Memperingati Tamasya dan Ajakan Mencintai Alam Raya

Sampai di Warung Ta Café selepas magrib, sepertinya saya datang terlalu awal untuk menyaksikan peringatan ulang tahun band Tamasya. Menjelang acara yang bertajuk “Sembilan tahun Tamasya Berdendang” itu, para panitia masih sibuk mempersiapkan ruangan. Beberapa orang sedang menata kursi-kursi sebagai panggung sederhana, beberapa yang lain terlihat sedang mempersiapkan lampu sorot panggung, sedangkan sisanya terlihat mempersiapkan meja dan beberapa alat sablon.

Saya mengenal Tamasya sejak awal kuliah di Jember. Lagu-lagu yang mereka ciptakan kebanyakan menceritakan tentang isu-isu lingkungan yang sedang hangat. Selain itu, setahu saya, beberapa personil Tamasya dulunya pernah mengikuti organisasi pencinta alam. Termasuk Mas Hakim atau lebih akrab disapa Mas Bro, pentolan band tersebut. Mas Bro adalah Alumni Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam Fakultas Sastra Universitas Jember.

Sekitar pukul 19.00 persiapan sudah selesai, WTC mulai dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menyaksikan Tamasya berdendang. Saya memesan kopi dan mencari tempat duduk yang strategis untuk menikmati acara tersebut. Acara dibuka oleh si empunya WTC, mas Achmad Bachtiar atau biasa dipanggil Mas Bebeh sebagai pembawa acara. Lalu dilanjutkan dengan penampilan IKL, saya lupa apa kepanjangan IKL karena saat disebutkan seorang kawan di samping mengajak saya ngobrol. Alunan musik country dimainkan oleh IKL dengan bersemangat, walaupun beberapa personilnya sepertinya sudah berumur.

Salah seorang personil IKL sedang memainkan ukulele
Salah seorang personil IKL sedang memainkan ukulele | © Dimas Feliawan
Ismamsaurus penyanyi solo asal Lumajang juga ikut tampil dalam acara 9 Tahun Tamasya Berdendang
Ismamsaurus penyanyi solo asal Lumajang juga ikut tampil dalam acara 9 Tahun Tamasya Berdendang | © Dimas Feliawan

Setelah memainkan lagu pertama, gitaris sekaligus vokalis IKL menceritakan sejarah terbentuknya kelompok musik tersebut. IKL seperti yang disampaikan oleh sang vokalis, dulunya adalah kumpulan pengamen jalanan yang sering ngamen di Stasiun Jember. Sekarang mereka sudah tidak ngamen lagi. Kini mereka lebih sering mengisi acara-acara musik di Jember.

Lagu selanjutnya dimainkan oleh IKL, masih dengan genre country yang membuat para penonton bergoyang. Sayangnya saya tidak tahu lagu siapa yang dibawakan, mungkin saya terlalu muda untuk mengetahui lagi siapa yang mereka nyanyikan. Tapi tetap saja kepala saya tak bisa berhenti bergoyang. Penampilan IKL berakhir, begitu juga dengan goyangan kepala saya juga.

Konsentrasi saya sempat buyar ketika seorang perempuan duduk di depan saya. Melihatnya dari dekat, membuat saya gagal fokus untuk menikmati musik. Dan sialnya, rindu yang melanda beberapa hari ini semakin menjadi dengan keberadaannya. Ya, wanita itu adalah mantan saya. Oke, mari cukupkan perkara cerita rindu dan mantan ini.

Selanjutnya ada Ismamsaurus yang menguasai panggung dengan instumen harmonika dan gitar. Ismam adalah penyanyi solo asal Lumajang yang lagunya juga tidak jauh dari isu lingkungan. Selain itu beberapa waktu yang lalu Ismam juga mengadakan konser musik kecil di salah satu Tempat Pembuangan Sementara di Lumajang dengan misi mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Sembari mencuri-curi pandang ke arah mantan, saya menikmati lagu-lagu yang dilantunkan oleh Ismam. Saya teringat Eddie Vedder ketika mendengarkan petikan gitar dan tiupan harmonika Ismam. Beberapa nada lagunya seperti ada kemiripan dengan lagu Society milik Vedder. Hampir semua lagu yang dibawakan Ismam malam itu bercerita tentang kerusakan alam dan ajakan untuk lebih mencintai alam.

Begitu Ismamsaurus selesai membawakan lagu-lagunya, giliran Mas Bebeh sebagai pembawa acara masuk ke panggung. Kali ini Mas Bebeh ditemani oleh Mas Adit sebagai pembawa acara. Keduanya menyampaikan akan ada lelang lukisan yang hasilnya akan disumbangkan ke Sekolah Kaki Gunung di Sumber Candik, Jember. Lukisan diperlihatkan pada penonton dan nanti akan di lelang di akhir acara. Selain itu ada juga Sablon On The Spot dari Skull Garage di acara tersebut.

Mas Bro dan Mas Adit sedang menunjukkan lukisan yang akan dilelang
Mas Bro dan Mas Adit sedang menunjukkan lukisan yang akan dilelang | © Cak Ratt

Acara puncak pun dimulai. Tamasya sedang bersiap untuk tampil. WTC dipenuhi banyak orang sampai ada yang rela berdiri dan lesehan karena tidak kebagian tempat duduk. Mas Bro menyampaikan terima kasih kepada para penonton. Dia juga mengatakan bahwa hari itu juga sedang terjadi banjir lumpur yang kedua kalinya di daerah Pulau Merah Banyuwangi. Sebelumnya memang sudah terjadi banjir lumpur di kawasan tersebut yang dicurigai diakibatkan oleh aktivitas tambang di gunung Tumpang Pitu. Sebelum mengawali penampilannya, Mas Bro mewakili Tamasya mengajak para penonton untuk mendoakan agar kejadian banjir lumpur tersebut segera berakhir.

Tamasya pun memulai penampilannya, para penonton ikut bernyanyi bersama. Saya tidak hafal judul lagu pertama yang dibawakan oleh Tamasya, tapi saya hafal liriknya dan ikut bernyanyi bersama. Tapi ketika Tamasya membawakan lagunya yang berjudul Insureksi saya merasakan ada energi lebih yang muncul. Insureksi menceritakan tentang proyek pertambangan yang menyebabkan kerusakan alam, lebih khususnya yang berdekatan dengan Jember, yaitu di Tumpang Pitu, Banyuwangi.

“Sampai kapan kau akan bodohi kami bangsamu sendiri
Jangan kau hancurkan hutanku lagi
Alam ini bukan milikmu saja”

Mas Bro, Vokalis Tamasya mengajak penonton bernyanyi bersama
Mas Bro, Vokalis Tamasya mengajak penonton bernyanyi bersama | © Zuhanna
Oonk, Alex dan Mungki. Para personil tamasya sedang asik bersenda gurau di jeda permainan
Oonk, Alex dan Mungki. Para personil tamasya sedang asik bersenda gurau di jeda permainan | © Dimas Feliawan

Selesai membawakan Insureksi, Mas Bro kembali berinteraksi dengan para penonton. Dia mengatakan, mengawal isu pertambangan tidak cukup hanya dari lagu saja. Karenanya, Mas Bro mengajak para penonton untuk berjuang melawan tambang agar tidak merusak alam. “Kami butuh teman untuk berjuang, mari kita berjuang bersama,” ungkap Mas Bro.

Malam semakin larut, WTC yang tidak terlalu besar tidak menjadi halangan untuk para penonton menikmati penampilan Tamasya malam itu. Tamasya juga mengajak beberapa orang untuk berduet dengannya, ada Mas Noveri yang dulunya pernah menjadi drummer Tamasya, ada Juga Maltha salah satu musisi muda di Jember.

Tamasya Featuring Noveri menyanyikan lagu Perculum In Mora
Tamasya Featuring Noveri menyanyikan lagu Perculum In Mora | © Dimas Feliawan
Tamasya Featuring Maltha menyanyikan lagu Lestari
Tamasya Featuring Maltha menyanyikan lagu Lestari | © Zuhanna

Lagu-lagu yang mengajak untuk merawat dan mencintai alam terus dinyanyikan oleh Tamasya. Mulai dari Hutan-Hutanku, Perculum In Mora, serta Lestari. Para penonton masih bersemangat menyanyi bersama. Lagu Untukmu dari Album Save The Tree #3 dinyanyikan sebagai lagu terakhir dalam penampilannya malam itu. Tepuk tangan meriah menutup penampilan Tamasya. Mas Bro dan para personil Tamasya yang lain pun berbaur dengan para penonton.

Acara malam itu pun ditutup dengan lelang lukisan yang terjual dengan harga Rp. 150.000. Serta ajakan dari kedua pembawa acara untuk tetap merawat dan mencintai alam. Sekali lagi para penonton bertepuk tangan dan meneriakkan “Salam Lestari!”.

Mohammad Sadam Husaen

Salah satu pengelola siksakampus.com yang bercita-citanya menjadi pokemon trainer.