Mencecap Rasa Karya Para Perupa Asia Tenggara Plus

Juara Dunia dari Indonesia karya Agan Harahap
Juara Dunia dari Indonesia karya Agan Harahap | © Fandy Hutari

Chris John juara dunia. Petinju asal Banjarnegara, Jawa Tengah, itu mengalahkan Manny Pacquiao dalam sebuah duel yang ramai penonton. Pukulan telak The Dragon tak mampu dibendung Pacman. Akhirnya, petinju asal Filipina tersebut tersungkur. Chris John tertawa.

Namun, fragmen pertandingan tinju kelas dunia tadi tak benar-benar ada dalam dunia nyata. Pertarungan sengit Chris John vs Manny Pacquiao hanya ada dalam imajinasi seniman Agan Harahap.

Agan menyajikan foto-foto pertarungan Chris John dan Manny Pacquiao di karya rekayasa fotonya berjudul “Juara Dunia dari Indonesia” dalam pameran seni rupa SEA+ Triennale 2016 bertajuk “Encounter: Art from Different Lands” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Agan menyajikan 10 foto hitam-putih dalam pigura, yang berkisah mulai dari Chris John yang masuk ring, bertarung, hingga mampu mengalahkan Manny Pacquiao.

Pameran ini diikuti seniman-seniman dari 12 negara. Selain Agan, ada 30 perupa lainnya asal Indonesia yang ambil bagian di pameran ini. Selebihnya, berasal dari Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja, Filipina, Myanmar, Laos, Australia, Denmark, Norwegia, dan Inggris. Mereka memamerkan karya berupa lukisan, patung, object, seni cetak, fotografi, video art, dan instalasi.

Apa yang Menarik?

Tentu banyak sekali yang menarik dari pameran yang sudah berlangsung sejak 18 Oktober dan berakhir 10 November mendatang ini. Selain karya Agan, ada karya seniman Inggris Zoe Walker dan Neil Bromwich berjudul “Siege Weapons of Love, Tank”. Karya dua seniman bule itu sudah menyambut pengunjung saat masuk pintu Gedung A, Galeri Nasional Indonesia.

Karyanya berupa sebuah tank berwarna pink, terbuat dari kain nilon yang diisi angin. Tak ada yang menakutkan dari tank ini. Lebih mirip balon mainan anak-anak ketimbang sebuah tank untuk pertempuran.

Di dalam, paling sudut ada perempuan telanjang yang bagian tubuhnya ditutupi sehelai kain. Perempuan ini sedang duduk di sebuah kursi, dan asyik menenggelamkan diri dengan gawainya. Patung ini berjudul “Christian Contemporary” karya Julie Lluch asal Filipina.

Sebuah piano elektrik yang di bagian belakang terpampang plat besar mirip bagian tubuh pesawat juga mengganggu para pengunjung. Piano berbentuk silinder itu adalah karya perupa asal Filipina, Alwin Reamillo. Judulnya “The Rocknroll Piano of Egay Navarro”.

Siege Weapons of Love, Tank karya Zoe Walker dan Neil Bromwich
Siege Weapons of Love, Tank karya Zoe Walker dan Neil Bromwich | © Fandy Hutari
Christian Contemporary karya Julie Lluch
Christian Contemporary karya Julie Lluch | © Fandy Hutari

Melangkah ke Gedung B, pengunjung masih bisa menikmati berbagai karya seniman yang seluruhnya dari Indonesia. Salah satunya, ada tiga buah foto yang mirip Patung Selamat Datang. Satu foto Patung Selamat Datang tanpa kepala. Satu foto benar-benar Patung Selamat Datang. Satu foto lagi mirip Patung Selamat Datang, tapi sedang mengacungkan palu dan arit. Karya ini milik Ahdiyat Nur Hartarta berjudul “Wellcome to Neo-Capitalist Country”, “Wellcome to Islamic Country”, dan “Wellcome to Indonesia”.

Karya seniman Bali Made Bayak bisa dilihat di halaman antara Gedung B dan Gedung C. Menarik. Made menampilkan sebuah protes soal reklamasi, mungkin reklamasi Teluk Benoa di Bali.

Karya berjudul “Artificial Island (The Island of 1.000 Dreams, Sunrise, and Sunset)” itu menampilkan sebuah kain besar berwarna biru yang bertuliskan “Reklamasi” hingga membentuk Pulau Bali. Ada empat kursi, masing-masing terdapat sepasang topeng khas Bali, yang dilindungi sebuah payung hitam. Bukan itu saja. Made menyuarakan protes melalui rekaman orasi soal penolakan reklamasi dengan suara mirip Bung Karno dari sebuah tape.

Saya bisa katakan, Made Bayak seperti sedang mengadakan sebuah revolusi di pameran ini. Ia masuk dan menyesak karya-karya lain, untuk melakukan gerakan protes terhadap reklamasi, yang saat ini memang menjadi salah satu isu paling menyita publik.

The Rockenroll Piano of Egay Navarro karya Alwin Reamillo
The Rockenroll Piano of Egay Navarro karya Alwin Reamillo | © Fandy Hutari
Artificial Island karya Made Bayak
Artificial Island karya Made Bayak | © Fandy Hutari

Karya video art, salah satunya yang menarik berjudul “The Class” karya Araya Rasdjarmrearnsook asal Thailand. Karya ini ditempatkan dalam sebuah ruangan khusus yang gelap. Video ditembakan bukan ke dinding, tapi ke lantai. Video ini menampilkan seorang guru yang sedang mengajar di kelas yang kosong. Selain itu, ada karya seniman asal Denmark, Peter Land, berjudul “Joie De Vivre” yang menggambarkan seorang pria sedang tertawa terbahak-bahak. Video ini ditembakan ke kanan dan kiri dinding.

Pameran ini sendiri dikuratori oleh empat kurator, yakni Rizki A. Zaelani, A. Rikrik Kusmara, Asikin Hasan, dan Badrolhisham M. Tahir. Menurut keterangan dalam rilis pers, tema pameran Encounter (Pertemuan) adalah gagasan untuk menimbang kembali pengalaman hidup yang diraih secara langsung, yakni semacam hasil yang dipenuhi interaksi dan relasi yang melibatkan kesadaran dan penghayatan tubuh dalam ruang dan waktu kejadian yang bersifat langsung.

Pameran ini diselenggarakan untuk yang kedua kalinya. SEA+ Triennale sendiri kali pertama dihelat pada 2013 lalu dengan tema “Global Art: Ways Around Asia”. Masih ada kesempatan dua hari lagi untuk menikmati karya-karya ini. Kamu akan dibawa pergi menuju imajinasimu ketika mencecap karya-karya para perupa yang ikut serta. Selamat menikmati.

Fandy Hutari

Penulis dan peneliti sejarah. Berminat pada kajian sejarah hiburan, terutama film dan teater masa kolonial.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405