Menanti Mie Goreng Rasa Iga Babi Bakar Munduk

Seporsi Iga Babi Bakar dengan Wine
Seporsi Iga Babi Bakar dengan Wine | © Aditia Purnomo

Perjalanan ke Munduk adalah salah satu pengalaman kuliner terbaik yang pernah saya dapatkan. Sepanjang dua pekan berada di desa ini, beragam makanan enak telah saya santap. Mulai dari Bubur Tepeng sampai Nasi Ayam Campur telah mengubah persepsi saya tentang makanan. Pisang ketip yang dipotong kecil dan ditabur adonan tepung tebal saja enaknya bukan main. Meski ya, tetap saja Indomie goreng adalah santapan paling lezat di dunia.

Makanan-makanan enak, serta pemandangan alam yang luar biasa itu, walhasil membuat keinginan untuk menetap di desa ini muncul di kepala. Hanya saja tanggung jawab yang diamanatkan rakyat untuk memimpin revolusi sebuah lembaga memaksa saya untuk kembali ke Ibukota. Memaksa saya untuk meninggalkan desa asri nan sejuk menuju kota yang bising dan penuh kemacetan.

Namanya tanggung jawab, tentu saja harus saya penuhi. Apalagi ada banyak hal dan pekerjaan yang harus segera saya tuntaskan. Meninggalkan desa ini memang menyedihkan, tapi ya harus saya hadapi. Minimal sebelum berpisah saya mau merasakan sesuatu yang istimewa. Sesuatu yang sudah saya inginkan sejak malam pertama di desa ini, tapi belum boleh disantap sebelum saya melewati proses penyucian diri bersama aneka ragam makanan lain.

Dan kini, di malam terakhir saya di Munduk, saya jelas dilema karena dua hal sekaligus. Sedih harus balik ke kota, senang karena akhirnya saya bisa mencicipi makanan legendaris ini. Tapi dilema itu kemudian hilang setelah satu porsi makanan lengkap dengan minuman tersaji di hadapan saya. Bau saus terpanggang bersama daging yang membuyarkan perasaan galau saya malam itu.

Iga Babi dalam proses pemanggangan
Iga Babi dalam proses pemanggangan | © Aditia Purnomo

Satu potong iga babi bakar telah siap disantap. Lengkap bersama potongan kentang dan sayuran, serta sebotol wine beserta gelas sebagai penambah nikmatnya malam.

Penginapan tempat saya bermukim memang terkenal akan kelezatan iga babi bakarnya. Bukan cuma lezat, saya kira. Tapi juga legendaris. Berdasar cerita beberapa orang yang tinggal di sini, iga babi ini adalah sajian spesial yang bahkan Bupati Buleleng selalu mampir jika ingin menyantap iga babi.

Ketika tersaji di hadapan saya, rasa kagetlah yang hadir pertama kali. Porsinya besar banget buat ukuran saya. Maklum, jarang-jarang saya makan babi. Kalaupun makan paling cuma potongan kecil. Lah ini, sampai 5 ruas iganya. Rasa pesimis kemudian hadir. Babi, saya nggak bakal bisa ngabisin ini babi. Tapi ya itu, jangan kebanyakan pakai perasaan.

Dalam urusan makanan lidah memang enggak bisa bohong. Potongan daging pertama yang saya santap membuat semua perasaan itu hilang. Hanya ada keinginan untuk menyantapnya perlahan, menikmati iga babi ini dengan amat seksama.

Hal pertama yang membuat iga ini enak tentu saja karena dibuat dengan daging babi. Rasa dan tekstur babi memang selalu menyenangkan. Beda dengan sapi atau kambing yang kadang alot, daging babi lebih kenyal dan lembut. Agak mirip sama daging paha atas ayam, cuma ya ini porsinya lebih banyak.

Yang membuat iga babi ini beda dan menjadi amat lezat adalah saus pedas manis yang meresap sampai dagingnya. Sausnya membuat rasa daging jadi meriah. Tekstur menyenangkan yang saya katakan tadi ditambah dengan saus terbaik yang pernah saya santap di dunia ini.

Segala kenikmatan yang saya dapat di malam terakhir ini tentu berasal dari seorang juru masak bernama Bli Ono. Dialah orang yang setiap hari memasakkan saya makanan enak selama di Munduk. Dan iga babi inilah makanan terbaik yang dia masakkan untuk saya.

Dari cerita Bli Ono, iga babi ini adalah menu andalan dari Don Biyu. Saking andalnya menu ini, orang-orang menyebut kalau iga babi dari penginapan ini adalah yang terbaik di dunia. Setelah iga babi Don Biyu ini mulai dikenal banyak orang, mulai banyak restoran di Munduk yang ikut-ikutan menjual makanan ini.

Mungkin restoran lain bisa meniru Don Biyu membuat iga babi. Tapi mereka salah jika merasa bisa membuat yang seenak buatan Bli Ono. Mereka tidak tahu kalau rahasia kelezatan iga babi ini terletak pada saus spesial yang tak bakal bisa mereka saingi.

Memang saus dari penginapan ini adalah yang terbaik. Beberapa waktu lalu saya sudah mencoba saus madu yang diracik bersama sayap ayam. Rasanya terbaik. Belum pernah saya memakan chicken wings dengan porsi besar dan saus super lezat.

Dan malam ini, saus pedas manis super lezat membaur dengan iga dari daging hewan paling enak di muka bumi. Memang, yang enak itu banyak yang diharamkan. Tapi sensasi rasa seperti ini harus saya rasakan, setidaknya beberapa kali dalam hidup saya. Jangan sampai rasa takut mengalahkan rasa penasaran, begitu kata seorang teman yang selalu saya ingat. Dan malam ini rasa penasaran saya terbalas dengan kepuasan menyantap satu porsi iga babi terbaik di dunia.

Akhirnya malam perpisahan saya berakhir bahagia. Makanan enak sudah habis disantap. Sebuah momen hebat untuk pengalaman kuliner yang pernah saya dapatkan. Meski ya, menurut saya, Indomie goreng tetaplah makanan paling enak di dunia. Mungkin nanti Indomie bisa mengeluarkan mi goreng rasa iga babi bakar. Semoga saja.

Aditia Purnomo

Mahasiswa tingkat akhir yang tak kunjung lulus.