Mengecap Sunrise di Kojadoi

Kojadoi adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah utara pulau Flores. Ia masuk dalam wilayah kecamatan Alok Timur, Maumere, kabupaten Sikka. Nama Kojadoi sendiri berasal dari kata koja yang berarti kenari, dan doi yang artinya kecil. Sehingga, Kojadoi adalah kenari yang kecil. Meskipun saya secara pribadi tak menemukan satu pun pohon kenari yang tumbuh di sana. Barangkali saja penamaan itu merujuk pada bentuk pulaunya yang memang kecil dan unik. Seperti buah kenari.

Selama kurang lebih tiga hari, saya dan teman-teman dari Maumere berkunjung ke Kojadoi. Jumlah kami delapan belas orang. Masing-masing tergabung dalam komunitas Seni dan Sastra KAHE, Radio Sonia FM, dan kampus STFK Ledalero. Kedatangan kami untuk melakukan beragam kegiatan sosio-kreatif sekaligus mengisi waktu liburan akhir pekan. Kegiatan ini terutama ditujukan untuk anak-anak.

Kami berangkat dari pelabuhan Geliting, Kewapante dengan menggunakan sebuah kapal feri. Tiket perjalanan per-kepala: tiga puluh ribu rupiah. Kehadiran kapal feri semacam ini memang membantu kenyamanan dan keamanan mobilitas masyarakat yang tinggal di daerah pulau-pulau. Biasanya, warga dari pulau-pulau menggunakan perahu motor yang nantinya berlabuh di perkampungan Nangahale, daerah bagian timur Maumere, pun di pelabuhan tempat penjualan ikan di pusat kota Maumere.

Sebelum berlabuh di Kojadoi, feri yang kami tumpangi harus singgah dahulu di pulau Pemana. Inilah yang membuat perjalanan kami memakan waktu cukup lama. Sekira empat setengah jam. “Apabila langsung ke Kojadoi, perjalanan hanya sekitar tiga jam saja,” tutur Andry Sola, seorang kawan yang sering membikin project foto dan video di daerah pulau-pulau.

Perkampungan Kojadoi dari kejauhan. Tampak seorang nelayan sedang beraktivitas
Perkampungan Kojadoi dari kejauhan. Tampak seorang nelayan sedang beraktivitas | © Elvan De Porres
Seorang bocah Kojadoi melakukan atraksi akrobatik di dermaga La Malino, Kojadoi
Seorang bocah Kojadoi melakukan atraksi akrobatik di dermaga La Malino, Kojadoi | © Elvan De Porres

Tiba di Kojadoi, kami langsung menuju ke rumah bapak Hanawi, sang Kepala Desa, yang telah dihubungi sebelumnya. “Bapak Desa” begitu antusias menyambut kedatangan kami. Sebuah perjumpaan awal yang langsung disuguhkan dengan beragam cerita menarik dari beliau. Tentang lika-liku perjalanan hidupnya yang berjuntrung pada gairah untuk memajukan pendidikan di Kojadoi, yang mana beliau sering “memaksa” anak-anak untuk bersekolah; tentang semangat anak-anak muda di situ, sanggar seni kreasi yang mereka bentuk; juga tentang harapan-harapan desa mereka ke depannya, semisal pengadaan listrik, puskesmas, dan infrastruktur-infrastruktur transportasi air lainnya.

Malam pertama kegiatan, kami mengadakan pemutaran film pendidikan di dekat lapangan umum. Anak-anak tampak antusias. Mereka tak hanya datang sendiri, tapi bersama dengan orang tua mereka. Hari berikutnya, kegiatan kami cukup padat namun tetap mengedepankan unsur fun-nya. Mulai dari sosialisasi human trafficking, kelas-kelas kreatif, games zone, cuci tangan dan sikat gigi massal, bagi-bagi buku, hingga malam kreasi sebagai sajian penutup agenda kunjungan. Anak-anak sangat bersemangat mengikuti setiap kegiatan.

Keberadaan karang taruna Kojadoi pun sangat membantu kelancaran setiap kegiatan tersebut. Mereka adalah kawan-kawan yang spartan, rendah hati, dan terbuka. Tentu saja, sehabis kegiatan, kami bercerita banyak hal dan saling bertukar pikiran. Kami membicarakan beberapa hal kreatif yang bisa terkolaborasikan bersama ke depannya.

Pulau Kojadoi sendiri memiliki air laut yang jernih dan alam bawah lautnya yang eksotis. Ia masuk dalam gugusan konservasi wilayah teluk Maumere. Keberadaan dua bukit batu yang berdiri menjulang masing-masing pada kedua sisi pulau memberikan panorama yang sayang untuk dilewatkan. Menariknya, di atas bukit batu tersebut masih dijumpai beberapa pepohonan dan tanaman yang tumbuh berkeliaran.

Di sela-sela kegiatan, saya dan kawan-kawan berkesempatan naik ke bukit batu itu. Dari atas bukit batu, kau dapat melihat hamparan lautan biru beserta suasana perkampungan yang syahdu. Keberadaan sebuah masjid, yang baru saja selesai dibangun, di tengah-tengah kampung memberikan pesona khas. Orang-orang pulau Kojadoi sendiri hampir semuanya beragama Islam, dan kebanyakan mereka merupakan keturunan suku Buton dari Sulawesi.

“Pemandangan dari atas bukit batu memang menyejukkan,” tutur Om Rege, salah seorang anggota karang taruna di situ. Namun, yang sebetulnya menjadi perhatian saya adalah momen matahari terbit di bibir pantainya. Memang benar, mau diperhatikan kapan dan di mana saja, matahari itu pasti tetaplah sama. Terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat. Tapi, kau tahu, setiap orang pasti selalu punya momen berbeda-beda tentangnya. Dan, inilah yang ditunggu-tunggu oleh saya sebelum kembali ke Maumere.

***

Pagi itu, hari Minggu. Hari terakhir keberadaan kami di Kojadoi. Dalam benak saya, memburu momen sunrise pada Sunday tentulah istimewa. Pukul lima pagi, saya bersama Bang Rizal, senior dalam perjalanan kami beranjak ke sebuah jembatan batu. Kami berniat menanti matahari terbit di sana. Jembatan batu itu terbuat dari campuran batu dan karang yang menghubungkan desa Kojadoi dan desa Kojagete di Pulau Besar. Keberadaan jembatan ini memang luar biasa. Ia membelah laut dan menghubungkan dua buah daratan pulau.

Dalam perjalanan menuju jembatan batu, kami merasakan suasana kampung yang damai. Tak ada bising-bising laiknya situasi perkotaan yang biasanya mulai diributkan dengan bunyi kendaraan. Yang terdengar di sini hanyalah kokok ayam, dersik ombak, dan alunan perkakas rumah tangga dari dapur ibu-ibu.

Tiba di jembatan batu, saya duduk sejenak di tepian sembari menanti mentari muncul pada hari Minggu itu. Air laut tenang terbentang luas. Saya dan Bang Rizal sempat cemas kalau momen sunrise itu tak dapat ternikmati dengan sempurna. Musababnya, langit tak begitu cerah, ditutupi awan-awan tipis. Barangkali pagi itu kami memang sedang tidak beruntung, saya berdeham dalam hati.

Namun, kami menunggu dan tetap menunggu. Hingga semburat cahaya itu ternyata mekar juga. Matahari memang belum muncul terlalu jelas. Namun, langit telah membentuk ornamen garis-garis jingga yang menyisiri gelayutan awan-gemawan.

Kami senantiasa menanti dengan sabar dan mentari akhirnya benar-benar tampak juga. Alur sinarnya membentuk sebuah garis lurus. Di kejauhan, sebuah kapal motor melintas. Lantas, dari arah berlawanan, tampak pula seorang nelayan dengan perahu kecilnya. Saya mengabadikan momen tersebut, tatkala perahu dan kapal motor berpapasan. Membelah pancaran sang surya di Minggu pagi itu. Ini adalah salah satu pengalaman terbaik menikmati sunrise yang saya dapatkan. Di sebuah pulau terpencil, tenang, dan penuh kedamaian.

Momen sunrise dari jembatan batu Kojadoi
Momen sunrise dari jembatan batu Kojadoi | © Elvan De Porres
Sebuah perahu kecil berpapasan dengan kapal motor, membelah garis lurus bias cahaya sunrise di Kojadoi
Sebuah perahu kecil berpapasan dengan kapal motor, membelah garis lurus bias cahaya sunrise di Kojadoi | © Elvan De Porres

Sembari mengalami peristiwa itu, saya dan Bang Rizal menceburkan diri di perairan dangkal samping jembatan batu. Kami tak terburu-buru pulang ke penginapan. Kami masih ingin merasakan kesegaran air laut yang jernih berbalutkan hangatnya cahaya pagi. Sehingga kami pun menghabiskan waktu di situ hingga hari benar-benar cerah. Sungguh sebuah pengalaman menakjubkan.

Namun, di atas semuanya itu, mengecap sunrise di Kojadoi sebetulnya adalah suatu bonus. Yang utama adalah soal sinar-sinar semangat di dalam diri anak-anak mereka, soal pancaran kegairahan bapak Hanawi untuk memajukan pendidikan di desanya, juga mengenai karang tarunanya yang aktif dalam menghidupkan kreativitas seni di daerah itu.

Saya percaya bahwa setiap orang selalu punya cerapan berbeda-beda akan tiap tapak perjalanan yang dilaluinya. Karena hidup sendiri adalah berwarna-berwarna. Dan, yang berwarna itulah yang membuat kita kaya dan selalu punya kesempatan untuk senantiasa memperbaharui refleksi terus-menerus. Sebagaimana penggalan lirik lagu Half The World Away yang dinyanyikan Aurora berikut;

“…And when I leave this island

I book myself into a soul asylum

I can feel the warning signs running around my mind….”

Semoga Kojadoi tetap bercahaya seperti kunjungan kami kali ini. Tetap asri, alami, dan dan penuh kehangatan. Satu lagi, kopi di rumah bapak desa, enak.

Elvan De Porres

Anggota komunitas KAHE (Sastra Nian Tana) Maumere. Buku kumpulan esainya yang telah terbit berjudul “Menggaris dari Pinggir” (2017).