Mencari Pedas Di Malaysia

Membaca tulisan Mas Fandy Hutari tentang serba-serbi pedas pada tanggal 20 Oktober lalu, saya jadi teringat sebuah pencarian ketika dulu baru sampai di Malaysia. Kami sekeluarga empat orang—saya, Ibu, Ayah, dan adik—bisa dikatakan sama-sama menyukai pedas, tentu dengan standar yang berbeda. Alhasil, selain mencari sajian lokal, kami juga mencari makanan pedas yang bisa memuaskan indera perasa kami. Atau minimal, cara bagaimana untuk membuat apapun yang kami makan menjadi pedas.

Sebagai sebuah keluarga urban yang sedikit banyaknya sudah terbiasa dengan makanan kemasan, maka yang pertama kali kami cari adalah saus sambal botolan. Dulu di Indonesia, kami sekeluarga suka menambahkan sambal botol ABC atau Indofood ke makanan seperti mie goreng, nasi goreng, atau apa yang saya sebut sebagai trio makanan beku—sosis, nugget, dan kentang goreng. Sambal botolan adalah tambahan makanan yang sudah menyatu dengan lidah kami sekeluarga. Beruntung, apartemen tempat kami tinggal hanya selangkah jaraknya dengan mall. Pilihan dan keterbukaan kami terhadap berbagai jenis sambal botolan pun lebih besar.

Merek sambal botolan yang ada di Malaysia (merek lokal, maksud saya) tidak banyak berbeda ragamnya dengan yang ada di Indonesia. Hanya saja, mungkin karena saat itu saya melihat-lihat di mall, cukup banyak merek sambal botolan impor seperti Heinz, Peri-Peri, atau Tabasco. Merek sambal botolan lokal yang cukup umum adalah Kimball dan Maggie. Dua merek ini cukup mendominasi rak-rak saus botolan—mulai dari sambal hingga saus tomat—di mall ketika itu. Karena merek lokal jauh lebih murah dari merek impor, lantas kami memilih sebotol sambal merek Maggie.

Tetapi sialnya bagi kami, rupanya sambal botolan lokal Malaysia sama sekali tidak pedas, malah rasanya agak asam seperti saus tomat. Atau mungkin tepatnya, sambal tersebut sama sekali tidak pedas bagi kami. Jika dibandingkan dengan sambal asli Indofood yang bagi kami masih kurang pedas saja, sambal itu sama sekali kalah jauh, apalagi dengan sambal botolan kelas satu—bagi kami—seperti sambal ekstra pedas ABC atau minimal sambal aslinya.

Dan sayangnya lagi, sambal impor tidaklah lebih baik. Alhasil, untuk beberapa bulan lamanya, kami berusaha mengadaptasikan lidah kami dengan sambal botolan Thailand yang sebenarnya manis dan tidak layak kami sebut sambal, namun sekurang-kurangnya rasa manis tersebut masih lebih bisa ditolerir dari rasa sambal asam Maggie.

Tuhan Maha Penyayang, Dia menunjukkan kami jalan menuju miniatur Indonesia Chow Kit dalam suatu perjalanan berburu kuliner ketika lidah kami sudah mulai terbiasa dengan sambal khas negeri gajah. Peristiwa itu terjadi beberapa bulan setelah kami menemukan sambal Thailand, berarti sekitar setahun agak kurang sedikit setelah kami merasakan asamnya sambal botolan lokal.

Sambal ekstra pedas ABC, berjejer bersama sambal dan saus tomat lokal di Chow Kit
Sambal ekstra pedas ABC, berjejer bersama sambal dan saus tomat lokal di Chow Kit. | © Kurnia Gusti Sawiji

Di Chow Kit, kami menemukan apa yang kami kira sudah menjadi relik kenangan di otak kami; sambal ekstra pedas ABC, berjejer bersama sambal dan saus tomat lokal. Harganya relatif murah, hanya RM5 (Rp 15.000 jika dirupiahkan) satu botol.

Itu adalah cerita tentang saus sambal botolan. Sebagai seorang Minang asli, salah satu bahan makanan yang tak pernah lupa dimasak oleh Ibu adalah sambal lado. Bagi saya, tidak ada berkah makanan lain dari Tuhan yang diberikan untuk lidah saya selain masakan Ibu, dan sambal lado buatannya membuat berkah tersebut dua hingga tiga kali lebih nikmat. Sambal lado Ibu di Indonesia begitu khas; dengan rasa pedasnya yang membuat ketagihan, dan campuran rempah-rempah lainnya yang membuat rasa pedas sambal ladonya yang alih-alih menyakitkan lidah, malah menghasilkan paduan yang nikmat.

Seiring dengan tumbuhnya nalar dan rasa keingintahuan saya, terkuaklah bahwa rahasia dari sambal lado Ibu adalah cabai keriting. Ujar Ibu, cabai keriting memiliki rasa yang unik; ia pedas, tetapi legit, membuatnya begitu mudah untuk dicampurkan dengan rempah-rempah lainnya tanpa perlu takut kehilangan rasa. Cabai keriting setahu saya memang cabai yang paling banyak dijual di pasar tradisional Bojong Nangka, tempat Ibu berbelanja bersama saya. Cabai giling yang biasanya dibeli Ibu pun juga menggunakan cabai keriting sebagai bahan dasarnya.

Sambal Lado
Sambal Lado | © Kurnia Gusti Sawiji

Di Malaysia—atau mungkin tepatnya di Kuala Lumpur—sayangnya, cabai keriting adalah barang mewah. Cabai yang katanya langsung diimpor dari Indonesia—dan memang hanya dari situlah supplier pasar Chow Kit bisa mendapatkannya—tersebut dua kali lipat harganya dari harga rata-rata cabai biasa. Jika harga cabai tertinggi adalah RM15 per kilo, maka harga cabai keriting adalah RM30—sekitar Rp 90.000, harga yang bagi kami cukup mahal memandang sekilo daging saja hanya RM17.

Atas alasan ekonomi, Ibu pun mulai mendasari pembuatan sambal ladonya dengan menggunakan cabai yang umum. Namun, rupanya ada dua jenis cabai yang sering dijual di Chow Kit; cabai besar dan cabai kecil. Tidak seperti cabai keriting, bentuk mereka relatif lebih pendek dan lurus dengan warna yang lebih menyala. Cabai besar adalah cabai lokal. Cabai kecil adalah cabai yang diimpor dari Thailand, Bangladesh, atau terkadang Siam (Myanmar).

Sebagai percobaan pertama, Ibu mencoba untuk membeli sekilo cabai besar dan sekilo cabai kecil. Anggapannya, cabai besar lebih pedas dari cabai kecil. Maka Ibu pun memulai “ritual” pembuatan cabainya dengan menggunaan cabai besar terlebih dahulu.

Betapa kagetnya Ibu ketika merasakan bahwa sambal lado yang dibuatnya sama sekali tidak pedas. Merasa tidak yakin, Ibu menyuruh saya mencobanya karena sayalah yang paling tahu dengan rasa pedas, terutama buatan Ibu. Sungguh, sambal lado itu adalah yang termanis yang pernah saya rasakan. Akhirnya, Ibu pun membalikkan pembuatannya; ia memperbanyak cabai kecil dan menyedikitkan cabai besar. Alhasil, sambal ladonya pun kembali terasa pedas, walau masih kurang dibandingkan dengan cabai keriting.

Perlahan, kami mulai menyadari bahwa di Malaysia, nampaknya pedas tidaklah dominan. Cabai hijau mereka, atau yang disebut sebagai cili padi, sudah mereka sebut sebagai pedas. Apa yang biasa kita makan pada tahu Sumedang dan bakwan mereka sebut cili api. Bayangkan, cabai yang panas dan pedasnya sudah seperti api! Dan kita orang Indonesia memakannya bersama tahu sumedang seakan itu adalah kerupuk. Apakah ini ada hubungannya dengan cara hidup orang Malaysia yang cenderung selow dengan cepat membaranya orang Indonesia, saya tidak tahu. Toh, saya sudah mendapatkan pedas yang saya inginkan walau sebenarnya masih kurang sih.

Kurnia Gusti Sawiji

Nyasar di Malaysia selama 8 tahun.