Mengais-ngais Sisa Memori Dalam Jajanan Sekolah

Hari ini saya mendadak sentimentil. Rasanya ingin sekali mengais-ngais sisa memori. Tentu ada bagian-bagian yang pahit, tak semua manis. Tak apa, sama seperti ketika kita makan pisang atau tape goreng. Justru lebih nikmat dengan kopi hitam daripada es sirup.

Tempatnya hanya satu kilometer dari rumah. Sebuah tempat yang penuh cerita. Tempat apakah itu? Tiga belas tahun hidupku, kalian bayangkan, dihabiskan tiap hari di sana. Dari pagi, sampai lewat tengah hari.

Ya, sebuah kumpulan bangunan berjudul sekolah. Sejak usia enam tahun saya menjejakkan kaki di sana. TK Maria Bintang Laut. Lalu beranjak SD. SMP-nya bernama beda, Waringin. SMA-nya bernama Trinitas. Padahal masih satu kompleks sekolah yang dipegang para suster ordo PI. Ah, apalah arti sebuah nama. Fana. Memori, yang abadi.

Di sekolah itu, hingga kini masih tersimpan beberapa pemicu kenangan. Tak peduli sebagian besar bangunan sudah diganti gedung baru, masih ada remah-remah memori di beberapa sudutnya. Tak sedikit dari kami yang terkadang datang kembali dan berusaha menemukannya: sosok kami yang masih lugu dan tak mau tahu masalah dunia.

Pemicu kenangan itu adalah… jajanan.

Ada banyak makanan kemasan yang menjadi jajanan kenangan yang lebih universal. Yang juga tertanam di benak bekas siswa sekolah-sekolah lain di era 90an. Tapi ada kenangan yang lebih pribadi, pada jajanan khas sekolah masing-masing.

Terutama jika penjualnya masih orang yang sama. Ada goresan lirih dalam hati, melihat mereka yang semakin ringkih. Goresannya tentu jauh lebih dalam, jika mereka mengingat kita.

Gehu, comro dan bala-bala. Pisang gorengnya sudah kehabisan. Di sebelah kanan, cakue mini dan saosnya
Gehu, comro dan bala-bala. Pisang gorengnya sudah kehabisan. Di sebelah kanan, cakue mini dan saosnya | © Fransisca Agustin

Jajanan makanan yang saya pilih hari ini ada tiga. Pertama cakue mini. Penjualnya bukan yang dulu. Mungkin anaknya, saya kurang tahu. Cakue mini lebih tipis dan lebih lunak daripada cakue asli untuk teman makan bubur kacang Hokkian. Saya suka membiarkannya lembek terendam dalam sausnya. Saus manis asam asin, berwarna oranye. Apa bahannya, apakah sudah lolos uji BPOM, tidak ada yang peduli bertanya.

Satu plastik kecil dulu harganya Rp 50. Isinya mungkin hanya 5. Uang saku saya waktu itu hanya Rp 100/ hari. Kalau hari Minggu, setelah pulang dari gereja (di kompleks yang sama), saya dapat uang saku tambahan, sehingga saya bisa beli satu plastik isi dua kali lipat. Tadi saya beli, satu plastik segini harganya Rp 2500.

Jajanan kedua, gorengan. Favorit saya di sini adalah pisang goreng, gehu, dan comro. Gehu, toGE dan taHu. Plus kol, sebetulnya. Tauge dan kol itu, kalau digoreng, melahirkan paduan aroma dan rasa yang sungguh ajaib.

Tahu untuk gehu memang lebih enak pakai jenis tahu sumedang, daripada tahu kuning yang lebih padat (dan lebih mahal). Biasa dibeli oleh tukang gorengan dalam bentuk sudah digoreng. Lalu dibelah, dijejali tauge dan kol, dicelup adonan tepung, kemudian digoreng.

Penjualnya masih sama. Gehu buatan mereka, buat saya, masih termasuk deretan gehu juara se-Bandung Raya. Comro mereka juga masih favorit saya. Saya suka tipe comro yang kering dan agak keras. Oncom yang mereka pakai juga cukup bagus, ramah di perut.

Comro, onCOM di jeRO (Sunda jero = dalam). Camilan yang terbuat dari singkong. Kalau ingin membuat comro yang garing, parutan singkong diperas habis. Sebagian orang lebih suka comro yang lebih basah, karena lebih lunak.

Hanya satu yang kurang: bentuknya semakin kecil. Harganya Rp 600 sekarang. Sama rata untuk pisang, gehu, dan comro. Dulu harganya juga 50 per buah. Dengan uang saku hanya Rp 100/ hari, saya hanya bisa memilih dua dari tiga macam gorengan kesukaan saya itu.

Ibu penjual gorengan di depan SD saya, masih orang yang sama
Ibu penjual gorengan di depan SD saya, masih orang yang sama | © Fransisca Agustin
Bapak penjual kue cubit yang semakin ringkih, tapi masih ingat saya
Bapak penjual kue cubit yang semakin ringkih, tapi masih ingat saya | © Fransisca Agustin

Jajanan ketiga yang paling membekas dalam ingatan adalah… kue cubit. Sebetulnya adonannya sama dengan kue balok, tapi lebih banyak telur dan mentega sehingga lebih gurih lagi wangi. Susu yang dipakai untuk kue balok biasanya susu bubuk. Untuk kue cubit, susu cair. Itulah mengapa teksturnya jadi lembut.

Adonan cair itu dituang dalam cetakan bulat yang khas. Kadang ia membuat yang setengah matang, dan herannya, banyak penggemarnya! Di atasnya ditabur meises warna-warni. Dia juga membuat variasi kue jala, dengan menuang adonan yang sama di atas cetakan, dalam gerakan laba-laba. Untuk variasi lain, ia menuang adonan tipis di seluruh permukaan cetakan. Jadilah wafer renyah!

Kue cubit ini, dulu harganya juga Rp 50 per buah. Saya hanya bisa beli bergantian dengan gorengan dan cakue. Kue jala dan wafernya? Tidak terbeli. Ah… sungguh kasihan. Penjual kue cubit ini masih sama. Yang paling menggores hati, ia masih ingat saya! “Ke mana aja, Neng? Udah lama nggak jajan ke sini.

Dari ketiga jenis jajanan di atas, kue cubitlah yang menempati peringkat paling atas. Gigitan pertama… langsung menghempaskan saya ke dua puluh empat tahun yang lalu. Di depan mata saya tiba-tiba muncul anak kecil, si tomboy yang gemar main kejar-kejaran dan lompat-lompatan di jam istirahat.

Si kecil yang ngiler makan kue cubit, tapi uang sakunya hanya cukup beli dua buah. Si rambut pendek dengan model tak karuan, yang sebelum tidur sering berkhayal piknik ke hutan. Menggelar alas selimut di bawah pohon rindang, dan menikmati bekal satu kotak kue cubit. Saya akan membayangkan wanginya… lembutnya di mulut… Tak lama kemudian saya akan segera terlelap sambil tersenyum (tak jarang pula meneteskan liur).

Ah, masa kecil… Ketika semuanya masih begitu sederhana…

Fransisca Agustin

Pemusik kuli yang masih terus berusaha menggabungkan antara jurus-jurus Kungfu Hustle dengan David Foster.