Mengelola Kopi, Mengangkat Harkat-Martabat Petani

Pendiri Puslitkoka Indonesia
Pendiri Puslitkoka Indonesia

Sudah bertahun-tahun lamanya saya memaknai kopi sebagai minuman dengan cita rasa yang biasa-biasa saja. Itu sebelum saya merantau ke Jember, 200 km sebelah tenggara ibukota provinsi Jawa Timur—Surabaya—untuk kuliah pada tahun 2007 silam. Tiba di Jember, saya mendapati banyak sekali warung kopi tradisional dengan berbagai variasi racikan kopi. Ini yang tidak saya temukan ketika tinggal di daerah asal, Depok, Jawa Barat.

Maraknya kopi rakyat (kopi tradisional) di Jember perlahan-lahan mulai merangsang alam bawah sadar saya untuk coba menjamah kopi-kopi tersebut. Alhasil, saya sekarang menjadi orang yang gemar minum kopi. Ditemani rokok, sajian kopi panas di pagi, siang, sore, maupun malam hari selalu terasa nikmat.

Suatu ketika, untuk mengukur seberapa cinta saya cinta kopi, seorang teman menantang saya untuk menulis sebuah cerita tentang satu-satunya lembaga penelitian kopi di Indonesia. Apalagi kalau bukan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka Indonesia).

Karena saya tidak mau sekedar di cap sebagai pecinta kopi yang tidak tahu-menahu muasal, maka saya berkomitmen untuk mencari tahu informasi Puslitkoka tersebut. Saya menerima tantangannya.

* * *

Kantor Puslitkoka Indonesia

Puslitkoka Indonesia didirikan pada tanggal 1 Januari 1911. Setelah kemerdekaan sampai tahun 1981, Puslitkoka Indonesia masih merupakan cabang dari Balai Penelitian Perkebunan Bogor. Sejak tahun itu pula dengan surat keputusan Menteri Pertanian, lembaga ini ditingkatkan menjadi lembaga penelitian tingkat nasional.

Puslitkoka memiliki dua buah kantor di Jember. Pertama, terletak di Jalan PB. Sudirman No. 90 Jember. Kantor ini berada di dekat pusat kota Jember. Kantor kedua berlokasi di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember yang berjarak ± 20 km arah barat daya dari kota Jember.

Saya baru mengetahui belakangan kalau ternyata sejak tahun 1987, sebagian besar kegiatan atau operasional Puslitkoka dipindahkan ke kantor kedua. Sebagian besar ahli atau pakar kopi yang dimiliki oleh Puslitkoka memang berada di kantor yang dikelilingi oleh kebun kopi tersebut.

Setelah menunggu beberapa saat, saya akhirnya bisa bertemu langsung dengan Nurcholis, Kepala Urusan Pemasaran Puslitkoka. Lelaki berumur 49 tahun ini bekerja di Puslitkoka sejak tahun 1983, ketika ia baru lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA).

Awalnya, Nurcholis ditempatkan sebagai salah satu teknisi Puslitkoka, kala itu ia hanya nyambi karena juga melanjutkan pendidikan di Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah, Jember. Sampai tahun 2002, ia ditugaskan di kebun sebagai Kepala Kebun. Dari sinilah ia memiliki pengalaman teknis dan ditunjuk untuk mengajar petani serta petugas kebun.

“Puslit itu lembaga yang salah satu tugasnya itu untuk kegiatan pelatihan. Pelatihan disitu mencakup kopi-kakao mulai pra sampai paska panen. Saya terutama ditugaskan untuk mengajar di pra panennya. Ini kegiatan mulai dari pembibitan, budidaya, pemeliharaan,” ujarnya membuka pembicaraan kami di rumahnya di Jenggawah.

Hal ini searah dengan tugas pokok dan fungsi Puslitkoka. Salah satunya melakukan kegiatan pelayanan kepada petani atau pekebun kopi dan kakao di seluruh wilayah Indonesia. Tujuannya, untuk memecahkan masalah dan mempercepat alih tekhnologi.

Berbekal pengalaman di lapangan selama menjabat kepala kebun itulah ia mulai dilibatkan untuk mengajar. Hal ini tidak terlepas dari kurangnya peneliti-peneliti di bidang Agronomi. Sebenarnya, yang pantas untuk mengajar para petani dan petugas adalah para peneliti. Akan tetapi aktivitas penelitian yang tinggi dari para peneliti menyebabkan kepala kebun yang dinilai berpengalaman juga dilibatkan untuk mengajar.

Pelatihan-pelatihan yang diberikan Puslitkoka selama ini mencakup mulai Sabang sampai Merauke. Pelatihan biasanya diadakan empat hari dengan bermacam-macam kegiatan.

Ada bidang masalah kopi unggul, maka yang menyampaikan adalah peneliti pemuliaan. Ada pula materi lahan tanah, yang menyampaikan adalah peneliti tanah. Ada penyampaian materi hama penyakit, nanti yang menyampaikan adalah peneliti hama dan penyakit. Ada juga materi pasca panen, pengolahan dari dulu sampai hilirnya. Sesuai dengan bidangnya masing-masing.

“Kemudian nanti yang menyampaikan materi budidaya, itu termasuk diantaranya saya. Saya termasuk kadang-kadang ya mengajar di Aceh, di Papua, luar Jawa. Termasuk di Jawa siapa yang memerlukan,” ujar Nurcholis yang baru pada bulan Juli 2012 lalu menempati jabatan baru sebagai Kepala Urusan Pemasaran, “Misal, di perkebunan membutuhkan narasumber masalah budidaya kopi. Itu kadang-kadang saya yang dikirim.”

* * *

Kegiatan yang banyak dilakukan sebisa mungkin sesuai dengan visi yang dicanangkan Puslitkoka. Yaitu menjadi lembaga penelitian yang handal dan produktif dalam menciptakan dan mengembangkan teknologi yang terkait dengan perkebunan kopi dan kakao.

Di Puslitkoka soal kopi dibagi menjadi dua: pemuliaan Arabika dan Robusta. Lalu ada juga peneliti pemuliaan kakao, bidang agronomi kakao dan kopi. Tak hanya berhenti disitu. Masih banyak lagi macam-macam penelitian yang dilakukan. Diantaranya bidang tanah, pasca panen, hama, dan penyakit.

Secara spesifik, Puslitkoka melalui beberapa penelitinya juga melakukan beberapa kegiatan yang bertujuan meningkatkan kualitas kopi daerah di seluruh nusantara. Salah satu peneliti yang paling berjasa memasarkan kopi lokal adalah Surip Mawardi.

Menurut Nurcholis, ia banyak membawa nama kopi daerah. Surip Mawardi memperkuat wilayahnya dengan membawa teknisi-teknisi dari Puslitkoka untuk membina para petani.

“Dia (Surip Mawardi) sudah sepuluh tahun terakhir ini berkecimpung dalam dunia Pemotramet. Pemotramet itu model kemitraan mediasi. Jadi dia itu membina petani, terus manfaatnya petani itu kepuasan bagi Pak Surip.”

Surip Mawardi sendiri adalah peneliti Puslitkoka di bidang pemuliaan. Dapat dikatakan, ia adalah pakar bidang pemuliaan kopi kaliber internasional Utamanya jenis Arabika.

Nurcholis menjlentrehkan pola Pemotramet ini, “Jadi awalnya, misalnya Kintamani, Bali. Dulu harga kopi itu sudah tidak menarik tapi berkat yang diterapkan Pak Surip itu, membina petani, membuat kelompok dan kerja sama dengan Dinas Perkebunan. Jadi Dinas Perkebunan ke petani suruh buat kelompok-kelompok. Dari kelompok-kelompok itu didatangkanlah Pak Surip yang telah membawa eksportir.”

Tahap pertama yang dilakukan Surip dan Puslitkoka di beberapa daerah adalah memberikan pelatihan teknis soal bagaimana mengolah kopi secara benar. Karena prinsip menghasilkan kopi berkualitas prima adalah pengolahan yang benar. Apabila ada salah sedikit saja, maka rasa kopi yang disajikan akan hancur.

Kerja keras Puslit yang lain, dapat dilihat di daerah seperti Bajawa. Nusa Tenggara Timur (NTT). Dahulu, sebelum Surip Mawardi dan tim Puslitkoka, salah satunya Nurcholis sendiri, memberi pelatihan pada masyarakat di sana, harga kopi per gelondong merah hanya 500 rupiah. Para petani di Bajawa pun kehilangan semangat untuk menanam kopi. Padahal, tanah yang mereka pijak amat potensial menghasilkan kopi berkualitas.

Sekarang harga kopi dengan ukuran sama sudah mencapai 5000 rupiah. Naik 10 kali lipat! Efek baik lainnya, para petani kopi Bejawa mendapatkan lagi energi dan semangat untuk membudidayakan kopi asli daerah mereka.

Pria tegap ini lalu menuturkan aspek emosionalnya, “Ada kebanggaan saya sebagai orang Puslit. Di sana itu ada beberapa puluh kelompok Unit Pengolahan Hasil (UPH). Saya kalau mengajar, mesti beberapa kelompok itu dijadikan satu. Nanti saya kasih materi, praktek. Bagi saya juga ada kesan, kepuasan pribadi.”

* * *

Menurut Nurcholis, salah satu keberhasilan program Puslitkoka yang terwakili oleh Surip Mawardi adalah menaikkan citra kopi daerah dan memajukan petani adalah melalui model pembinaan kelompok tani. Tidak berjalannya program-program di kalangan petani dari dulu sampai sekarang sebenarnya ditengarai ketidakmampuan dinas-dinas mengangkat harkat dan martabat petani.

Hal inilah yang menjadi alasan, kenapa sentra-sentra kopi di Indonesia belum berkembang seluruhnya. Hanya berpusat ke beberapa daerah saja. Padahal jika ditelisik lebih jauh, tiap-tiap daerah memiliki cita rasa kopi sangat unik dan khas.

Sesuai dengan visi dan misinya, program-program utama Puslitkok sampai sekarang adalah riset dan penelitian. Mulai pra sampai pasca panen. Termasuk di dalamnya ialah bidang pemuliaan. Puslitkoka juga terus menghasilkan varietas unggul baru, menghasilkan penemuan-penemuan baru, kopi-kopi unggul baru. Setidaknya setiap beberapa tahun sekali, lembaga ini berhasil melepas varietas kakao dan kopi baru.

Secara kelembagaan, menurut Nurcholis, tantangan utama yang harus dihadapi Puslitkoka ialah masalah regenerasi. Bagaimanapun, masalah ini harus segera dipecahkan.

Soal regenerasi ini naik ke permukaan karena satu hal. Yaitu ketika orang-orang Puslitkoka sendiri menyadari bahwa ada jurang ilmu pengetahuan dan pengalaman sangat lebar antara peneliti senior dan peneliti junior di Puslitkoka.

Padahal, hampir semua peneliti senior akan pensiun disaat yang bersamaan. Sedangkan peniliti junior mayoritas baru bekerja selama dua tahun, paling lama hanya berkisar empat tahun.

Selain regenerasi, tantangan lain Puslitkoka adalah lahan. Untuk ukuran lembaga penelitian berskala nasional, lahan yang dimiliki sekarang masih sangat terbatas. Puslitkoka seharusnya memiliki lahan yang memadai sebagai bahan untuk memajukan kopi dan kakao Indonesia.

Sedangkan sampai sekarang, “Puslit hanya punya 3 kebun, luasnya 362 hektar. Jadi untuk kegiatan penelitian masih kurang,” tukas Nurcholis.

Sumber Foto:

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Secangkir Kopi Meracik Tradisi, 2011.

Didik Saputra

Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Jember