Mencicip Dua Varian Unggas di Kudus

Manuk gelu goreng © Puthut EA
Manuk gelu goreng © Puthut EA

Hampir pukul 9 malam, akhirnya kami memutuskan untuk singgah dan tidur di kota ini. Kebetulan saya punya langganan penginapan di kota yang kaya ragam kuliner ini.

Setelah dapat kamar, kami bekerja. Pekerjaan baru terselesaikan malam, pukul 23.00 lebih. Saya bertanya kepada Nody, “Sudah terasa lapar atau belum?” Nody yang duduk di bangku belakang mobil cengar-cengir, “Lumayan,” katanya.

Nody, walaupun badannya kurus tapi tak tahan lapar. Apalagi sore tadi, ketika kami singgah di Kampoeng Kopi Banaran, di daerah Bawen, dia satu-satunya yang tidak makan. “Baru saja makan siang di kantor,” katanya.

Akhirnya kami muter-muter kota, dan mak jegagik kayaknya ada yang cocok. Entog alias menthok. Lama sekali saya tak makan daging unggas ginuk-ginuk itu, yang bahkan dalam nyanyian masa kecil saya dicandra seperti ini:

“…Mung mlakumu, angisin-isini. Mbok ya aja ngetok, ana kandhang wae, enak-enak ngorok, ora nyambut gawe….”

Di kampung saya, salah satu ciri orang pintar memasak adalah kalau dia sanggup memasak enak daging menthok ini. Dagingnya banyak, tapi superalot. Juga amis. Saya tidak tahu apakah ini mitos atau betulan terjadi. Kalau memasak daging ini, ketika merebusnya, supaya empuk dicampur dengan bambu atau beling. Ya, beling alias cuwilan barang pecah-belah.

Tidak sekalian dicampur paku atau cangkul, batin saya saat itu….

Warung Makan Raja Entog
Warung Makan Raja Entog © Puthut EA

Langsung saja. Begitu duduk saya memesan tiga porsi sesuai jumlah kami, plus pete, dan teh anget tiga.

Pertarungan dimulai. Daging menthoknya empuk, kinyus, dan sambal terasinya sedap. Tidak ada bau amis sedikit pun. Satu porsi dapat tiga potong daging menthok. Nody yang malu-malu nambah, segera saya pesankan satu porsi nasi lagi. Ketika porsi kedua mau habis, saya pesankan porsi ketiga khusus untuk dia.

Pertarungan usai. Makanan yang enak membuat pikiran kita rileks. Kami balik ke penginapan untuk siap menonton Liga Champions: Roma kontra Madrid. Tapi saya ketiduran. Untung dibangunkan ketika laga sudah berlangsung 40 menit.

* * *

Dan pagi tadi, kelezatan daging entog atau menthok itu masih terasa…. Juga sambal terasinya.

Siang ini kami melanjutkan perjalanan, dan kuliner yang kami tuju adalah sebuah warung makan di sebuah kampung yang agak jauh, dengan menu: burung blekok alias belibis….

Warung yang menjual ‘manuk sawah’, begitu istilah di warung ini, berada di daerah Undaan Kudus. Kalau tidak salah, jaraknya sekira 15 kilometer dari kota Kudus menuju ke arah Purwodadi.

Koki Gadungan bersama manuk gelu
Koki Gadungan bersama manuk gelu. © Dokumentasi Rahung Nasution

Waktu saya kecil, jenis burung ini cukup akrab bagi saya. Di kampung saya namanya: manuk gelu. Burung ini termasuk tidak bisa terbang terlalu tinggi. Bagi anak-anak yang bisa berlari cepat, mereka bisa mengejarnya. Tapi ada teknik lain untuk menangkap burung ini yakni dengan cara dijaring. Caranya, jaring dibentangkan di sebuah hamparan sawah, lalu beberapa orang ‘ngobyak‘ atau menggiring sambil berteriak. Burung-burung itu lalu lari ke arah jaring, dan terperangkap.

Ada banyak sekali jenis manuk sawah. Tapi manuk gelu ini agak khas, dengan ukuran sebesar ayam ‘kemanggang’ atau mudahnya ayam ukuran masakan ayam betutu. Bulunya hitam, dan paruhnya berwarna merah.

Saat saya dan kedua teman saya makan di warung ini, menjelang pukul 13.00, kami hampir tidak kebagian menu istimewa tersebut. Namun keberuntungan menaungi kami, sebab beberapa orang yang sudah memesan tiba-tiba membatalkan pesanan mereka. Maka jatah yang mestinya untuk mereka bisa dialihkan ke kami.

Kalau tidak salah, Si Koki Gadungan Rahung Nasution juga pernah ke warung ini untuk masak bersama yang punya warung, dan ditayangkan di sebuah acara kuliner di televisi.

Puthut EA

Anak kesayangan Tuhan.