Mendayu Rindu di Festival Kesenian Yogyakarta

Festival Kesenian Yogyakarta 2016
Lihat Galeri
11 Foto
Festival Kesenian Yogyakarta 2016
Mendayu Rindu di Festival Kesenian Yogyakarta
Festival Kesenian Yogyakarta 2016

© Eko Susanto

Festival Kesenian Yogyakarta 2016
Mendayu Rindu di Festival Kesenian Yogyakarta
Festival Kesenian Yogyakarta 2016

© Eko Susanto

Festival Kesenian Yogyakarta 2016
Mendayu Rindu di Festival Kesenian Yogyakarta
Festival Kesenian Yogyakarta 2016

© Eko Susanto

Festival Kesenian Yogyakarta 2016
Mendayu Rindu di Festival Kesenian Yogyakarta
Festival Kesenian Yogyakarta 2016

© Eko Susanto

Festival Kesenian Yogyakarta 2016
Mendayu Rindu di Festival Kesenian Yogyakarta
Festival Kesenian Yogyakarta 2016

© Eko Susanto

Festival Kesenian Yogyakarta 2016
Mendayu Rindu di Festival Kesenian Yogyakarta
Festival Kesenian Yogyakarta 2016

© Eko Susanto

Festival Kesenian Yogyakarta 2016
Mendayu Rindu di Festival Kesenian Yogyakarta
Festival Kesenian Yogyakarta 2016

© Eko Susanto

Festival Kesenian Yogyakarta 2016
Mendayu Rindu di Festival Kesenian Yogyakarta
Festival Kesenian Yogyakarta 2016

© Eko Susanto

Festival Kesenian Yogyakarta 2016
Mendayu Rindu di Festival Kesenian Yogyakarta
Festival Kesenian Yogyakarta 2016

© Eko Susanto

Festival Kesenian Yogyakarta 2016
Mendayu Rindu di Festival Kesenian Yogyakarta
Festival Kesenian Yogyakarta 2016

© Eko Susanto

Festival Kesenian Yogyakarta 2016
Mendayu Rindu di Festival Kesenian Yogyakarta
Festival Kesenian Yogyakarta 2016

© Eko Susanto

Sore hari pada tanggal 28 Agustus, saya iseng kembali ke Taman Kuliner Yogyakarta. Saya kata kembali karena sebelumnya sudah pernah ke sana sewaktu pembukaan FKY ke 28. Bukan, bukan mencari tempat sepi agar bisa “ena-ena”-an. Meskipun pada kedua kesempatan tersebut memang berkunjung bersama wanita yang berbeda. Pertama, bareng pacar dan kedua kali bersama bibi (bisa dipegat saya nanti kalau tidak menjelaskan dengan rinci).

Alasan berkunjung ke FKY cukup sederhana; ingin mendapatkan momen spesial dalam sebuah festival seni yang syahdu. Macak sebagai pemuda Jogja yang berkebudayaan adi luhung walau diterpa godaan modernitas untuk nongkrong di mall-mall beken.

Festival Kesenian Yogyakarta atau FKY, seingat saya sudah dua kali diadakan di Taman Kuliner. Yaitu pada perayaan ke 27 dan 28. Dua kali sebelumnya mengambil tempat di Pasar Ngasem, setelah sebelumnya lagi diadakan di Benteng Vredeburg. Lupa persisnya karena memang FKY dalam memori tidak meninggalkan banyak kenangan. Saya hanya mengingat FKY sebagai sebuah acara tahunan untuk jalan-jalan. Atau minimal alasan untuk ngajak kencan gebetan.

Teknik saya dalam gebet-menggebet adalah memanfaatkan momentum. Sasarannya ialah tempat-tempat yang menyediakan ke-riang-an murah dan terjangkau. Berkunjung ke FKY tentu lebih murah kalau dibandingkan harga tiket bioskop dengan sekotak popcorn dan rembetan-rembetan setelahnya, macam dinner di Quali Jogja City Mall misalnya. Maka pilihan destinasi kencan untuk jadwal nggebet di bulan Juni, Juli, atau Agustus jatuh ke FKY.

Pengunjung macam saya, mengharapkan FKY bisa membawa keceriaan dan mampu mendorong otak agar memproduksi dopamin serta serotinin dengan lebih rajin. Dopamin dan serotinin adalah enzim yang membuat kita bahagia. Asal ada dua enzim tersebut, senyum serta tercantol-nya hati gebetan ke pelukanmu bisa terjamin.

Agar otak bisa memproduksi dopamin serta serotinin, kita wajib mengontrol stimulus. Dimulai dengan perjalanan menjemput. Semprotkan parfum favorit ke leher agar baunya bisa membius gebetan selama perjalanan. Kalau baunya cocok, air muka si gebetan akan tampak riang gembira. Bila tidak cocok, minimal sudah mendapat nilai positif karena berusaha tampil ganteng.

Sesampainya di Taman Kuliner, kita menghadapi kesulitan berikutnya yaitu tempat parkir. Saat mencari tempat parkir, para pemuda dan bapak-bapak berdiri serta berteriak di pinggir jalan. “Mas, parkir Mas. Kene ,Mas, ngarep kebak.” Depan jalan memang penuh, tapi penuh kendaraan lalu lalang sementara tempat parkir yang di dekat pintu gerbang masih kosong beberapa. Makin jauh dari pintu gerbang venue, makin kencang teriakan mas-mas tadi.

Pikiran saya langsung tertuju pada satu hal. Persaingan bisnis memang berat, apalagi perkara parkir. Bermodalkan lahan dan waktu selo seharian, uang datang nyaris tanpa henti. Pertanyaan yang perlu diklarifikasi adalah; apakah parkir FKY dikelola secara terkoordinir satu sama lain? Soalnya kita tidak melihat para penjaga parkir memegang HT sebagai alat komunikasi ke sesama mereka. Jadi maklumlah kalau pengunjung amatir macam saya berkesimpulan mereka saling bersaing.

Lepas dari jerat parkir, kini saatnya berjalan menuju pintu gerbang Taman Kuliner. Masuk dan keluar venue memang menggunakan pintu gerbang tersebut. Ada bambu yang dipasang memanjang sebagai pembatas antara jalan masuk dan keluar. Dalam dua kesempatan kunjungan, pengunjung datang berduyun-duyun meskipun tidak sampai jejal.

Sial dalam kunjungan kedua, depan saya ada gerombolan berisi lima orang embagh-embagh. Saya katakan sial bukan karena kecantikannya, tetapi polah mereka yang berjalan bergandengan dan berjejer sehingga memblok jalan. Mereka berjalan sambil bercerita dengan suara agak keras seolah larut dalam dunianya sendiri. Saat satu orang di ujung berfoto selfie, sahabatnya di ujung lain berhenti. Mungkin ini yang disebut kesetiakawanan lewat perilaku seni mengabadikan momen.

Berjalan ke pintu masuk venue, ada seorang panitia yang menunggui tempat itu. Dengan ramah ia mengingatkan ke pengunjung untuk menaruh tas bawaan di depan badan. Alasannya jelas sebagai bentuk pengamanan dari copet atau hal-hal tidak diinginkan lainnya. Bentuk perhatian dari panitia ini memang kecil, tetapi lumayan vital sebagai sapaan bersahabat dari penyelenggara acara. Lebih mesra panitia FKY daripada gebetanmu yang tidak pernah mengucapkan “selamat tidur”.

Blok pertama yang kita jumpai adalah kompleks pertokoan taman kuliner. Kompleks toko yang pada hari-hari biasa tampak sepi, kini begitu hidup karena ada yang berjualan di sana. Pemuda-pemudi dengan ekspresi seni berupa tato, mengepulkan asap sambil ketawa-ketiwi. Tak sengaja mencuri dengar mereka bertukar pikiran untuk mengembangkan sebuah projek kreatif. Jelas sekali kalau tato belum tentu dekat dengan kriminalitas, justru malah bisa melekat ke orang-orang kreatif yang mandiri.

Perjalanan berlanjut dengan deretan stand. Pernak-pernik unik, antik, buku, dan kerajinan ada di sini. Antara satu stand dengan lainnya berbeda dan tidak ada yang sama. Tetapi entah kenapa bagi saya, cukuplah melihat dalam sekali melalang.

Penyebabnya mungkin karena tata pencahayaan yang mirip dengan studio foto untuk produk jualan instagram. Ketika melihat produk yang dijual di instagram, saya merasa produk tersebut mirip dengan jualan etalase di mall. Gambar yang mencolok besar lengkap dengan sedikit keterangan ketika cocok dibeli, sedangkan bila tidak lalu ditinggalkan. Bedanya kalau di mall, kebanyakan yang bikin tidak cocok adalah soal harganya.

Ada seorang teman yang ikutan buka stand tahun ini, sebut saja produknya Mak*n L*ving. Sewaktu ngobrol, harapan terbesarnya adalah trafik pengunjung yang padat sehingga kemungkinan lakunya produk semakin besar. Ya maklum, tujuan orang buka stand di festival memang untuk berjualan.

Lanjut ke area berikutnya adalah lapangan luas yang dihuni oleh stand makanan. Banyak jajanan unik di sini, mulai dari yang tradisional sampai serapan merek luar. Ada tahu bulat, burger jawa, angkringan, rujak manis, dan semacamnya. Kesialan kedua berikutnya yang terjadi adalah; hujan deras sewaktu saya sedang jajan angkringan! Otomatis area acara tanpa paving berubah menjadi kubangan lumpur.

Selain stand, ada juga panggung-panggun kecil yang tersebar. Sepertinya saat saya berkeliling, nasib baik tidak menemani. Panggung-panggung tersebut kosong tanpa ada pertunjukan apapun. Malah dimanfaatkan sebagai tempat selfie para remaja-remaji.

FKY ke 28 digarap dengan serius, tampak dari pengaturan area yang memudahkan perjalanan pengunjung. Namun selama perjalanan memutar, saya tidak mendapatkan cerita khusus dari FKY selain stand yang berjejer. Saya berkeinginan agar selalu ada identitas emosi tersendiri yang dapat dikenali dengan khusus dari setiap diadakannya FKY.

Cerita di atas terjatuh pada alur perjalanan, bukan pada objek-objek amatan yang dijumpai. Mungkin bila panggung-panggung terus diramaikan oleh acara yang seru, emosi pengunjung akan tergerak sehingga ada sesuatu yang spesial dapat diingat. Saya sebagai orang yang memanfaatkan FKY sebagai sarana mbribik tentulah sangat mengharapkannya. Misalnya, Festival Kesenian Yogyakarta sebagai tempat untuk mendayu rindu. Syahdu!

Maju terus kawan-kawan FKY dan Jogjaku!

Fajar Nurmanto

Tinggal di Jogja. Dapat kamu temui untuk berbincang, kapanpun di @yojarto atau fajar.nurmanto@gmail.com.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405