Memburu Rezeki di Kampung Ramadan Malang

Gerbang masuk Kampung Ramadan Malang 2016
Gerbang masuk Kampung Ramadan Malang 2016 | © Indah Ciptaning Widi

Sore selepas bimbingan skripsi, aku dan dua kawanku duduk-duduk di gazebo gedung kuliah kami. Menamati sore yang juga tak sore-sore amat. Menunggu buka puasa pun juga masih lama. Waktu buka itu semakin ditunggu serasa semakin jelas saja lamanya. Rasanya ingin membunuh waktu dengan yang bermanfaat. Normalnya ya, mengaji atau itikaf di masjid, yah toh? Segala yang berhubungan dengan kedekatan pada Tuhan.

Tapi sebelum sempat mengajak dua kawanku yang sedikit berandal ini, tanpa babibu salah satunya mendadak menarikku dari duduk yang sudah terlanjur malas. “Ayo cari yang seger-seger”. Pikirku ia mengajak kami naik ke Batu. Ternyata salah duga. Ia malah merujuk pada keramaian maha dahsyat sore itu. Kampung Ramadan!

Kalau sudah memasuki Waktu Indonesia menjelang Buka (WIB) begini, pasti akan menemui aktivitas pasar dadakan yang menggempur di titik-titik kawasan. Tak terkecuali pada Kampung Ramadan yang bertempat di Jalan Soekarno Hatta, Malang.

Menurutku, Kampung Ramadan pada titik ini adalah yang paling ramai dan padat luar biasa. Gimana ndak, lah lapak yang berupa tenda-tenda itu digelar berjajar di separuh badan jalan. Jalan besar Soehat (Soekarno-Hatta) yang normalnya dua arah pada jalannya masing-masing, kini menjadi dua arah hanya pada salah satu sisinya saja.

Yah tapi ndak seharian juga sih lalu lintasnya seperti itu. Karena penyelenggaraan Kampung Ramadan yang diinisiasi para pemuda Lowokwaru yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Wisata Kuliner (PPWK) tersebut beroperasi pada pukul 14.00 sampai 18.00. Bisa dibayangkan padat dan macetnya seperti apa. Tapi toh orang-orang di sana tak ada protes. Rela menurunkan kecepatan motornya sambil pandangan matanya ngelewes kemana-mana. Sebab sebagian besar para pedagangnya adalah mahasiswa.

Oh pantas! Itu yang disebut “seger-seger” oleh kawanku tadi.

Suasana para penjual serta pengunjung yang padat dan ramai
Suasana para penjual serta pengunjung yang padat dan ramai | © Indah Ciptaning Widi
Jajanan gorengan yang menggoda iman
Jajanan gorengan yang menggoda iman | © Indah Ciptaning Widi

Tapi untukku pribadi, keramaian maha sesak itu memang pantas. Karena bulan Ramadan adalah bulan yang istimewa dan membawa berkah. Khususnya untuk kawanku itu. Yang sedari kami memasuki pintu gerbang sampai di ujung jalan hampir habis, ia hanya berjalan-jalan saja, tengok kanan tengok kiri. Tak satupun makanan, minuman atau jajanan yang ia beli.

Tak kuat hanya mengekor padanya dan melihat yang “seger-seger” saja, aku pun mulai serius melongok satu per satu stand-stand di sana. Memilih dan membangkitkan nafsu untuk tepat memilih makanan, minuman dan jajan untuk berbuka puasa nanti. Ah, tapi nafsuku sudah goyah sejak pertama kali kulihat es oyen dan es teler itu memenuhi gelas plastik yang kemringet itu.

Mungkin jika memilih pasangan hidup dirasa begitu peliknya, sungguh itu tak ada apa-apanya dibanding memilih satu macam makanan di antara ratusan lapak di sana. Mulai dari makanan berat macam nasi bakar dengan ayam bumbu rujak, nasi kuning dengan bulir-bulir nasi dengan bawang goreng menari di atasnya yang kuyakin seratus persen gurih, dan masih banyak lainnya.

Kalau jajanannya jangan ditanya lagi. Malang itu surganya jajanan. Mulai dari jajanan non lokal seperti takoyaki, sosis bakar, kentang spiral, sampai pizza lumer. Jajanan lokal macam kue pasar seperti lupis, ketan, dan getuk, lalu gorengan yang kuning kecoklatan menggemaskan seperti risoles, martabak, tahu mercon juga tak ketinggalan. Dan yang paling populer saat ini adalah jajan sempol yang rasanya seperti cilok tapi berbentuk panjang gemuk-gemuk dan digoreng dengan dibalur telur sebelumnya. Disunduk dengan tusukan sate yang panjangnya tak normal. Dengan harga yang begitu murah, yaitu Rp 500/tusuk.

Setumpuk sempol yang gemol dan menggemaskan
Setumpuk sempol yang gemol dan menggemaskan | © Indah Ciptaning Widi
Mini booth dengan dekorasi yang menarik
Mini booth dengan dekorasi yang menarik | © Indah Ciptaning Widi

Satu lagi, ini yang paling sulit kutuliskan, yakni saat menceritakan berbagai macam minuman yang jual di sana. Rela sudah jika nyatanya minuman-minuman dalam gelas itu penampilannya lebih menggoda daripada aku yang sudah menyisir rambut dan bergincu ini. Jus buah yang warna-warni, es manado dengan perpaduan sirsak dan susu kental manis yang maha asam segar itu, es oyen serta es teler yang membuatku istighfar berkali-kali.

Tak cukup butuh iman yang tebal jika Anda memutuskan untuk ngabuburit di tempat semacam ini. Bukan hanya karena makanannya yang berusaha membobol pertahanan lalu Anda mokel lebih awal. Namun karena para penjual di Kampung Ramadan ini merupakan mahasiswa-mahasiswi yang tetap cantik, tampan dan modis walaupun berdiri di belakang kompor, membawa baki berisi minuman dan berteriak-teriak gemas, merayu lucu supaya dagangannya dibeli.

Indah Ciptaning Widi

Menulis, melamun dan mencinta dalam sekali waktu.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405