Mencari Jejak Nick Drake di Indonesia

Saya pertama kali mengenal nama Nick Drake sekitar tahun 2010. Ya, memang sangat terlambat. Ketika itu saya baru bergabung pada jajaran kontributor situs Jakartabeat. Di situ saya yang bergaul dengan penulis-penulis lain, mendapatkan banyak informasi serta akses menuju musik-musik baru yang menarik dan belum pernah saya kenal sebelumnya, seperti Fleet Foxes, Wilco, The National, dan juga Nick Drake.

Salah satu pendiri Jakartabeat, Taufiq Rahman, pernah membahas soal Nick Drake di situs itu. Tulisan tersebut kemudian hadir di bukunya, Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock and Roll Sampai 15.000 Kilometer (Elevation Books, 2012). Ulasannya yang intim dan memikat itu bisa dibilang salah satu gerbang perkenalan saya dengan Nick Drake.

“Dua album pertama Nick Drake, Five Leaves Left dan Bryter Layter, adalah dua karya besar penuh musik surgawi yang tidak hanya menonjolkan kemampuan Nick Drake dalam merangkai puisi, namun juga kejeniusannya dalam menggubah lagu yang sangat melankolis dan sekaligus megah,” puji Taufiq Rahman seraya menegaskan kalau Five Leaves Left merupakan salah satu pencapaian estetik tertinggi di genre folk.

Nah, siapa yang tidak penasaran kalau sudah begitu?!

Alhasil, tiba-tiba saja saya sudah memiliki tiga album Nick Drake di PC. Dalam format Mp3 tentu saja. Sepertinya itu hasil mengkopi dari teman atau mengunduh secara ilegal. Entahlah, saya sudah tidak ingat lagi. Namun ini bukan berarti saya kemudian menjadi pendengar Nick Drake yang taat. Sama sekali tidak. Saya cuma kadang memutar lagu-lagunya. Biasanya antara tengah malam, atau dini hari. Sesekali saja, tidak terlalu sering.

Bahkan, sejujurnya saya masih sering ketukar namanya dengan Nick Cave, musisi lain yang juga hampir seirama murungnya. Maafkan atas keteledoran yang memalukan ini.

Nick Drake
Nick Drake

Waktu terus berjalan. Semuanya berjalan normal dan biasa-biasa saja. Sampai kemudian muncul kabar kalau bakal terbit buku tentang riwayat Nick Drake dalam bahasa Indonesia. Buku berjudul Nick Drake: Sebuah Biografi itu diterbitkan oleh Yayasan Jungkir Balik Pustaka Indonesia. Naskah panjang karya jurnalis musik asal Inggris, Patrick Humphries, itu diterjemahkan oleh Muhammad Al Mukhlisiddin. Sesaat setelah terbit, buku setebal 426 halaman itu langsung melakoni tur dan sesi diskusi ke berbagai kota di Indonesia.

Secara garis besar, riwayat hidup Nick Drake sebenarnya cukup singkat. Pemuda ini cuma sempat bernapas selama 26 tahun 5 bulan. Karir musiknya pun tidak lebih dari 5 tahun. Kisah hidupnya yang seperti dongeng dan penuh mitos itu sudah banyak diangkat dalam berbagai artikel di internet. Melalui riset panjang dan wawancara dengan orang-orang terdekat, Patrick Humphries memang berupaya mendemistifikasi sosok Nick Drake menjadi lebih wajar dan manusiawi.

Pengajar sastra di Malang, Wawan Eko Yulianto, mengulas buku itu dalam blog-nya, “…dengan menyusun biografi ini, Humphries mencoba mengembalikan seorang musisi yang mati muda karena overdosis menjadi seorang manusia yang pernah hidup. Dan lazimnya manusia, masing-masing memiliki kompleksitasnya yang tidak akan habis dibahas dalam sebuah artikel di majalah musik atau di kanal online”.

“…Ia [Patrick Humphries] menyibak kabut glorifikasi yang terlalu tebal dengan turun ke lapangan untuk memperjernih sisi dramatis antara kegagalan karier dan heroisme musik Nick Drake,” tulis Soni Triantoro dalam resensinya yang bernas di situs Warning Magz.

Setelah membaca buku Patrick Humphries, sebagian sisi kehidupan Nick Drake memang mulai terungkap. Sisanya, masih ada yang terus dipertanyakan dan tetap menjadi misteri. Wajar, bukankah seperti itu rock n’ roll biasanya berjalan?!

Nick Drake di Indonesia

Hanya saja, tiba-tiba ada satu pertanyaan besar yang terus mengganjal di kepala saya: Kapan dan bagaimana Nick Drake pertama kali masuk ke Indonesia?

Itu menjadi sebuah pertanyaan besar, dan mungkin perlu jawaban yang tepat. Cara pertama yang paling sederhana, setidaknya, adalah lebih dulu mencari tahu apakah album-album Nick Drake pernah dirilis di Indonesia?

Wah, ketoke ora ono, Bung. Di luar radar, sepertinya…” balas Budi Warsito melalui WhatsApp ketika saya tanya apakah kaset Nick Drake pernah beredar di Indonesia. Siapa tahu sempat ada, mengingat katalog kaset rekaman lawas—yang berlabel Yess biasanya—kerap menerbitkan album-album musik yang ajaib dan tidak begitu dikenal.

“Seingatku tidak ada. Mereka [label rekaman] sebetulnya sangat tergantung pada pasokan piringan hitam dari kalangan tertentu yang mampu membelinya, dan sepertinya plat-plat Nick Drake tidak termasuk di situ,” sambung Budi Warsito kemudian.

Setahu saya, Budi Warsito boleh disebut salah satu penyimak musik Nick Drake yang taat dan istiqomah. Dengan latar belakangnya sebagai kolektor musik dan pengarsip di Kineruku (Bandung), saya berharap mendapatkan informasi ‘domestik’ soal keberadaan Nick Drake.

“[Album] Nick Drake belum pernah dirilis di Indonesia,” tegas manajer Efek Rumah Kaca dan penggiat kancah musik independen, Dimas Ario suatu kali kepada Vice Indonesia. “Gue juga dulu beli CD-nya dia pas gue di luar [negeri]…”

Saya pun sempat menanyakan hal yang serupa pada teman-teman di lingkungan sekitar—mulai penggemar folk, kolektor rekaman, sampai pedagang kaset bekas. Ternyata sama saja, mereka semua mengaku tidak pernah menemukan wujud rekamannya dan baru mengenal musik Nick Drake dari internet.

Oke, selama tidak ada bukti nyata, anggap saja album Nick Drake memang tidak pernah dirilis resmi di Indonesia.

Lantas, masa sih majalah-majalah musik lawas seperti Aktuil atau Vista tidak pernah menulis atau setidaknya menyebutkan nama Nick Drake dalam artikel-artikelnya?

“Mereka juga bergantung pada majalah-majalah musik luar ketika itu. Tapi aku rasa bahkan Nick Drake pun masih di luar radar para redaktur bule,” jelas Budi Warsito. “Bahkan di bukunya Patrick Humphries konon cuma ada satu wartawan yang pernah mewawancarai Nick Drake.”

Saya lalu menyodorkan satu pertanyaan pokok kepada Budi Warsito: “Terus siapa ya, yang pertama kali ‘membawa’ Nick Drake ke Indonesia?”

“Kamu bisa tanya ke kawan-kawan penerbit Jungkir Balik, [tentang] bagaimana Bang Anton, pustakawan senior dari Batu Api di Jatinangor, sudah pernah membaca artikel soal Nick Drake dari dekade ’80-an, dan baru pada dekade ’90-an dia berhasil mengakses lagu-lagunya,” jelasnya kemudian. “Rasanya memang internet ya. Tapi artinya, dokumen tercetak soal Nick Drake sudah ada dan sampai ke Indonesia. Entah apa yang dibaca Bang Anton saat itu; apakah buku atau majalah, yang mungkin dia temukan di lembaga-lembaga kebudayaan asing di Bandung…”

Saya lalu mengkonfirmasi hal tersebut kepada Kelana Wisnu, dari penerbit Jungkir Balik. Menurutnya memang benar, Bang Anton merupakan salah satu sumber informasi dalam proses penerbitan buku biografi Nick Drake. Kelana juga mengungkapkan kalau sang penerjemah, Muhammad Al Mukhlisiddin, juga termasuk penggemar sastra yang sudah lama doyan mendengarkan musik Nick Drake.

Jika menengok sedikit ke belakang, sebenarnya ada beberapa nama yang ternyata pernah menulis soal Nick Drake, baik tentang kisah hidupnya atau ulasan (album) musiknya.

“Saya juga termasuk fans baru dari Nick Drake. Semakin saya mengikuti perjalanan musikalnya, semakin saya dibuat kagum oleh musik yang ia buat,” menurut Dimas Ario yang sudah pernah menulis tentang Nick Drake pada laman Multiply-nya, di tahun 2006. “Saya mengaguminya sebagai seorang singer/songwriter yang jenius. Selain melodi yang kuat dan lirik puitisnya, permainan gitarnya juga di atas rata-rata. Dengan tunning gitar yang tidak biasa—yang dia ciptakan sendiri—serta teknik petikan yang unik, membuat musiknya sulit untuk dimainkan dengan sama persis”.

“Saya menyebut Nick Drake sebagai ‘Paduka Pemurung’. Komposisi yang ditulis dan dinyanyikannya menyiratkan kemurungan, kegundahan. Drake tampaknya suka bercumbu dengan simptom-simptom depresif. Lewat album Bryter Layter yang dirilis di tahun 1970, pemusik yang bernama komplit Nicholas Rodney Drake ini masih setia menebar aura kemurungan,” tulis wartawan musik senior, (alm) Denny Sakrie, pada blog-nya di tahun 2011.

Karir musik Nick Drake memang seperti dijalani seenaknya saja. Dia tampak terobsesi untuk menjadi musisi (dan berharap bisa terkenal), namun cukup malas untuk menjalani aktifitas pers, tur dan promosi.

Nick Drake Sebuah Biografi
Nick Drake Sebuah Biografi

Jika membaca riwayatnya, Nick Drake sebenarnya lahir dari keluarga mapan, bahagia dan baik-baik saja. “Kalau di zaman sekarang, dia bisa dibilang termasuk golongan kelas menengah ngehek!” pungkas Kelana yang sempat mengaku kalau di masa remajanya pernah diselimuti rasa depresi dan hidupnya justru ‘diselamatkan’ oleh Nick Drake. “Ya, dia mungkin se-hipster-hipster-nya musisi di zaman itu”.

Jadi agak wajar kalau di eranya saja nama Nick Drake tidak terpantau oleh radar industri maupun media. Sekalipun sebenarnya ia telah berada di tangan produser yang tepat dan label rekaman yang cukup sempurna. Siapa yang berani meragukan kapasitas Joe Boyd dan Island Records dalam meroketkan nama artis-artisnya?!

Selepas mangkat di tahun 1974, Nick Drake disebut-sebut memiliki cult fans yang meskipun sedikit namun loyal. Karyanya juga dipuja oleh musisi-musisi populer—sebut saja Paul Weller, Tom Verlaine (Television), Robert Smith (The Cure), atau Peter Buck (REM). Konon, mereka juga yang ikut mengenalkan sosok Nick Drake kepada para penggemarnya. Industri dan media pun mulai mengendus jejaknya. Penasaran.

Sekitar tahun 1999, nama Nick Drake mulai muncul ke permukaan ketika iklan Volkswagen memakai salah satu lagunya, “Pink moon”. Situs The Atlantic pernah menulis kolom yang apik tentang bagaimana internet dan iklan Volkswagen mengantarkan Nick Drake menjadi bintang.

Di waktu yang bersamaan, karya musik Nick Drake mulai direspon Billboard serta media-media musik lainnya. Napster pun memliki katalog lagu-lagunya dan bisa diakses gratis secara online. Hampir semua karya rekamannya mulai dicatat dalam beragam senarai album terbaik di berbagai media musik. Saat itu, dunia seperti sedang menemukan (atau menyadari?) adanya harta karun musikal yang telah terpendam sekian lama.

Memasuki era 2000-an, budaya populer semakin gencar merespon karya Nick Drake. Lagu-lagunya mulai mengisi soundtrack film-film arus utama seperti Royal Tenenbaums, Serendipity, atau Garden State. Sejumlah musisi pun ikut menggubah dan membawakan ulang lagu-lagunya. Salah satu yang paling terkenal mungkin adalah Norah Jones yang pernah mengkover “Day is Done”.

Kembali ke Indonesia, Nick Drake masih agak sulit ditelusuri bagaimana riwayatnya. Contohnya saja: siapa musisi lawas Indonesia yang terpengaruh atau setidaknya mengaku doyan mendengarkan Nick Drake? Sepertinya kita belum pernah mendengar kabar kalau Ebiet G. Ade, Franky Sahilatua atau Remy Sylado pernah menyukai Nick Drake. Sejauh ini kayaknya belum ada data dan dokumen yang bisa mengkonfirmasi hal tersebut.

Ya, pasti beda ceritanya kalau ini soal Bob Dylan, Leonard Cohen, Tom Waits atau Cat Stevens, misalnya. Apalagi, seperti yang diulas di awal, memang ternyata tidak pernah ada rilisan resmi atau ekspos media terhadap Nick Drake di Indonesia.

Nick dalam Sastra

Namun kondisinya tentu berbeda jika membicarakan Nick Drake di zaman sekarang. Saat ini kita bisa menduga kalau para pemusik folk era 2000-an seperti Adrian Adioetomo, Adhitia Sofyan, Bin Idris, Oscar Lolang, Deugalih, Silampukau, atau Bangkutaman sepertinya kenal dan suka mendengarkan Nick Drake. Bahkan mungkin terinspirasi, secara musikal maupun lirikal.

Ya, dengan mudah kita bisa menemukan penampilan Oscar Lolang saat mengkover “Pink Moon” di YouTube. Deugalih alias Galih Su bahkan sempat mengupas sisi gelap musisi kelahiran Rangoon (Burma) itu dalam esainya yang menggugah berjudul Nick Drake: Keajaiban Upacara Pemakaman pada situs Whiteboard Journal.

Nick Drake Tur Indonesia
Nick Drake Tur Indonesia

Pada sela diskusi buku biografi Nick Drake di Malang, Kelana sempat memberikan pernyataan yang menarik, “Pola lirik Silampukau itu ada kemiripan dengan Nick Drake. Kalau diperhatikan, liriknya Kharis itu mengikuti gaya sastra Perancis”.

Kelana lalu mencontohkan dengan puisi “La Beaute” karya Charles Baudelaire. “Di situ dia pakai bentuk puisi Sonet, dengan pola baris 4-4-3-3. Dengan hitungan silabel (suku kata) yang antar baris jumlahnya hampir sama. Jadi semisal diucapkan akan enak, karena irama puisinya pas seperti not dalam birama. Silampukau kan hampir kayak gitu, walaupun gakajeg dengan pola sonet,” jelasnya sembari membandingkan dengan lirik Silampukau di lagu “Doa 1”.

“Itu tadi salah satu bentuk puisi yang punya karakter yang mirip dengan gaya penulisan lagu-lagu puitik,” tambah Kelana yang menganggap metode itu kerap dilakoni oleh kebanyakan penulis lirik yang doyan sastra—termasuk Nick Drake atau Kharis Junandharu—dengan rujukan pada karya Baudelaire atau Rimbaud, misalnya. “Cuman untuk membahasakannya juga gak bisa disebut sonet, karena Nick atau Baudelaire masuknya ke puisi modern. Pembahasaan yang agak sesuai mungkin ‘rima yang ketat’”.

Menurut pengamatan mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Padjajaran itu, lirik-lirik Nick Drake memang sudah sering diangkat sebagai bahan kajian dan penelitian mahasiswa sastra. Suatu hal yang wajar mengingat Nick Drake dikenal getol baca buku, serta liriknya yang sarat akan nuansa puisi dan sajak. Memang terlihat cukup ‘sastrawi’ jika kita mengamati selera bacaan Nick Drake yang berkisar pada William Blake, Ernest Hemingway, atau Albert Camus.

Penemuan menarik lainnya juga terjadi di ranah sastra dan literasi. Konon Sabda Armandio merupakan satu-satunya penulis yang pernah memasukkan nama/lagu Nick Drake ke dalam karyanya, Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya (2015). Ya, dia juga patut diduga sebagai penggemar Nick Drake yang tekun dan serius.

Mengamati keberadaannya yang mulai dikenal dan populer sejak era 2000-an, sepertinya memang internet yang mengenalkan Nick Drake kepada dunia, hingga sampai ke Indonesia. Namanya sudah menjadi ‘domain’ anak muda yang tumbuh pada zaman internet.

Kembali ke pertanyaan besar di awal; lalu kapan dan bagaimana tepatnya Nick Drake pertama kali ‘masuk’ ke Indonesia?!

Sepertinya mencari jejak kedatangan Nick Drake di Indonesia sebelum era internet adalah sebuah keniscayaan. Semacam penelusuran yang sulit, bahkan nyaris sia-sia. Memang tidak semua pertanyaan itu perlu dijawab. Kadang membiarkannya tetap menjadi misteri itu mungkin lebih baik.

Pencarian jejak ini dinyatakan gagal. Tapi toh tidak masalah.

Samack

Penulis lepas yang suka ngopi, membaca buku dan mendengarkan musik. Tinggal di Malang.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405