Mencicip Citarasa Sop Ceker Lik Kidi

Sop Ceker Lik Kidi
Sop Ceker Lik Kidi © Widhi Hayu Setiarso

“Waung matang”. Itulah kata pertama yang saya ucapkan, dulu, ketika baru mulai belajar bicara. Berbeda dengan bocah-bocah pada umumnya seusia saya ketika itu. “Waung” artinya anjing. “Waung matang” berarti anjing matang. Kaget? Apalagi saya.

Tentu kedua orang tua saya juga geger. Mereka adalah muslim. Dan kita tahu, daging anjing adalah haram bagi seorang muslim. Barangkali mereka tak bisa membayangkan, kelak, anak sulung mereka adalah seorang pemamah daging anjing kelas berat atau menjadi juragan warung rica-rica waung. Sambil memandang nanar saya yang tengah merangkak kian ke mari, ibu mengingat-ingat apakah sempat ngidam rica-rica waung ketika hamil. Jawabannya tidak. Ibu, sekalipun saat itu bukan muslim yang taat, tapi tak sekalipun kepikiran makan daging anjing.

Atas usul bapak, mereka berdua lantas membawa saya ke macam-macam ‘orang tua’. Dari dukun bayi hingga kyai. Berbagai macam ramuan dan air bermantra disemburkan ke dahi saya. Beberapa malah dicekokkan ke mulut saya. Berderet doa dan mantra juga dirapalkan dan diterbangkan ke langit. Hasilnya nihil. Saya tetap ngoceh, “Waung matang.. waung matang.. waung matang.” Asu tenan..

Bapak dan ibu akhirnya menyerah. Hanya bisa tersenyum malu ketika saya ngoceh “waung matang” di hadapan tetangga dan sanak kadang. Sampai kemudian, gigi saya pun mulai membiak dan kata saya ucapkan kian banyak, “waung matang” perlahan lindap dan berganti “walung makang”. Lalu disusul kenakalan baru saya yang saban lepas maghrib merengek minta pergi ke warung makan sate sapi, yang kini sudah tutup, demi menonton simbah bakul sate melayani pembeli.

Perlahan, mereka menyimpulkan bahwa yang saya maksud “waung matang,” lalu menjadi “walung makang” adalah warung makan. Kini mereka gembira, membayangkan kelak ketika dewasa saya adalah pemilik warung yang selegendaris warung makan sate kambing Kantil atau bakso Tamansari kesukaan mereka. Dan tentu kegembiraan ini mereka bagikan ke sanak kadang dan tetangga yang pernah mendengar “waung matang” saya demi menghapus malu yang kadung hinggap.

Namun, cerita itu hanyalah bualan saya belaka. Tak ada benarnya sama sekali. Jadi, sebaiknya lupakan!

Warung Akan

Yang benar adalah, saya memang suka jajan. Sementara kalau di rumah, saya senang menunggui ibu saya—dan kini istri saya—memasak makanan kesukaan saya sambil membantu sebisanya, lalu melahapnya begitu matang. Barangkali karena hobi inilah saya jadi berhasrat memiliki warung makan.

Pernah saya hendak membuka warung soto. Percobaan resep berkali-kali kami, saya dan istri saya, lakukan. Bermangkuk-mangkuk hasil percobaan kami edarkan ke sanak kadang serta tetangga, dan hasilnya lumayan menggembirakan. Mereka bilang enak. Kios pun sudah saya incar, berada di jalan utama kota saya, Salatiga. Tapi, di seputar lokasi yang sama, nyaris di seberang jalan kios incaran saya, kemudian mangkal soto gerobakan. Saya merasa tak enak berebut rezeki di lokasi yang berdekatan.

Saya takut, gara-gara saya, soto gerobakan tersebut kukut karena pasarnya saya rebut. Apalagi penjualnya saya kenal baik. Rencana pun saya kendorkan, sambil mencari lokasi lain. Sampai kemudian ada orang lain membuka warung soto di kios incaran saya dan, meski rasanya menurut saya biasa saja, laris. Sementara soto gerobakan di seberangnya pun tetap laris. Yang saya takutkan tiada terbukti.

Saya juga pernah berencana membuka angkringan berwujud kafe. Tanah lapang di lokasi yang bagus sudah saya ketahui harga sewanya. Namun karena rencana itu terlalu banyak kami konsultasikan dengan beberapa kawan, akhirnya keduluan. Di lokasi yang sama mendadak berdiri kafe baru. Meski rasa makanan serta konsepnya, menurut kami, biasa saja, kafe tersebut laris.

Kalau benar kata orang bijak bahwa ada hikmah di balik setiap peristiwa, maka hikmah yang bisa dipetik adalah: saya kelamaan mikir sampai kemudian keduluan. Barangkali saking lamanya, belakangan istri saya mengejek bahwa yang sudah saya buka adalah “warung akan”: Akan terus tak kunjung buka.

Hingga kemudian, dalam sebuah perkongkowan, saya ngobrol dengan seorang anak muda berusia awal 20-an, bernama Adhit. Dia sudah lama saya kenal. Rupanya, Adhit juga sedang dalam misi yang sama dengan saya: mencari rumah alien, eh maksud saya, sama-sama pingin membuka warung makan. Selain pekerja keras, dia juga seorang yang disiplin, ahli mengatur uang, tangkas, dan seperti jamaknya anak muda, pemberani. Pendeknya, ia kebalikan dari saya.

Walhasil, begitu melihat iklan kios dikontrakkan di jalan Seruni, Salatiga, Adhit meminta saya supaya kami segera menembusi sang pemiliknya. Lokasinya lumayan bagus karena dekat dengan kampus UKSW dan beberapa sekolahan. Sementara saya, seperti biasa, kebanyakan menimbang. Tapi karena Adhit terus mendesak saya, baiklah, saya sepakat. Malamnya juga uang tanda jadi sewa kami bayar. Tiga hari kemudian, kami lunasi. Soal menunya apa, siapa yang memasak, kami belum tahu. Kalau sudah ada uang keluar, apalagi jumlahnya bagi kami besar, saya pikir baik juga. Tak ada alasan mundur lagi.

Lalu, dalam perbincangan maraton dengan istri saya, istri saya mengusulkan menu sup ayam. Tapi sebagai pembeda dengan warung sup ayam yang sudah ada, ia usul agar kami menonjolkan ceker. Sup ceker. Meskipun bakal disediakan pula sup daging ayam dan sup kepala ayam. Saya sepakat. Saya lantas membagi gagasan itu kepada Adhit. Dia setuju.

Kami Tunggu Kedatangan Anda

Segera saja istri saya, yang memang sat-set bat-bet dalam bekerja, pergi ke pasar. Menjereng belanjaan di dapur. Meramu bumbu dan rempah yang jumlahnya belasan. Memasak kaldu hingga berjam-jam. Dan hasilnya adalah sup ayam yang kuahnya kaya rempah hingga lain dari yang biasanya: segar di mulut tapi hangat di badan. Pas dengan udara Salatiga yang dingin. Lalu cekernya (iya, cekernya) lumer begitu diemut dan ke luar mulut tinggal tulang-belulang. Ya Tuhan, istri saya cantik sekali. Haha..

Menu utama telah siap. Lelaukan pendamping saya pikir tiada masalah. Sate usus, sate telur puyuh, bakwan jembak, tahu dan tempe goreng, saya pikir mudah. Oplosan teh, yang saya namai teh seger, juga sudah beres jauh-jauh hari. Dulu ketika hendak membuka warung soto, saya sudah mencoba berbagai perpaduan merek teh hingga ketemu campuran yang menurut saya enak. Ringan dan segar.

Persoalan selanjutnya adalah nama. Saya mengusulkan nama Sup Kere. Menurut saya, nama itu terkesan provokatif dan menantang warung sup ayam yang sudah mapan, yang harganya mahal. Namun dari rentetan perdebatan dengan Adhit, kami memundurkan nama itu. Dan dari beberapa alternatif, ketemulah nama Lik Kidi.

Sop Ceker Lik Kidi
Sop Ceker Lik Kidi © Widhi Hayu Setiarso

Lik Kidi adalah nama paraban salah seorang kawan dekat kami. Nama itu kami pilih karena terkesan jadul (tentu biar langgeng seperti warung-warung makan kuno), unik, dan mudah diingat. Syukurlah Dedi, sang pemilik nama paraban, mengizinkan. Dan sebagai ucapan terima kasih, Dedi kami persilakan makan dan minum gratis di warung kami selama seumur hidup. Seumur hidup Dedi dan warung kami. Semoga keduanya panjang umur.

Maka jadilah Sop Ceker Lik Kidi.

Oh ya soal penggunaan kata “sop”, bukan “sup”, dalam nama, tak usah diperdebatkan. Kami memilih yang akrab di mulut dan telinga orang Salatiga belaka. Sebab kami sedang membuka warung makan, bukan menulis makalah.

Sop Ceker Lik Kidi
Sop Ceker Lik Kidi © Widhi Hayu Setiarso
Suasana warung makan Lik Kidi
Suasana warung makan Lik Kidi © Widhi Hayu Setiarso

Sop Ceker Lik Kidi mulai buka hari Senin 7 Maret 2016. Buka Senin hingga Sabtu pukul 8 pagi. Lokasinya jalan Seruni nomor 1, Salatiga (pas gapura hijau seberang MAN dan STEKOM—bekas PAT). Menu utamanya sup ceker, sup daging ayam, dan sup kepala ayam. Selain ceker, daging, serta kepala ayam, isian lainnya adalah kembang kol dan wortel.

Dan bagi yang takut penyedap, anda bisa memesan tanpa micin. Sementara lelaukannya adalah sate usus dan telur puyuh, serta gegorengan seperti bakwan jembak, tahu dan tempe goreng. Soal harga saya pikir tiada masalah. Murah. Semangkuk sup ceker cuma 3500 rupiah , sepiring nasi hanya 1500 rupiah. Sementara lelaukan dan minuman harganya standar. Intinya, tak sampai 10000 rupiah, anda sudah kenyang.

Oh ya satu lagi, selama sebulan ke depan, kami gratiskan semangkuk sup, sepiring nasi, segelas teh, dan semangkuk kobokan untuk anda: sanak saudara, tetangga, dan teman. Sedangkan lelaukan tetap bayar. Dan gratisan juga hanya berlaku di kunjungan Anda yang pertama. Kalau kelak balik lagi harus bayar. Haha..

Kami tunggu kedatangan Anda.

Widhi Hayu Setiarso

Penikmat Kuliner


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405