Menanam Kopi di Lahan Perhutani

Desa Sidomulyo resmi berdiri sejak tahun 1994. Sebelumnya wilayah Desa Sidomulyo menjadi bagian dari Desa Garahan di Kecamatan Silo. Berada pada ketinggian 550 hingga 700 meter di atas permukaan laut, desa dengan luas mendekati 5.000 hektare ini setengah wilayahnya merupakan perbukitan dan sisanya dataran.

Berada tepat di tepi jalan antarkabupaten yang menghubungkan Kabupaten Jember dengan Kabupaten Banyuwangi, Desa Sidomulyo relatif mudah diakses. Gapura bertuliskan “Selamat Datang di Desa Sidomulyo” menyambut kami saat berbelok meninggalkan jalan antarkabupaten menuju jalan desa. Jalan yang sebelumnya beraspal mulus di jalan antarkabupaten tiba-tiba berubah saat kami masuk jalan desa. Aspal sudah rusak, berlubang di banyak tempat, batu-batu yang berserak di jalan menyebabkan kami harus lebih berhati-hati.

Saat menuju pasar yang berada di ujung jalan utama, beberapa kali kami berpapasan dengan pengendara yang membawa karung berisi biji kopi. Pasar sepi saat kami tiba. Di halaman rumah, masyarakat menjemur biji kopi yang baru mereka panen. Musim panen kopi baru dimulai di Desa Sidomulyo. Tujuan pertama kami di Desa Sidomulyo mengunjungi Koperasi Ketakasi, letaknya persis di sudut pasar.

Pak Sunari mengajak Tim Ekspedisi Kopi Miko berkeliling melihat unit produksi dan kebun kopi di Desa Sidomulyo
Pak Sunari mengajak Tim Ekspedisi Kopi Miko berkeliling melihat unit produksi dan kebun kopi di Desa Sidomulyo | © Fawaz

Mayoritas penduduk Desa Sidomulyo berprofesi sebagai petani. Selain kopi, masyarakat menanam avokad, pisang, petai, talas, jahe merah, cabai dan durian. Lalu ada juga tanaman kayu produksi seperti mahoni dan sengon. Di sela kesibukan bertani, masyarakat memelihara hewan ternak sebagai usaha pendukung.

Masyarakat Desa Sidomulyo terdiri dari etnis Jawa dan Madura. Dalam pergaulan sehari-hari, dua bahasa inilah yang digunakan. Hampir seluruh masyarakat menguasai dua bahasa ini sama baiknya. Jadi jangan heran jika berkunjung ke Desa Sidomulyo masyarakat mencampur bahasa Jawa dan Madura dalam percakapan mereka.

Saat ini, pemerintah bersama masyarakat sedang menata Desa Sidomulyo untuk dijadikan Desa Agrowisata Kopi. Keberhasilan kopi robusta Sidomulyo menembus pasar kopi nasional dijadikan nilai jual membangun desa agrowisata. Meskipun belum maksimal membangun desa agrowisata, Desa Sidomulyo mulai banyak dikunjungi tamu. Ada yang datang untuk berwisata, membeli kopi langsung dari petani, dan melakukan penelitian kopi.

Namun, tidak semua perkebunan kopi yang diusahakan oleh rakyat di Desa Sidomulyo ditanam di lahan milik rakyat. Hanya 250 hektare kebun kopi yang berada di lahan milik petani, sedangkan lebih dari 1.000 hektar kebun kopi yang dikelola petani kopi berada di lahan milik Perhutani. Kebun kopi itu ditanam di hutan produksi yang berada di lereng Gunung Gumitir.

Para pekerja di Unit Pengelolaan Kopi Koperasi Ketakasi sedang mengumpulkan biji kopi dan melindunginya dengan terpal sebelum hujan
Para pekerja di Unit Pengelolaan Kopi Koperasi Ketakasi sedang mengumpulkan biji kopi dan melindunginya dengan terpal sebelum hujan | © Fawaz
Kumpulkan-kumpulkan dan tutup sebelum hujan turun
Kumpulkan-kumpulkan dan tutup sebelum hujan turun | © Fawaz

Petani kopi di Desa Sidomulyo bisa memanfaatkan lahan milik Perhutani atas izin yang dikeluarkan pemilik lahan. Suwarno mengatakan, selama lahan yang ditanami pohon kopi masuk kategori hutan produksi, izin cukup mudah didapat. Seringkali masyarakat menanam kopi terlebih dahulu baru mengurus perizinan. Namun jika sudah masuk wilayah hutan lindung, haram hukumnya menanam kopi di sana. Jangan harap izin keluar. Jika memaksa tetap menanam, pelakunya akan langsung dilaporkan ke kantor polisi.

Pada musim panen tahun 2015, rata-rata panen kopi di Desa Sidomulyo sebanyak 1 ton per hektar. Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata produksi kopi nasional yang berada pada angka 0,55 ton per hektar. Untuk petani kopi yang menanam kopi di lahan milik perhutani, mereka harus membayar biaya penggunaan lahan yang biasa disebut ‘cukai’ dalam bentuk buah kopi. Jumlahnya tidak pasti, tergantung hasil panen yang didapat. Semakin banyak buah kopi yang dipanen, semakin banyak pula cukainya. Sunardi (41 tahun), salah seorang petani kopi di Desa Sidomulyo yang menanam kopi di lahan milik Perhutani menyebutkan, tahun lalu saat panen kopi sedang bagus, ia membayar cukai kepada perhutani dengan menyerahkan 10% dari 2 ton kopi yang ia panen. Petani lainnya yang hasil panennya sebanyak 1 ton, menyisihkan 50 kilogram untuk cukai.

Dengan kondisi seperti ini, tentu saja para petani kopi di Desa Sidomulyo lebih banyak menanam kopi di lahan milik Perhutani dibanding di lahan milik mereka sendiri. Karena menanam kopi di lahan milik perhutani jauh lebih murah dibanding harus membeli lahan. Mereka tidak mengeluarkan biaya sama sekali untuk pengadaan lahan, cukup membayar cukai sesuai kesepakatan dengan pihak Perhutani.

Namun pola tanam semacam ini juga berpotensi menghancurkan ketahanan ekonomi para petani, lebih lagi petani yang hanya memiliki kebun di lahan milik Perhutani. Jika suatu saat hutan produksi milik Perhutani yang ditanami kopi oleh para petani fungsinya diubah, kebun-kebun mereka terancam dibabat habis. Bukan tidak mungkin fungsi hutan produksi diubah menjadi hutan lindung, lahan yang sebelumnya ditanami kopi dihutankan kembali. Atau hutan produksi Perhutani diubah menjadi wilayah pertambangan, disewakan kepada pihak swasta, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Sudah menjadi rahasia umum jika kebijakan yang diambil pemegang kuasa di negeri ini kerap berubah-ubah. Ganti presiden dan kabinetnya, ganti pula kebijakan yang mereka ambil. Kondisi seperti ini tak menutup kemungkinan bisa terjadi pada peraturan yang dikeluarkan Kementerian Kehutanan. Ganti menteri ganti kebijakan. Masyarakat banyak yang menjadi korban.

Saat kopi robusta Sidomulyo kian hari kian dikenal dan diterima masyarakat pencinta kopi di negeri ini, bisa saja semua itu hancur berantakan karena arah kebijakan yang diambil pemerintah berubah haluan. Sekali lagi, kondisi ini bukan tidak mungkin terjadi. Untuk sekadar kembali mengingatkan, kebiasaan pemerintah kita itu, berganti penguasanya berganti pula kebijakannya.

Ekspedisi Kopi Miko

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba