Mengemas Album dengan Gaya

Di era digital seperti sekarang, apakah rilisan album fisik bisa dibilang tamat?

Itu pertanyaan yang muncul ketika internet muncul dan musik digital mulai berjaya. Kalau dilihat dari data yang dirilis oleh Nielsen, memang masa depan album fisik lumayan bikin cemas. Di Amerika Serikat, misalkanya, tingkat penjualan album fisik menurun lumayan drastis. Dari data Nielsen pada 2013, penjualan album fisik berupa kaset dan CD berjumlah 165 juta. Namun turun menjadi 140 juta saja pada 2014. Turun 14 persen. Sedangkan konsumsi musik digital, meningkat 3,7 persen. Dari 314 juta unduh pada 2013, menjadi 326 juta unduh pada 2014.

Orang-orang dunia musik menyebut kondisi ini sebagai digital deflation, sebuah istilah untuk menyebutkan bagaimana sebuah konten berkurang nilainya karena perubahan konsumsi dari fisik ke digital. Media cetak adalah salah satu contoh industri yang mengalami deflasi digital, hingga disebut akan mengalami senjakala.

Tapi apakah musik Indonesia juga mengalami kiamat? Ya enggak lah. Pola konsumsi musik memang bisa berubah, tapi kecintaan pada musik tak akan pernah berubah.

Tapi pertanyaan lanjutan yang sering dilontarkan adalah, kalau penjualan album fisik menurun, lantas dari mana musisi mencari uang? Sedikit menyitir “Nyanyikan Lagu Perang”, jawabannya: pasti ada cara untuk mencari uang.

Hisham Dahud, analis senior untuk Hypebot, situs tentang musik, teknologi, dan bisnis; pernah menulis tentang 42 cara untuk mencari uang bagi musisi indie. Mulai dari honor konser, penjualan digital, penjualan album ketika pertunjukan, penjualan merchandise, Youtube Partner Program, hingga fan funding dan sponsorship.

Kini banyak band bawah tanah itu mencari uang dari konser dan penjualan merchandise. Band-band seperti Seringai, Koil, The SIGIT, Sore, adalah band-band yang sukses “kaya” dari hasil konser dan jualan merchandise, tentu sembari berjualan album dengan kemasan yang menarik.

Album dengan kemasan yang menarik dan konten yang bagus —apalagi dibuat terbatas— pasti akan menarik para pembeli. Buktinya, saat kaset dan CD menurun penjualannya, ternyata tingkat penjualan piringan hitam malah naik. Di Amerika Serikat, pada 2013 ada 6,1 juta keping piringan hitam yang terjual. Jumlah itu meningkat jadi 9,2 juta keping pada 2014. Naik sekitar 51,8 persen. Asumsi saya, selain mencari kualitas suara, orang cenderung mencari album fisik yang layak dijadikan koleksi.

Apa syarat album yang layak koleksi? Mungkin bisa dimulai dari kemasan yang apik, unik. Juga berisi lembar-lembar artwork yang menarik.

Di Indonesia, tak hanya piringan hitam yang kini dikemas dengan menarik. Untuk menghadapi menurunnya penjualan album fisik, banyak band —kebanyakan memang band bawah tanah— mengemas albumnya dengan sangat menarik. Memang penjualannya tak akan mencapai jutaan keping. Tapi album fisik dengan kemasan yang menarik bisa menjadi alat “promosi” agar band dilirik.

Triknya mungkin begini: band merilis album digital yang dibagi secara gratis. Kemudian mereka merilis album fisik dalam jumlah terbatas dan dengan kemasan yang tidak standar. Pendengar bisa mengunduh album digital secara gratis, dan para kolektor akan memburu album fisik itu. Banyak band bawah tanah Indonesia memakai cara ini. Antara lain Koil, Efek Rumah Kaca, Naif, The Upstairs, White Shoes and the Couples Company, Rabu, Senyawa, Sangkakala, hingga Mocca.

Berikut adalah contoh album-album yang dikemas dengan apik dan artistik:

– Mocca, album Colours (2007)

Kemasan Mocca berbentuk kotak pensil warna.
Kemasan Mocca berbentuk kotak pensil warna.

Kaset dan CD album ini dikemas dalam wadah berbentuk kotak pensil warna. Lengkap dengan wajah personel, dan gambar pensil. Kemasan unik ini membuat Colours diburu banyak kolektor. Kini harganya lumayan melonjak. Harga kaset di salah satu lapak penjual online dibanderol Rp 85 ribu.

– Tika and the Dissidents, album The Headless Songstress (2009)

Tika and the Dissidents mengemas albumnya dengan sangat artistik.
Tika and the Dissidents mengemas albumnya dengan sangat artistik.

Saya tertarik dengan album ini karena bentuknya yang sangat wah, tapi dijual dengan harga murah. Kalau saya tak salah ingat, dulu saya beli album ini hanya Rp 35 ribu saja. Padahal CD ini dikemas dalam wadah kain yang berbeda-beda, juga dilengkapi dengan buku kecil berisi lirik dan grafis yang amat keren.

– Zoo, album Prasasti (2012)

Kini batu granit bisa menjadi kemasan album
Kini batu granit bisa menjadi kemasan album.

Band dari Yogyakarta ini memang terkenal nyentrik. Untuk album ini, mereka menggunakan batu granit seberat 1,7 kilogram sebagai wadah CD. Album fisik Prasasti hanya dibuat terbatas, 200 keping saja. Dalam kemasan, ada semacam leaflet dari kertas daur ulang. Saat pengiriman, album ini harus dipak dengan kayu.

– Sangkakala, album Sangkakala (2013)

Macanista seluruh dunia wajib membeli album Sangkakala ini
Macanista seluruh dunia wajib membeli album Sangkakala ini.

Saya jadi saksi betapa merepotkannya membuat kemasan album ini. Vokalis Blankon kebetulan punya istri yang mahir menjahit. Maka sang istri menjahit dari nol, kain denim berwarna merah yang dijadikan bentuk jaket sebagai wadah CD. Di wadah jaket itu dijahit pula beberapa emblem. Istri Blankon ini harus menjahit satu demi satu, hingga 250 kemasan jaket. Bayangkan betapa repot dan melelahkannya hal itu. Tapi demi kecintaan terhadap musik, hal tersebut dikerjakan dengan senang hati.

Nuran Wibisono

Penyuka jalan-jalan dan musik bagus.