Mencari Rasa di Kantin Baraya

Kantin Baraya
Kantin Baraya | © Muhammad Choirur Rokhim

Sebagai organ otot di dasar mulut, lidah bertugas membawa selera (rasa) dan memanipulasi makanan. Meski bertugas memanipulasi, nyatanya lidah tak mampu dikelabui apalagi dibohongi bila sudah ukuran rasa. Ia sangat sulit untuk diajak kompromi; untuk tak menolak rasa yang tidak terbiasa dirasa. Maksudnya, jika sudah terbiasa penyuka pedas, maka lidah sangat sulit untuk menerima, dalam hal ini masakan yang hambar. Secara otomatis, ia akan mencari tambahan rasa pedas dengan menambahkan sambal sebagai penyeimbang rasa.

Semenjak pindah dari tanah kelahiran, Trenggalek ke kota Serpong, Tangerang, saya seakan kehilangan rasa yang sebelumnya hampir saban hari akrab di lidah. Di sini, imaji perasa sangat mengena. Di sini pula, masakan ibu atau warung-warung yang sering jadi langganan serasa di atas ubun-ubun. Namun apalah daya, mau tidak mau saya harus merelakan diri untuk beradaptasi dengan menu masakan kota orang, yang lagi-lagi tak mampu mengobati nafsu selera makan.

Tangerang ditinggali orang-orang dari seluruh penjuru; mulai Jawa, Sunda, Betawi, Batak, Padang atau suku mana saja. Sehingga, menu masakan pun beraneka ragam. Tapi keragaman tersebut satu-dua-tiga masakan belum memenuhi kriteria yang sesuai selera lidah saya.

Sebagai orang yang besar di Jawa Timur, saya sangat menggilai masakan pedas-manis. Di Tangerang, khususnya di BSD, saya belum juga ketemu masakan Jawa, yang rasanya sesuai selera. Barangkali, seperti ejekan jawa lokal daerah saya, “dolanku sek adoh endok?” (keluar rumah saya masih jauhan telur).

Tetapi saya sangat beruntung menemukan kantin yang sesuai dengan selera perasa saya meski terjepit kebutuhan esok harinya. Kantin tersebut bernama Baraya. Kantin ini berada di Jalan Pahlawan Seribu, BSD, Sektor 4 Blok RG Nomor 3, Lengkong Wetan, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Beruntung, lokasinya juga berdekatan dengan tempat kerja saya. Hanya berbeda blok. Tinggal lewat jembatan penyeberangan, saya bisa merasakan masakan dengan cita rasa sesuai selera lidah. Jadi, bila mencari rasa yang sesuai dengan hasrat nafsu makan, kantin ini menjadi pilihan.

Di siang hari, kantin ini sangat ramai sekali. Letaknya sangat strategis berdekatan dengan gedung-gedung perusahaan yang bergerak di bidang jasa dan layanan publik. Begitu pun sore hari, banyak pelanggan yang memesan menu makanan. Saat saya sampai di kantin itu, ada empat orang yang sedang makan dengan menu ikan bakar dengan sambal berontak, lele bakar dengan sambal yang sama, serta nasi goreng serta didamping dengan es teh manis dan es cappucino cincau.

Tanpa komando, saya memesan menu ikan bakar sambal berontak serta es capcin—cappucino cincau.

Sambil menunggu pesanan, saya penasaran dengan nama Baraya tersebut. Membaca kata baraya, dalam imaji saya, kata tersebut merujuk kata sansekerta. Tetapi menurut Alif, salah satu karyawan yang bertugas menjual Nasi Goreng di pelataran Kantin Baraya itu, Baraya artinya kantin Saudara. “Baraya itu berasal dari kata Sunda, Mas. Yang artinya Saudara.”

“Kantin ini berdiri atas prakarsa tiga saudara. Mereka bertiga berasal dari Banjar, Patroman, Ciamis. Yakni Pak Amin dan Pak Muchlisin dan Pak Sapei dari Tasikmalaya,” tambah Alif sambil mendengerkan musik di handphonenya.

Kantin Baraya
Kantin Baraya | © Muhammad Choirur Rokhim
Kantin Baraya
Kantin Baraya | © Muhammad Choirur Rokhim

Dalam benak saya bertanya-tanya, bagaimana cara mempertahankan bisnis yang didirikan tiga orang sekaligus dan itu pun saudara semua. Yang pasti, dalam perkembangannya, kantin ini menuai konflik dan permasalahan. Tetapi kantin yang berdiri pada tahun 2015 ini mampu bertahan dengan konsep bersaudara.

Menikmati menu-menu andalannya di kantin Baraya adalah Ikan Bakar lalap, Lele Bakar lalap, serta menu-menu yang lain disajikan dengan sambal andalan, yakni sambal “berontak”. Sambal ini seperti sambal level 5. Kata berontak merujuk pada sebuah arti melawan. Melawan dari indera perasa. Rasa pedas bakal didapat saat merasakan sambal “dulitan” pertama.

Pesanan pun datang. Saya dan beberapa teman yang memesan dengan menu yang sama, dengan lahap menikmati ikan gurami bakar sambal berontak. Menikmati sambal di tengah kangen sambal Ibu terasa mewakili rasa itu. Namun, masakan terutama sambal, selalu ada ciri khasnya sendiri. Saya pun lahap menikmati menu tersebut.

Ikan gurami pun tandas, yang tersisa adalah hanya duri-duri yang keras. Saya segera membersihkan diri menuju westafel. Dalam daftar menu yang tertulis dalam banner di depan kantin itu, menu lele bakar tersebut seharga Rp 16.000. Harga yang normal di tengah usaha mencari rasa yang sesuai dengan indera perasa sekaligus sesuai dengan kantong.

Saya pun menyodorkan uang Rp. 30.000 dengan kembali enam ribu. Cukup murah mengingat bisa merasakan sambal bikinan Ibu lewat sambal berontak kantin Baraya.

Menikmati menu yang sesuai selera adalah abadi. Yang fana adalah uang. Mencari makanan di tengah kota, yang penuh hingar-bingar makanan modern dengan cita rasa yang bervariasi, makanan dengan sambal yang menyerupai dengan sambal ibu merupakan kegiatan mencari rasa di atas meja makan rumah. Selalu mengena dan bakal dicari lagi, lagi dan lagi. Dan, kantin Baraya menjadi pilihan utama kala kangen masakan, terutama soal sambal. Masakan dan sambal ulek bikinan itu selalu saya kenang. Di sini, saya mencari rasa dengan masakan ibu. Semoga Ibu di rumah selalu sehat.

Muhammad Choirur Rokhim

Lahir di Trenggalek. Besar di Jalan. Mengadukan nasib di kota orang.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405