Mengaji di Kedai Kopi

Tampak Depan Warkop Pejuang Subuh
Lihat Galeri
4 Foto
Tampak Depan Warkop Pejuang Subuh
Mengaji di Kedai Kopi
Tampak Depan Warkop Pejuang Subuh

© M. Wahid Afandi

Barista Warkop Pejuang Subuh
Mengaji di Kedai Kopi
Barista Warkop Pejuang Subuh

© M. Wahid Afandi

Sahabat Barbershop
Mengaji di Kedai Kopi
Sahabat Barbershop

© M. Wahid Afandi

Biji Kopi Toarco Medium Roast
Mengaji di Kedai Kopi
Biji Kopi Toarco Medium Roast

© M. Wahid Afandi

Bagi seorang pengangguran (baca: pencari kerja) seperti saya, waktu 24 jam sehari—meski kadang diselingi dengan membaca—adalah waktu yang teramat panjang. Rutinitas harian yang itu-itu saja, sering menimbulkan kebosanan dan rasa jenuh. Tak jarang saya sampai mengutuki nasib buruk sendiri dan nyinyir atas nasib orang-orang yang hidupnya lebih baik dan bisa lebih beruntung.

Keinginan saat mahasiswa untuk lulus cepat seakan terbayar dengan kerumitan sebagai pencari kerja. Hari-hari diisi dengan bangun tidur dengan berkali-kali menjenguk situs pencari kerja atau sesekali membeli koran lokal yang memuat penawaran kerja. Miris memang, tapi mau apalagi, hidup setelah lulus kuliah adalah perjuangan yang sebenar-benarnya berjuang.

Maka, saya langsung meng-iyakan ketika sebuah pesan singkat ajakan ngopi masuk ke ponsel saya di suatu sore di akhir pekan. Pesan itu dari seorang teman yang sudah cukup lama kami tak berjumpa. Selain karena saya memang sudah bosan di rumah. Saya menjemput dia di rumahnya dan tiba di warkop langganannya yang berada di kawasan Kompleks BTP Makassar, tepatnya di samping Klinik Inggit Medika.

Sampai di warung kopi itu saya hanya senyum-senyum. Saya suka melihat keunikannya dalam hal lokasi. Sebab di lahan yang sama, di bagian depan dekat lahan parkir, berdiri sebuah tempat pangkas rambut khusus pria. Tempatnya kecil. Mungkin ukurannya sekitar 1,5 x 5 meter, dengan tiga orang pekerja yang kesemuanya masih cukup muda, mengenakan celemek dan bergaya masa kini. Tempat pangkas rambut itu ditata model retro dengan perlengkapan sebagaimana tempat pangkas rambut pada umumnya. Namun demikian, di sudut mana pun, tak terlihat adanya poster model potongan rambut yang umumnya mejeng di tempat-tempat seperti itu. Kata teman saya, tempat pangkas rambut itu namanya Sahabat Barbershop. Di hari-hari tertentu, barbershop itu sering mengadakan diskon untuk promosi, bahkan kadang gratis.

Selain itu saya juga tertarik dengan nama warkopnya: “Pejuang Subuh”. Sesuai namanya, warkop itu buka dari subuh, tepat setelah salat Subuh sekitar pukul 05.00 pagi dan tutup pada 22.00. Tujuh hari dalam seminggu, di luar hari-hari besar keagamaan. Mungkin si pemilik percaya pada apa yang sering dikatakan orangtua dulu bahwa bangun siang hanya akan menghilangkan rezeki. Tapi ada yang lebih menarik dari nama warkop itu, yakni slogannya: “Pejuang Subuh, Semangat Pagi!”

Yang bikin saya terkejut dan mengacungkan jempol, warkop Pejuang Subuh tidak seperti warung kopi atau kafe lain di mana musik jazz, blues atau musik instrumental dilantunkan berulang-ulang. Di warkop ini, bacaan Alquran terdengar sempurna. Berganti-ganti antara surah satu dengan surah lainnya. Menenangkan hati.

Saya dan teman saya kemudian memesan kopi susu. Sambil menunggu pesanan, saya mengamati lebih teliti bagian dalam Pejuang Subuh sembari mendengar murottal. Meski tak mengusung tema sebagai tempat instagramable, tapi jika cukup ahli mengambilnya, beberapa sudut di Pejuang Subuh bisa berubah jadi spot foto yang bagus. Karena kami duduk dekat dengan barista yang tengah menyiapkan kopi pesanan kami, aroma biji kopi menyeruak saat proses penggilingan. Refleks. Kami hanya bersitatap. Puas.

“Sibuk apa sekarang?” Pertanyaan teman saya lalu menyadarkan.

Saya menatapnya penuh makna. Jujur, ini adalah pertanyaan yang paling tidak saya harapkan karena tentu sulit saya jawab. Bukan karena saya tidak tahu jawabannya, tapi merasa berat karena jawabannya jelas akan membuat saya malu.

“Ya begitu-begitu saja sih,” akhirnya saya menjawab. Mengambang.

“Maksudnya?”

“Ya kau tahu sendirilah gimana kondisinya,” kata saya sambil nyengir. Terpaksa.

“Sabar saja,” kata teman saya itu, menatap saya penuh rasa bersalah. “Yang penting usaha dan berdoa. Nanti juga pasti dapat. Rezeki kan sudah ada yang mengatur”.

Saya nyengir sambil mengangguk. Dalam hati saya berkata kalau sedari awal juga saya selalu berusaha dan tak lupa berdoa, tapi rezekinya belum juga turun-turun.

Pesanan kami datang lengkap dengan dua gelas air putih (mungkin dimaksudkan untuk mengusir kepekatan kopi). Entah karena belum pernah minum kopi susu dengan model ini atau cara penyajian kopi susu yang benar memang seperti ini, aku mengangguk-angguk saat melihat susu dan kopi membentuk dua layer yang terpisah―susu di bawah dan kopi di atasnya. Kelihatan amat cantik dan berseni. Belum sempat saya mengaduk kopi, teman saya pun berkata kalau sebenarnya kopi susu yang kami pesan ini terdiri ada dua menu berbeda.

“Kok bisa?” tanya saya.

“Kopi yang belum tercampur susu di layer atas itu sebenarnya Vietnam drip, karena di sini, proses penyeduhan kopinya pakai cara yang sama, dan kalau kamu mengaduk kopinya bakal jadi kopi susu,” temanku menerangkan.

Kuikuti sarannya. Meminumnya secara terpisah (Kopi Vietnam dulu, baru hasil percampurannya: kopi susu), dan memang benar.

Ketika malam semakin larut, pengunjung warkop mulai berdatangan: laki-perempuan, duduk di tempat yang masih tersisa. Sesekali lewat ponsel pintar, saya keluar-masuk ke beberapa media sosial, melihat apakah ada lowongan kerja untuk saya. Ada beberapa memang tapi lowongannya tidak sesuai kualifikasiku. Mungkin merasa kalau saya sedang banyak pikiran, teman saya berinisiatif membuka topik pembicaraan baru, mengenang masa-masa kuliah dulu dan menerka-nerka di mana keberadaan teman-teman kami sekarang yang sudah terpencar ke mana-mana.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Jam digital di ponsel saya menunjukkan pukul 9 lewat dan kami memutuskan pulang. Malam itu, teman saya mentraktir saya. Katanya, nanti giliran saya yang traktir kalau sudah dapat kerja. Saya tersenyum. Sebelum mengantar ke rumahnya, ia berjanji akan mengabari kalau perusahaan tempatnya bekerja membuka lowongan. Saya berterimakasih meski tetap masih ada yang mengganjal di dada.

M. Wahid Afandi

Pria Agustus yang sedang berjuang demi masa depan.