sembari mencium segenggam kopi di tangannya.

Bunyi mesin sangrai kopi memecah keheningan di pagi menjelang siang itu. Mat Hosen tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari kopi-kopi yang ada di depannya. Jika tak menyentuh langsung, Mat Hosen akan meminta pekerjanya untuk membetulkan sesuatu yang dirasanya janggal.

Pekerja mengupas biji kopi yang sudah disortir menggunakan mesin pulper di UPH, Desa Sukorejo, Sumber Wringin, Bondowoso, Jawa Timur.
Pekerja mengupas biji kopi yang sudah disortir menggunakan mesin pulper di UPH, Desa Sukorejo, Sumber Wringin, Bondowoso, Jawa Timur. | © Friska Kalia
Mat Husen menjemur kopi di halaman UPH, Desa Sukorejo, Sumber Wringin, Bondowoso, Jawa Timur.
Mat Husen menjemur kopi di halaman UPH, Desa Sukorejo, Sumber Wringin, Bondowoso, Jawa Timur. | © Friska Kalia

Mat Hosen bercerita, dirinya pernah nelongso saat mengetahui kopi yang dirawatnya dengan sepenuh hati, dijual dengan nama berbeda oleh seseorang yang pernah datang ke tempatnya. Kala itu, Mat Hosen hanyalah petani biasa yang tak mengerti banyak tentang tata niaga kopi.

“Saya menangis saat itu. Setelah tahu ternyata kopi Bondowoso dijual dengan nama kopi dari daerah lain. Sakit sekali hati saya,” kenang Mat Hosen.

Lantara itu, kini Mat Hosen lebih berhati-hati dan lebih teliti saat memilih eksportir yang akan menjadi mitranya.

Petani lain adalah Suyitno. Pensiunan Polri ini juga punya ikatan yang kuat dengan kopi. Menurutnya, keberadaan kopi di dataran Ijen Raung, semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kopi terbaik di dunia.

“Kopi kita memiliki kadar keasaman yang pas disertai rasa coklat bila dikecap lama-lama. Kopi Java Ijen Raung tentu menambah jajaran kopi berkualitas yang dimiliki Indonesia,” ungkap pria yang juga Ketua Koperasi Rejo Tani ini.

Biji kopi yang tumbuh di dataran tinggi Gunung Ijen mulai ranum)
Biji kopi yang tumbuh di dataran tinggi Gunung Ijen mulai ranum) | © Friska Kalia

Suyitno memilih fokus mengelola kopi usai menjalani karirnya di kepolisian. Menurut Suyitno, berkarir di kepolisian tak jauh berbeda dengan berkarir di lahan kopi. Semua butuh kedisiplinan dan komitmen untuk konsisten agar mencapai hasil yang memuaskan.

“Harus disiplin dan punya komitmen yang kuat. Karena ini soal cita rasa, itu tidak bisa ditawar-tawar,” tegasnya.

Sukardjo, Mat Hosen dan Suyitno, hanyalah tiga dari sekitar 2.000 lebih petani kopi di lereng Gunung Ijen dan Raung. Kecintaan mereka pada kopi tidaklah dipengaruhi oleh tren ataupun masa. Kopi yang melambangkan kebanggaan, cinta, kedisiplinan dan komitmen tersebut, telah dijaga oleh petani-petani kopi ini sejak puluhan tahun lalu.

Kini, lambang kebanggaan, cinta, kedisiplinan dan komitmen tersebut telah mengantarkan petani-petani tangguh dari lereng Ijen dan Raung bertandang ke pelosok negeri untuk berbagi cerita dan ilmu tentang perkopian. Kopi mereka sendiri sudah melangkah lebih jauh ke dataran Amerika dan Eropa.

Friska Kalia

Tukang Nulis, Ngopi dan Tidur.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com