Mencicipi Pempek Kapal Selam di 26 Ilir Palembang

Papan Selamat Datang di 26 Ilir
Papan Selamat Datang di 26 Ilir | © Awid Adi Cahyadi

Jalanan Jakabaring Sport Center penuh sesak dengan hingar bingar atlet dari beberapa daerah di Indonesia dan kendaraan yang lalu lalang mengantarkan mereka. Kala itu, saya sedang mengikuti Pekan Olahraga dan Seni Budaya Nasional Mahasiswa Universitas PGRI se-Indonesia atau lebih disingkat PORSENASMA III di Palembang. Saya ditunjuk oleh pihak kampus untuk mengikuti PORSENASMA III di Palembang di cabang olahraga Bulutangkis. Hal inilah yang membuat saya mengkhayal pempek, Jembatan Ampera, tim sepakbola Sriwijaya FC, dan Jakabaring Sport Center. Maklum pengetahuan saya tentang kota Palembang sangatlah cetek.

Kami berangkat pada 24 April 2017 pagi dan sampai di Palembang pada malamnya. Rombongan menginap di Wisma Atlet Jakabaring Sport Center. Baru empat hari setelahnya, saya baru bisa menikmati kota Palembang. Memang jauh-jauh hari setelah kedatangan rombongan Universitas PGRI Ronggolawe Tuban di Jakabaring Sport Center, kami atlet dan official akan keliling kota Palembang setelah usai lomba.

Kami atlet bersepuluh dan satu pendamping memutuskan untuk menikmati Jembatan Ampera di malam hari. Sebelum kami berangkat, pendamping kami, Hesti, menyampaikan banyak hal tentang kuliner yang ada di sepanjang Jembatan Ampera. Hesti begitu bersemangat menjelaskan jajanan dan makanan di sepanjang Jembatan Ampera. Sampai, saya lupa nama-namanya. Yang saya ingat hanya Pempek dan Mie Celor.

Sesampainya, kami di Jembatan Ampera. Kami tak lupa menyalakan kamera demi mengabadikan momen langka ini. Hampir setengah jam kami berfoto. Perut kami mulai keroncongan. Saya tak sungkan untuk menanyakan pempek Palembang yang enak di sekitaran Jembatan Ampera. “Kalau mau pempek kita harus jalan sekitar 500 meter dari sini. Tempatnya di 26 Ilir” kata Hesti.

Pempek Nyayu 26
Pempek Nyayu 26 | © Awid Adi Cahyadi

Tanpa lama, kami bergegas menuju 26 Ilir dengan jalan kaki. Sepanjang perjalanan, saya tak henti-henti mengajak ngobrol Hesti tentang Palembang. Ia menyampaikan banyak hal tentang Palembang. Khususnya dalam hal kuliner. Setelah kami berjalan setengah jam, kami pun sampai di 26 Ilir. Oh, rupanya 26 Ilir adalah sebuah tempat yang dikhususkan untuk penjual pempek, aneka makanan, dan oleh-oleh khas Palembang.

26 Ilir ada di Jalan Mujahidin Palembang. Sepanjang mata memandang hanya ada pempek, dan pempek. Hesti pun menggiring kami ke Pempek Nyanyu 26. Saya sendiri juga tidak tahu kenapa ia mengajak ke Pempek Nyanyu 26, padahal masih banyak penjual Pempek yang lain. Okelah saya tidak akan mempermasalahkan itu. Sebab perut saya sudah keroncongan. Butuh asupan Pempek. Eh, maksud saya asupan makanan. Hahaha…

Sebelum kami masuk ke Nyayu 26, di depan kami sudah disuguhkan pemandangan aneka pempek dalam etalase besar. Mulai dari pempek kering, pempek kulit, pempek rebus, dan tak ketinggalan pempek kapal selam.

Sebelum kami masuk ke Nyayu 26, kami berbincang-bincang sedikit dengan pemiliknya. Kami menanyakan apakah kami bisa memesan pempek dan di bawah pulang ke Jawa untuk oleh-oleh. Rupanya pemiliknya dengan ramah menjawab pertanyaan kami.

Aneka Pempek
Aneka Pempek | © Awid Adi Cahyadi

Setelah urusan pemesanan pempek selesai, kami pun langsung memesan pempek campur untuk dinikmati di Nyayu 26 pada malam itu. Tak lama pesanan Pempek campur datang. Tanpa lama Pempek diserbu oleh kawan-kawan saya. Ada yang lucu dari kejadian itu, ada beberapa kawan yang masih tak tahu cara memakan “pempek dengan benar”. Hesti, selaku pendamping kami di PORSENASMA III di Palembang langsung memberikan contoh cara makan pempek dengan benar “Pertama pempek dicocol ke cuko, setelah itu digigit dan cukonya di minum sedikit.” Kata Hesti.

Saya yang sudah tahu cara memakan pempek hanya bisa memandang kawan-kawan dengan tersenyum. Setelah saya mencoba Pempek Campur, rupanya di meja ada sejenis pempek yang dibungkus dengan daun pisang. “Ini namanya Otak-Otak. Ya, sama pempek juga, tapi dibungkus dengan daun pisang dan dibakar.” Kata Hesti kepada saya.

Tanpa lama, saya ambil Otak-Otak di depan saya. Setelah saya buka bungkusnya lalu saya cocol ke cuko lalu saya gigit, setelahnya saya minum sedikit cuko. Duh, nikmatnya malam itu.

Oh, ya Pempek Nyayu 26 menggunakan ikan gabus. Pempek Palembang terkenal dengan campuran ikan gabus dan ikan tengiri. Konon, ikan Gabus yang sudah digiling halus di Palembang sangat mahal perkilonya bisa nembus harga Rp130.000, maka dari itu banyak pecinta pempek yang mencari pempek yang berbahan dasar ikan gabus.

Pempek Campur
Pempek Campur | © Awid Adi Cahyadi
Pempek Kapal Selam
Pempek Kapal Selam | © Awid Adi Cahyadi

Hesti kembali menawari saya Pempek Kapal Selam. “Gak mau nyoba Pempek Kapal Selam, mumpung masih disini?” Katanya.

“Pempek Kapal Selam?” Jawab saya dengan wajah penasaran

“Emangnya apa perbedaan Pempek biasa dengan Pempek Kapal Selam.” Tanya saya ke Hesti.

“Sama-sama Pempek, cuma yang Pempek Kapal Selam lebih besar dan ada isi telurnya.”

Tanpa basa-basi saya langsung pesan Pempek Kapal Selam, dan rupaya hanya saya yang pesan Pempek Kapal Selam dari rombongan. Ada yang berbeda di gigitan pertama saat mencicipi Pempek Kapal Selam. Gurih karena ada campuran telur. Renyah karena ada taburan koya di sekitar Pempek.

Aslinya tidak ada yang membedakan antara pempek biasa dengan Pempek Kapal Selam. Hanya ukuran saja yang membedakannya. Tetapi, Pempek Kapal Selam ada isi telurnya. Dan jika kita memesan Pempek Kapal Selam, maka akan disajikan dengan irisan timun dan siraman koya, bagi saya itu menambah nilai plus dalam menyantap pempek.

Malam itu kami benar-benar dimanjakan oleh aneka Pempek. Tak ada alasan untuk tidak kembali ke Palembang.

Awid Adi Cahyadi

Anak terakhir dari 8 bersaudara yang pernah ngatlet bulutangkis waktu mahasiswa.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com