Mencicipi Espreso di Vienna Coffee + Gallery

Vienna Coffe Gallery Nampak Dari Depan
Vienna Coffe Gallery Nampak Dari Depan | © Awid Adi Cahyadi

Paciran-Lamongan. Kampung halaman masih menjadi tempat kembali yang dirindukan oleh orang-orang yang merantau ke daerah lain. Belajar, bekerja atau lainnya. Sebab tanah kelahiran akan menjadi hal yang paling dirindukan saat raga menjajaki tanah orang lain.

Waktu liburan pasti akan dimanfaatkan oleh orang untuk kembali ke kampung halaman meskipun 1 atau 2 hari. Dan itu yang terjadi dengan kawan saya. Dua orang kawan yang sedang menembuh pendidikan di Kota Malang rupanya sedang pulang. Lantas, ia mengabari melalui grup whatsapp untuk ngopi dan sekadar ngumpul bersama. Setelah kita berdebat sana-sini menentukan tempat yang asyik untuk ngumpul, rupanya Vienna Coffee + Gallery menjadi pilihan mereka. Tentu saja, saya langsung mengiyakan kemauan mereka. Sebab kafe ini tergolong kafe baru, dan belum lama buka di daerah tempat tinggal saya.

Vienna Coffee + Gallery yang terletak di Jalan Deandles Tunggul Paciran Lamongan berhadapan dengan Nyoklat Café. Dulu, saya juga pernah nulis waktu ngopi di Nyoklat Café.

Setelah memarkir motor, lantas saya masuk kafe. Tempatnya luas. Kita bisa memilih tempat duduk, mau di dalam, di depan, di samping atau di belakang kafe. Semuanya asyik, dan itu pilihan kalian masing-masing.

Memasuki Vienna Coffee + Gallery saya langsung tertarik dengan interior kafe. Kafe ini hadir dengan konsep yang berbeda. Modern serta elegan dengan nuansa kafe keren. Terlihat dari luar, Vienna sudah membuat saya penasaran. Dulu, sebelum dijadikan Vienna Coffe + Gallery, tempat ini adalah bekas rumah makan nasi Padang.

Namun, betapa kaget karena salah satu barista rupanya adalah teman sekolah. Saya hanya melihat ia dari tempat duduk dan tidak akan mengganggunya, karena saya lihat ia sedang sibuk meracik kopi atau pesanan minuman para pelanggan.

Saya dan keempat kawan saya sepakat memilih tempat duduk di dalam sembari menikmati interior kafe. Tak butuh waktu lama, seorang pelayan kafe menghampiri kami untuk menawarkan menu. Saya memesan kopi espreso dengan harga Rp. 8.000. Selain espreso, di Vienna Coffee + Gallery masih ada pilihan kopi macchiato, cappucino, latte, americano, mochaccino, aneka minuman, aneka jus, dan aneka kudapan.

Nuansa kafe yang didesain keren seperti ini membuat saya terperanga dan takjub. Ini kafe pertama yang saya kunjungi dengan konsep seperti ini apalagi di daerah yang masih setengah jam dari pusat kota Lamongan.

Dua Barista
Dua Barista | © Awid Adi Cahyadi
Secangkir Espreso
Secangkir Espreso | © Awid Adi Cahyadi

Tak butuh waktu lama pesanan saya pun datang. Sontak saya kaget dengan pesanan saya, segelas espreso dengan gelas kecil. Saya mencoba menenangkan diri. Sembari melihat pesanan saya yang ada di meja, dan saya masih tidak percaya dengan pesanan saya barusan. Maklum ini pengalaman pertama untuk mencicipi kopi espreso. Apalagi dengan ukuran gelas yang kecil. Soalnya saya terbiasa minum kopi di rumah. Ok tidak masalah.

Segelas espreso dengan dua saset gula. Pikir saya, kenapa harus dengan dua saset gula? Pahit, kata teman ku. Saya pun mencoba mencicipi dengan sendok yang disediakan. Benar. Rupanya sangat pahit. Ini kopi atau kenyataan hidup. Hahahaha

Berada di kafe, memesan kopi dan minuman itu tidak cukup. Tanpa kudapan obrolan kami rasanya kurang lengkap. Kami mencoba memanggil pelayan kafe, kami pun memesan banana chips dan jamur krispi.

Setelah kawan memesan kudapan, saya langsung fokus ke espreso yang ada di hadapan saya. Saya menuangkan dua saset sekaligus dan mengaduknya. Dan benar, pahit itu berkurang. Tapi masih ada pahit-pahitnya. Sembari saya menyeruput sedikit demi sedikit espreso, saya kembali menikmati nuansa kafe yang keren ini. Tidak hanya menikmati suasana kafe, tapi saya mencoba mengamati tingkah laku anak abg yang sibuk selfi. Saya hanya tersenyum kecut.

Saya langsung berfikir untuk kembali ke kafe ini dan memesan kopi-kopi lainnya.

Sampai bertemu di Vienna Coffee + Gallery kawan.

Awid Adi Cahyadi

Anak terakhir dari 8 bersaudara yang pernah ngatlet bulutangkis waktu mahasiswa.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405