Mencari Kehangatan di Kedai Joni

Ruang Dalam Kedai Joni
Ruang Dalam Kedai Joni | © M. Hamim Arifin

Bagiku, berakhir pekan di Malang dan Batu seperti mengulang romansa. Hawa sejuk dan ruang terbuka hijau selalu menawarkan teduh di tiap sudut jalan. Menyusuri jalan-jalan kota itu seperti mengumpulkan ingatan dan kenangan yang tertinggal dan sempat berdebu.

Sore itu, saya berkesempatan berakhir pekan di Malang-Batu. Menepikan penat dari rutinitas dan semua kebisingan Surabaya. Mengisi sehari jatah libur di hari Sabtu, sebelum meja redaksi kembali menjemput di hari Minggu.

Hujan baru saja reda. Seorang teman mengajakku jalan-jalan sore ke Batu, sekitar 20 menit perjalanan dari Landungsari, tempatku dulu tinggal. Sepanjang jalan, kami harus berhenti dua kali karena hujan.

Kesejukan Batu sudah terasa sejak kami memasuki gapura kota. Gambaran sebagai kota wisata masih terus dipertahankan dengan pembangunan beberapa tempat wisata baru yang sedang berlangsung. Tempat-tempat nongkrong dan makan berjejer di jalur masuk Batu.

Kami masih menyusuri jalan kota saat gerimis kembali datang. Lalu kami terdampar di jalan Abdul Gani, jalan kecil yang memisahkan kawasan Taman Makam Pahlawan dan jalur menuju Jatim Park 1. Tak jauh dari situ terlihat sebuah kedai berdiri di pojokan di antara jalan Abdul Gani dan jalan Mustari. Kami memutuskan untuk singgah.

Kedai belum ramai sore itu. Beberapa meja sudah terisi, tapi tidak penuh. Kami langsung duduk di meja kosong, dekat pintu sebelum bagian teras dan berdampingan pas dengan jalan Abdul Gani. Dingin masih menyerbu saat kami duduk. Alasan itu juga yang membuat jaket masih melekat di lapisan terluar badan kami.

Suasana megah dan cozy langsung mampir begitu kami masuk. Interiornya nyaman. Tatanan kayu-kayuan dikombinasikan dengan cahaya-cahaya kuning keemasan di dalam kedai menambah kesan hangat. Kami mendekat ke papan menu yang letaknya di samping atas bar. Menunya penuh dengan single origin yang saya suka. Sementara teman saya masih bingung mau pesan apa, saya menuju ke bar dan bertanya langsung pada barista.

“Kopi recommended-nya apa, Mas?” tanyaku pada pria jangkung, berkacamata dan mengenakan celemek yang berdiri di belakang bar.

“Ini, Mas. Malabar untuk bulan ini,” katanya menunjuk papan kecil yang digantung di atas bar. Saya mengangguk. “Dari Bandung, Mas. Tapi kalau mau yang lain ada Gayo dan Bajawa”, tambahnya padaku.

“Oke, Mas. Malabar satu”.

“V60, drip atau lainnya, Mas?”, tanyanya memberikan pilihan cara seduhnya.

“V60 boleh, Mas?”, jawabku. “Tentu saja, Mas. Silakan ditunggu.” Dia mempersilakan saya duduk kembali dengan ramah.

Tatanan letaknya bagus. Memberikan banyak pilihan bagian duduk pada pelanggan. Di dalam ruangan, ada tujuh bagian yang bisa ditempati. Satu di dekat pintu masuk, satu di depan bar, dua di tengah dipisah dengan satu tiang kedai, satu nempel di dinding dengan enam kursi dan banyak ornamen pigura di atasnya, serta dua di dekat pintu teras. Lalu di teras yang bersebelahan dengan jalan Abdul Gani juga ada dua tempat duduk. Satu di depan dan satu di belakang, Bagian belakang lebih banyak kursi, cocok untuk kongkow rame-rame.

Dekat dengan bar, ada meja kasir. Keduanya dipisah dengan tembok dan lorong kecil untuk lewat. Ada juga dua sudut kosong yang berisi banyak ornamen pemanis kedai. Satu di dekat bar di bawah papan menu. Berisi rak-rak kecil berisi artis paper cup untuk take away dan buku-buku untuk dibaca. Satu lagi di dekat pintu teras yang berisi lukisan tentang Kedai Joni dan kursi-kursi antik. Menarik buat foto-foto.

Lima belas menit kemudian, seorang waiterses mendatangi kami dengan dua cangkir kopi dengan dua potong kue di masing-masing tatakannya. Saya dan teman saya reflek mengangkat masing-masing cangkir dan mendekatkannya ke hidung. Aroma khas arabika. Teman saya memilih Gayo dan disajikan dengan tubruk. Klasik. Saya masih belum berhenti menghirup aroma Malabar saat pandanganku tidak sengaja bertemu kembali dengan papan menu.

Kedai Joni ternyata juga menyediakan Arabika khas Batu yang diambil langsung dari lereng Gunung Arjuna. Selain menu spesial setiap bulan, harga di Kedai Joni dibedakan melalui cara seduhnya. Tubruk 8 ribu, French press 13 ribu, V60 13 ribu dan lainnya. Malabar, yang jadi menu spesial bulan ini dibanderol harga 15ribu, berlaku untuk semua cara seduh. Selain kopi, Kedai Joni juga menyediakan minuman lain seperti coklat serta makanan ringan yang berkisar di harga 10-20ribu.

Ornament Dekat Teras Kedai Joni
Ornament Dekat Teras Kedai Joni | © M. Hamim Arifin
Aceh Gayo Tubruk Kedai Joni
Aceh Gayo Tubruk Kedai Joni | © M. Hamim Arifin

Obrolan kami berhenti tepat pukul 5 sore. Masa yang tepat sebelum petang menjemput. Karena saat petang, jaket yang kami kenakan sudah tidak lagi mampu menahan dingin-nya Batu. Sebelum pulang, saya sempatkan ngobrol dengan Sanwa, waiterses yang juga jadi kasir Kedai Joni. Cerita-cerita yang Sanwa sampaikan membuat saya berencana balik lagi ke kedai ini di waktu lain.

Lokasi di jalan Abdul Gani adalah kedua bagi Kedai Joni. Sebelumnya, Kedai Joni berada di jalan Imam Bonjol, lebih dekat dengan jalur masuk Batu dari Malang dan juga dekat dengan Batos (Batru Town Square). Perpindahan itu, menurut Sanwa tidak memiliki dampak. Karena sebelumnya, Kedai Joni sudah memiliki pelanggan karena kopi dan beberapa kegiatan sosialnya. Ya, Kedai Joni juga punya kegiatan bagus yang sangat mudah dipilih sebagai aktivitas pelanggannya.

Kedai Joni buka tiap hari dari pukul 09.00 sampai 23.00 WIB. Hari Kamis bisa buka, bisa juga tidak. Kamis dipilih Kedai Joni sebagai hari kegiatan sosial yang mereka ciptakan; Pasar Kamis Joni. Kegiatan ini merupakan pasar mini dan tempat diskusi publik. Konsepnya sama seperti Sunday Market di Surabaya tapi versi mini. Di sana, siapapun (tentu daftar) bisa jualan dan bertransaksi koleksi pribadi, barang baru atau bekas, makanan-minuman dan lainnya. Dan semuanya dijual dengan harga terjangkau. Semua bisa gabung tanpa dipungut biaya.

Selain transaksi fisik, Pasar Kamis Joni juga memberikan ruang buat beragam komunitas untuk diskusi. Tema dan konsepnya bebas, juga tanpa biaya sewa. Artis paper cup yang ada di bawah papan menu, itu juga adalah hasil karya dari Pasar Kamis Joni. Menarik. Hanya saja saya datang tidak saat Pasar Kamis Joni sedang berlangsung.

Sanwa yang mengetahui ketertarikan saya dengan kegiatan ini, meminta saya add Line ads Kedai Joni dan follow akun ig-nya agar tahu jadwal Pasar Kamis Joni dan promo-promo lainnya. Seperti pekan ini, Kedai Joni mengadakan promo ‘Do Not Repeat Again’ dengan diskon 10%. Syaratnya membawa surat tilang dari Kepolisian dan surat tilang yang bersangkutan. Unik kan.

Soal nama kedai, Asep (27), pemiliknya mengatakan, Joni adalah nama yang cukup netral di Indonesia, tanpa tendensi suku manapun. Joni adalah representasi Indonesia, sama seperti single origin yang tersedia di Kedai Joni, beragam dari seluruh Indonesia.

Jadi bagi pecinta single origin, jangan khawatir berakhir pekan ke Batu. Jangan khawatir takut kehilangan pilihan ngopi. Karena Batu tidak hanya disesaki dengan tempat wisata dan ketan yang melegenda, tapi juga ada kedai kopi asik dengan tetap mengobrol hangat di tengah dinginnya cuaca.

M. Hamim Arifin

Peminum Kopi Seadanya


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405