Menetaskan Kebahagiaan dengan Sepincuk Nasi Jagung

Formasi lengkap dari sepincuk nasi jagung dan pelengkap gudagan daun pepaya, gereh pethek goreng, sambal terasi yang mantap dan siap disantap.
Formasi lengkap dari sepincuk nasi jagung dan pelengkap gudagan daun pepaya, gereh pethek goreng, sambal terasi yang mantap dan siap disantap. | © Esty Cahyaningsih

Suasana weekend membuat hasrat memasak saya semakin membuncah. Di pagi yang cerah ini saya putuskan menuju sebuah tempat yang riuh dengan penjual dan pembeli. Membuat daftar belanja adalah hal yang saya lakukan setiap akhir pekan.

Berwisata ke pasar tradisional menjadi salah satu alternatif untuk membahagiakan hati. Menjalani rutinitas sebagai seorang relawan pendidikan agaknya membuat saya butuh banyak pencerahan untuk mengobati sedikit kejenuhan.

Pagi ini sampailah saya di sebuah pasar tradisional yang berada tak jauh dari tempat saya bertugas.

Satu persatu saya menyusuri kios–kios yang menjual barang yang sudah ada dalam list belanja.

Saya mulai mencari wortel, kubis dan buncis. Lalu melangkah pada penjual bumbu–bumbu dapur seperti jahe, kunyit, pala, dan lada. Sampai berakhir pada penjual daging, udang, dan tempe.

Rencananya, pagi ini saya akan membuat capcay seafood dengan lumuran saus tiram. Kelezatan dari sepiring capcay seafood sudah terbayang dari lusa.

Setelah melengkapi semua daftar belanja saya putuskan untuk segera memasak dan menikmati sepiring capcay seafood yang akan segera tersaji di meja makan.

Sebelum saya meninggalkan pasar, tiba–tiba langkah ini terhenti pada kerumunan ibu–ibu dan para simbah di sudut pintu keluar.

Merasa penasaran, saya menengok ke sebelah dan ikut berjejalan dengan para ibu dan simbah yang semakin berebut meminta antrian. Selang waktu kemudian, akhirnya saya tahu, mereka sedang mengantri untuk sepincuk nasi jagung dari seorang pedagang yang dengan telaten melayani pembeli.

Saya yang sedari tadi berdiri akhirnya ikut mengantri. Beberapa orang silih berganti menempati posisi–posisi melingkar mengelilingi sang bakul.

Saya memilih untuk mengalah sebab tertarik melihat kebahagiaan para ibu yang sudah mendapatkan nasi jagung pesanannya. Terlihat senyum sumringah terpancar dari mereka. Hingga tinggal beberapa orang yang mengantri tibalah giliran saya.

“Bungkus tiga, Mbah”.

Mbah Sarkidah, demikian nama simbah penjual nasi jagung itu. Perempuan paruh baya asli Sukolilo, Pati, Jawa Tengah.

Sudah sejak pagi Mbah Sarkidah berjualan di pasar ini. Katanya, pagi ini ia berangkat sejak sebelum subuh dengan tergesa-gesa. Dari rumahnya, ia berangkat dengan menumpang sebuah truk colt brondol  yang biasa membawanya bersama para penumpang yang datang dari desanya.

Mbah Sarkidah sedang membungkus Bunthil untuk pembeli
Mbah Sarkidah sedang membungkus Bunthil untuk pembeli. | © Esty Cahyaningsih

Menjadi hal yang biasa berdesakan dengan penjual tape, penjual kelapa, penjual pisang dan pedagang lain yang ingin menjajakan hasil kebunnya keluar kota seperti Kudus dan Jepara.

Mbah Sarkidah begitu cekatan menakar gumukan nasi jagung dalam bakulnya. Menambahkan beberapa lauk dan sambal sebagai pelengkapnya.

Konon, nasi jagung sudah lama dikenal masyarakat, bahkan sebelum kemerdekaan. Menjadi sebuah prestige yang tinggi bagi seseorang yang menyantapnya. Bukan tanpa alasan. Sebab, para penjajah selalu merampas padi dan hasil pertanian lain milik masyarakat.

Jika beruntung, pribumi bisa menikmati nasi jagung.  Di masa penjajahan, masyarakat kita hanya diperbolehkan makan ketela, itu pun ketela yang ditumbuk lalu dikeringkan atau biasa disebut gaplek.

Nasi jagung yang kabarnya berasal dari Jawa ini begitu digemari dan menjadi primadona.

“Pengolahan nasi jagung ini tak sesulit jaman aku kecil dulu,” kata mbah Sarkidah.

Jagung yang digunakan adalah jagung yang tua dan keras. Pertama jagung dijemur hingga kering lalu dipisahkan antara biji dengan batang buahnya. Kemudian dimasukkan ke dalam mesin penggiling.

“Dulu simbok yang biasa menumbuk jagung ini, kalau sekarang aku bisa membawanya kepenggilingan.” Mbah sarkidah menerangkan.

Dari mesin penggilingan menghasilkan butiran–butiran halus seperti pasir berwarna putih. Langkah terakhir adalah menanaknya hingga menciptakan tekstur yang lembut di mulut.

Nasi jagung ini biasa dinikmati dengan tambahan lauk gudangan daun papaya, sepotong gereh petek goreng dan sedikit sambal terasi. Sungguh perpaduan yang mutlak membuat perut semakin keroncongan. Nasi jagung ini cocok dinikmati saat sarapan.

Jika ingin menambah lauk, bisa dengan memambahkan gulungan daun papaya yang membentuk bulat penuh. Daun papaya yang sejatinnya getir ini menjadi lauk yang sama sekali tak pahit di tangan mbah Sarkidah. Sensasi gurih dan kelezatan daun papaya ini semakin terasa ketika kita menggigit bagian tengahnya. Akan tercipta sensasi yang nikmat saat merasakan biji petai cina dan potongan dadu tempe wayu di dalamnya.

Niku nopo, Mbah?”

Ini bunthil,” jawab mbah Sarkidah saat aku menanyakan nama bulatan–bulatan hijau kecil dalam baskomnya.

Nasi jagung terasa semakin sedap sebab dibungkus dengan daun pohon jati.

Dan lihatlah cara mbah Sarkidah memakai daun jati. Entah kenapa beliau lebih memilih memakasi sisi bagian dalamnya yang kasar untuk membungkus daripada memakai sisi luarnya yang halus dan bersih. Bisa jadi inilah yang menjadikannya khas.

Tak perlu memakai sendok untuk menyantap nasi jagung dengan daun jati ini. Cukup dengan memakai lima jari tangan akan semakin menambah kelezatannya. Di samping itu kita bisa bernostalgia dengan momen kehidupan nenek moyang yang begitu menyederhankan kehidupan.

Tidak njimet, tidak ruwet.

Kini, di zaman yang semakin kekinian ini, kepamoran nasi jagung telah terkalahkan dengan nasi padi yang biasa kita makan sehari–hari. Masyarakat lebih memilih menikmati padi daripada jagung.

Di Kudus, daerah tempat saya bertugas, kini sudah tak ada lagi para pembuat nasi jagung. Para penjual yang biasa menjajakan nasi jagung biasanya berasal dari daerah Pati dan Purwodadi. Jadi tak heran jika kini nasi jagung semakin langka.

Untuk panjenengan mbah Sarkidah, terima kasih. Sebab atas pertemuan pertama kita, saya bisa merasakan kebahagiaan simbah kakung dan simbah putri saya saat menjalani masa–masa indahnya.

Merasakan langsung kelezatan nasi jagung yang dulu hanya saya kenal namanya—dari guru IPS waktu SD—adalah suatu kebahagiaan.

Bila ingin menikmati nasi jagung di sekitaran kota Kudus, mbah Sarkidah bisa kita temukan di pasar Doro, Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Kamu bisa datang lebih awal jika tidak ingin kehabisan. Mbah Sarkidah mulai mangkal dari pukul 07.00 – 10.00 saja.

Untuk harga, kamu tak perlu kaget sampai bikin njumbul. Sepincuk nasi jagung nan mantap ini hanya Rp 1000 saja. Harga yang kurang pas untuk membayar perjuangan pembuatan nasi jagung dan perjalanannya sampai ke mulut.

Mbah Sarkidah hanya berjualan saat akhir pekan di hari Sabtu dan Minggu. Beliau hanya mampu bergantung pada angkutan yang membawanya ke kota. Itulah sebabnya bakulnya selalu ramai diserbu pembeli.

Esty Cahyaningsih

Relawan pendidikan berlabel ikhlas beramal. Hobi memasak, bercita–cita menjadi istri yang professional