Mencicip Garang Asem Mbah Rono

RM. Mbah Rono
RM. Mbah Rono | © Fawaz

“Makan siangnya sedikit aja, Nduk.” Ujar saya kepada istri.

“Kenapa memang, Mas? Takut gendut, ya? Hehehehehe.”

“Ya bukanlah. Nanti kita mampir makan garang asem sebelum masuk Solo.”

Siang itu saya dan istri berencana menempuh perjalanan Yogya-Solo menggunakan sepeda motor, memenuhi undangan pesta pernikahan teman istri saya semasa ia duduk di sekolah dasar. Tak elok rasanya jika perjalanan Yogya-Solo hanya disikapi dengan datar, berangkat, memenuhi undangan pesta pernikahan setibanya di Solo, kemudian kembali lagi ke Yogya. Akhirnya terbersit ide untuk mengajak istri mencicip garang asem di Rumah Makan Mbah Rono, di daerah Pakis, Delanggu, Jawa Tengah.

Terletak di tepi jalan raya Solo-Yogya, tepat di pertigaan yang mempertemukan jalan raya Solo-Yogya dengan jalan raya Pakis-Daleman, rumah makan Mbah Rono menawarkan garang asem sebagai menu utama. Selain garang asem, bermacam menu berbahan dasar ayam kampung dan ayam negeri juga tersedia.

Tentu saja banyak dari kita yang percaya dan termakan stereotip bahwasanya citarasa masakan Yogya, Solo dan sekitarnya itu didominasi rasa manis. Dulu, saya pun bagian dari itu. Hingga akhirnya saya menetap di Yogya sejak kuliah, kepercayaan akan citarasa masakan Yogya dan sekitarnya yang didominasi rasa manis harus saya buang jauh-jauh. Seperti citarasa masakan Indonesia yang beragam dengan bumbu yang melimpah, pun begitu dengan masakan di Yogya, Solo dan sekitarnya.

Mulai dari Yogya, Wonosari, Bantul, Sleman, Kulon Progo, Solo, Karanganyar, Wonogiri dan wilayah-wilayah lainnya, ragam rasa tersaji, tak melulu manis yang mendominasi. Salah satu citarasa menarik yang memanjakan lidah, yang tentu saja tidak manis, adalah garang asem.

Selain di Yogya dan Solo, garang asem bisa ditemui di daerah-daerah lain di Jawa Tengah. Garang asem adalah makanan berbahan dasar ayam kampung dengan belimbing wuluh, tomat dan cabai menjadi bumbu utama yang mengendalikan rasa asam dan pedas pada masakan ini. Selain itu ada santan, bawang merah dan putih, daun jeruk, daun salam, gula, garam dan kemiri yang bahu membahu membangun citarasa khas garang asem.

Perasan jeruk nipis dan taburan merica biasa juga ditambahkan untuk memperkuat citarasa asam dan pedas pada masakan. Selanjutnya, kesemuanya itu diwadahi daun pisang untuk kemudian dikukus hingga benar-benar matang. Lalu garang asam siap dihidangkan, disantap dengan nasi panas, atau bisa juga dimakan begitu saja.

Yogya dihantam panas yang menggila saat saya dan istri berangkat menuju Solo. Truk dan debu serta jalan berlubang di sana-sini menghambat perjalanan. Memasuki Klaten, ban sepeda motor kempis. Tak ada paku atau benda tajam lain yang tertinggal. Menurut tukang tambal ban, ban sepeda motor memuai karena kepanasan di sepanjang perjalanan, “Untung cuma bocor dan mengempis, Mas, tidak meledak.”

Saat perjalanan dilanjutkan, sesaat sebelum tiba di rumah makan Mbah Rono, seorang polisi bersepeda motor menghentikan laju sepeda motor yang saya dan istri tumpangi. Ia meminta surat-surat berkendaraan, mengajak saya ke pos polisi tak jauh dari tempat saya diberhentikan, dan, saya ditilang. Ia bilang saya menerobos lampu merah, padahal saat saya lalui, lampu masih berwarna kuning. Sumpah!

Kurang dari lima menit usai ditilang, kami tiba di rumah makan Mbah Rono. Kami langsung memesan 2 porsi garang asem serta 2 gelas es teh manis. Saya memesan sepiring nasi untuk teman menyantap garang asem sedangkan istri saya tidak.

Garang Asem Siap Santap
Garang Asem Siap Santap | © Fawaz
Sesaat Setelah Bungkus Daun Pisang Dibuka
Sesaat Setelah Bungkus Daun Pisang Dibuka | © Fawaz

Rumah makan dalam keadaan sepi, hanya dua orang pengunjung selain kami yang terlihat asyik menyantap garang asem. Maklum, hari sudah sore, bukan waktu yang biasa digunakan untuk makan berat. Hanya sebentar saja selepas memesan makanan, garang asam, es teh manis dan nasi yang kami pesan sudah terhidang di meja. Aroma daun pisang lembut menguar menerpa hidung. Saya bergegas membuka garang asem yang terbungkus daun pisang, seketika aroma khas garang asem menyerbu hidung.

Irisan cabai dari dua jenis cabai yang berbeda, potongan tomat, dua helai daun salam dan sehelai daun jeruk tergenang dalam kuah santan bersama beberapa potong ayam. Berbagai jenis bumbu lainnya sudah larut dalam kuah juga meresap pada potongan-potongan daging ayam.

Saya mengambil sepotong daging, memisahkannya dari tulang kemudian lekas mengunyah, daging lembut dengan rasa pedas dan asam yang berpadu menubruk lidah dan dinding-dinding di rongga mulut. Dengan menggunakan sendok saya memindahkan potongan tomat ke mulut kemudian menghirup kuah garang asem sekali, dua kali, tiga kali, nikmat sekali. Selanjutnya nasi, daging ayam, kuah garang asem, potongan tomat dan cabai silih berganti masuk ke mulut, memanjakan lidah, mengenyangkan perut. Membuat saya lupa bahwa beberapa saat sebelumnya saya ditilang polisi, STNK saya ditahan dan dua minggu ke depan saya harus berada di pengadilan negeri Klaten untuk menghadiri sidang.

Banyak yang bilang mengolah daging ayam kampung itu sulit. Dagingnya alot sehingga membutuhkan perlakuan khusus agar daging bisa empuk dan baik saat disantap. Saya rasa itu hanya sekadar alasan untuk menutupi ketidakmampuan dalam mengolah daging ayam kampung saja. Sama kasusnya dengan ungkapan sulit mengolah daging kambing, salah-salah yang dominan hanya aroma dan rasa prengus saja. Kalau belum mampu masak, ya sudah, tidak usah cari-cari bermacam alasan. Begitu saya kira.

Selain ayam kampung, di daerah-daerah lain di Jawa Tengah, variasi bahan dasar lain juga digunakan semisal ikan, ayam negeri, daging sapi atau kambing, atau tahu dan tempe. Tentu saja hal ini bukan masalah, sah-sah saja dan malahan menambah variasi dalam khazanah masakan Indonesia.

Garang asam yang kami pesan sudah habis, kami harus melanjutkan perjalanan ke Solo. Jika kebetulan menempuh perjalanan Yogya-Solo atau sebaliknya, saya rasa tak ada salahnya untuk singgah sejenak menikmati garang asem di rumah makan Mbah Rono, Rp20 ribu untuk satu porsi garang asem. Relatif murah untuk citarasa yang mewah.

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba