Mempopulerkan (kembali) Lagu-lagu Anak

Fajar baru saja menyingsing dan menunjukkan gelagat sosoknya yang terik. Pukul 6.15 pagi itu, anak-anak mulai berduyun-duyun satu persatu memasuki halaman sekolah. Hari itu pihak sekolah menghimbau anak-anak agar tidak lekas pulang. Mereka tidak hanya belajar, namun seraya mengikuti acara seru dari sebuah perusahaan obat batuk ternama yang diadakan di sekolah.

Saya turut andil menjadi bagian dari panitia acara yang diadakan di salah satu SD negeri di Jakarta Utara itu. Mereka akan mengikuti berbagai macam perlombaan edukatif, antara lain menempel kolase dari biji-bijian, menyusun mading serta menulis cerpen seputar kesehatan.

Tampak raut keceriaan dan antusias anak-anak mengikuti rangkaian acara pada pagi itu. Keingintahuan yang polos akan hal baru masih menggelora berapi-api dalam diri mereka. Senyuman yang tersungging pada anak-anak itu menunjukkan ketulusan. Masa anak-anak memang masa yang amat menyenangkan.

Untuk anak-anak yang masih duduk di kelas 1 dan 2 SD, mereka berlomba-lomba menempel berbagai biji-bijian pada sebuah kertas. Biji-bijian itu lebih dulu dipersiapkan para orang tua mereka sebelum berangkat ke sekolah. Ada yang memakai biji kacang ijo, beras putih, beras ketan hitam, hingga biji jagung. Penilainnya bukan dari seberapa bagus dan unik biji yang ditempel, tapi dari kerapihan.

Saya melihat para peserta perlombaan mading. Anak-anak yang berkelompok membuat sebuah mading dengan tema tanaman herbal. Mereka bersenda gurau dengan teman kelompoknya. Kadang diselingi tawaan terpingkal-pingkal karena mendengar seloroh temannya. Saya tak lepas dari perhatian mereka. Mereka silih berganti menanyakan apakah karyanya bagus atau tidak dengan lugu. Ada juga seorang anak laki-laki yang saking aktifnya, ia berlarian ke sana kemari tak berjeda hingga diakhiri dengan tangisan melengking karena ia terjungkal karena pintu kelas.

Suasana kelas semakin gaduh karena riuh suara anak-anak yang menertawainya. Saya jadi terbayang apa yang dirasakan ibu atau bapak guru menghadapi anak-anak ini. Tebersit rasa lelah tiap meladeni dengan sabar polah polos si anak, ceroboh bahkan cenderung sembrono. Hihi..

Namun, rasa janggal tiba-tiba menyeruak menjelang bubaran sekolah. Salah satu kru panitia sengaja memutar lagu berjudul shape of you di telepon genggam yang didekatkan pada mic di koridor depan ruang guru. Alhasil, lagu itu menggaung ke seluruh penjuru sekolah. Raut wajah anak-anak yang hendak pulang saat mengambil tas ke kelas pun berubah. Mereka menjadi sumringah mendengar suara yang sepertinya tak asing di telinga mereka. mereka lalu serentak menyanyikan lagu itu secara seksama.

Saya tertegun. Mereka kemudian berteriak mendengar lagu selanjutnya. Lagu baru saja memasuki intro, anak-anak teriak histeris menunggu sang penyanyi dengan suara merdunya. Lagu berjudul Despacito dengan lirik bahasa Amerika latin yang sempat menjadi tren di seluruh belahan dunia ini dinyanyikan serempak.

Saya melihat keluguan dan kepolosan mereka lenyap tunggang langgang saat mereka menyanyikan lagu-lagu itu. Mereka mendadak romantis. Ini berita yang baik atau bukan. Entahlah.

Barangkali, kini tantangan yang kian dihadapi oleh anak-anak di era millenials semakin runyam. Anak-anak dihadapkan dengan beraneka ragam lagu yang tersebar di internet. Secara leluasa mereka dapat melihat artis kesukaannya berulang kali. Hampir sukar menemukan lagu anak-anak yang populer di tengah banjirnya lagu-lagu dewasa yang kian melejit.

Apakah ini sebuah kabar gembira? Entahlah.

Memang, belakangan penciptaan lagu anak-anak belum ada yang benar-benar merasuki dalam benak anak-anak seperti karya ibu Soed terdahulu. Lagu-lagu itu hanya lamat-lamat terdengar sesekali. Meski banyak sekali lagu anak-anak di internet, namun tanpa peran orang tua, anak bisa mengeksplor dirinya tanpa batas. Bahkan, boleh jadi lagu-lagu itu tidak tersentuh.

Pengawal tontonan anak ialah orang tua. Orang tua ikut berperan untuk mengawasi kebiasaan anak menggunakan komputer atau telepon genggam untuk berselancar. Apalagi, anak-anak SD kini banyak yang sudah aktif bermedsos. Untuk itu, orang tua dituntut tidak gagap teknologi karena akan tidak nyambung jika anaknya terlalu asik bermain internet. Kalau seorang ibu berkata, “Apa yang kamu mainkan nak, kok seru banget?” Lalu sang anak cuma berkata “nge-google, ah paling ibu ga ngerti”. Ibu-ibu yang hanya sibuk dengan persoalan dapur misalnya, tidak akan mengerti lagu-lagu dari karya Taylor Swift atau tren lain yang sedar populer di dunia maya. Begitulah percakapan saya saat berkesempatan ngobrol dengan seorang psikolog anak.

Saya teringat wawancara dengan artis kondang di masa Bung Karno, Oma Titiek Puspa. Kepada saya, ia merasa prihatin dengan lagu-lagu anak yang kian tergerus dengan arus derasnya dunia maya. Sudah tidak ada lagi lagu anak yang populer. “Ada banyak hal-hal yang jahat dan tega di atas kita, ini yang membuat masa anak-anak terdistraksi oleh pengaruh yang terlalu bebas. Saya sungguh prihatin sebenarnya,” ujarnya.

Satrio Sarwo Trengginas

Penikmat Kehidupan